
Sita memasang sabuk pengamannya dan tersenyum ke arah prastyo “ terima kasih ya om tyo” ucap sita yang baru mengetahui siapa nama pria di sampingnya
“hmmm” prastyo melajukan mobilnya perlahan membelah jalanan
“sekali lagi terima kasih banyak ya om” ucap sita
“hmmm, tak masalah kebetulan tujuanmu berada di jalan yang aku lewati jadi tak masalah” balas prastyo
“boleh sita minta nomor telpon om?” Tanya sita
prastyo menaikkan sebelah alisnya “buat apa?” Tanya prastyo
“aku ingin berterima kasih pada om dengan mentraktir makan setelah sita selesai mengurus pendaftaran kuliah” balas sita
“tak perlu, aku gak perlu balasan hanya untuk hal sepele seperti ini” sahut prastyo
“aku mohon om, boleh ya” pinta sita dengan wajah memelas "sita tak ingin punya hutang budi dengan siapapun" jelas sita
Melihat sita yang memohon prastyo jadi tak tega “baiklah” prastyo menyerahkan ponselnya agar sita bisa mencatat nomor telponnya
Sita langsung mengetik nomor ponselnya agar bisa menghubungi ponselnya agar nomor ponsel prastyo tercatat dalam panggilan di ponselnya “ni om, aku sudah save namaku di situ, dengan nama sita” ucap sita menyerahkan ponsel prastyo
“iya” balas prastyo menerima kembali ponselnya dan meletakkannya di dasboard
Tak sampai 5 menit, prastyo dan sita sudah sampai di depan kampus wiraatmadja “sudah sampai” ucap prastyo
“iya om, terima kasih banyak untuk hari ini, aku akan cepat mentraktir makan om tyo” ucap sita bergegas turun dari mobil
setelah sita turun Prastyo langsung melajukan mobilnya ke tempat tujuan untuk menemui klien yang sudah ada janji dengannya
Sita menoleh ke arah mobil prastyo dan tersenyum simpul “om yang tampan” gumam sita bergegas berlari menuju kampus yang akan ia jadikan tempat menimba ilmu
***
Prastyo berjalan memasuki rumah keluarga mamanya dengan berjalan santai dan membawa berapa bingkisan
“uncle” seru rafa berlari dan langsung memeluk prastyo
“hei, keponakan uncle” prastyo memeluk rafa dan membawa rafa kedalam gendongannya
Rafa melirik bingkisan yang ada di tangan kanan prastyo “apa itu hadiah untuk rafa?” Tanya rafa penuh harap
“tentu saja” balas prastyo menyerahkan bingkisan yang ia bawa pada rafa
“terima kasih uncle” rafa mencium pipi prastyo dan tersenyum
“jangan biasakan memanjakan keponakanmu” ucap dokter ken yang berpapasan dengannya di ruang keluarga
“tak masalah kak, keponakanku kan hanya satu, jadi tak maslah jika aku memanjakannya” balas prastyo mencubit pipi rafa gemas
“tidak papa dong yah, kan mainan rafa yang sudah jarang rafa mainin rafa sumbangin ke panti asuhan, jadi kalau rafa dapat mainan baru, rafa juga bisa kasih mainan untuk anak-anak yang gak punya banyak mainan kaya rafa” seru rafa dengan polos
Prastyo mengusap kepala rafa gemas “pinternya keponakan om ini” ucap prastyo dengan gemas
Prastyo duduk di samping mama Katrina dan mendudukan rafa tepat disebelahnya
“bagaimana pekerjaanmu?” apa lancar?” Tanya ayah Benjamin
“baik yah, semuanya lancar” balas prastyo
“ini mama masakin opor ayam dan sayur kangkung kesukaan kamu” ucap mama katrina menyodorkan masakan khusus untuk anak bungsunya
“iya mah” prastyo mengambil masakan mamanya dan meletakkan di piring untuk di santap
“apa minggu ini kamu ada waktu tyo?” Tanya mama
Katrina berhati-hati
Prastyo menghentikan makannya dan menatap mama katrina tajam “jangan coba-coba menjodohkanku lagi mah” kesal prastyo
“mama hanya…” ucap mama Katrina tak enak hati
“mama hanya khawatir padamu tyo” ucap dokter ken
“aku nyaman dengan keadaanku sekarang, jadi tolong jangan mendikteku selagi aku tak membuat masalah” ucap prastyo pelan namun terkesan tegas
“sudahlah mas, nanti kalau adikmu ingin menikah pasti dia akan menikah, biarkan dia memilih apa yang jadi keinginananya” sahut riska mencoba mendinginkan suasana yang sedikit menegang
“iya benar apa yang di ucapkan riska, biarkan anak bungsu kita menjalani hal yang di inginkannya, kita sebagai keluarga cukup mendukung dan mengingatkan jika anak kita mengambil jalan yang salah” ucap ayah Benjamin
Prastyo tersenyum ke arah Benjamin “terima kasih yah, memang ayah yang paling mengerti aku” sahut prastyo
“apa kau akan menginap nak?” Tanya mama Katrina
“sepertinya tidak bisa mah, nanti laki-laki tua Bangka itu bilang aku anak yang pilih kasih karena menghabiskan banyak waktu dengan kalian ketimbang dengan dirinya” balas prastyo
“ayahmu masih suka bertengkar dengan mamamu?” Tanya dokter ken
Prastyo menatap tajam dokter ken “dia bukan mamaku, aku hanya punya satu mama” seru prastyo
Dokter ken menghela nafas “kenapa kau masih tak mau menganggap dia mamamu, ayahmu kan sudah lama menikah dengan wanita itu? bahkan sebelum kau tahu dia ayah kandungmu” Tanya dokter ken
“menikah lama bukan berarti dia jadi bagian keluargaku. Ayah ben jadi ayahku karena dia yang mengurusku dari aku kecil. Sedangkan wanita tak tahu diri itu hanya berlagak sok manis di depan orang tapi pada kenyataannya dia tetap ular berkepala dua” balas prastyo
“terserah kau saja tyo, yang penting kau masih mau menghormati dan menyayangi ayah kandungmu itu” ucap dokter ken
“sebenarnya aku malas, tapi mau gimana lagi dia tetap ayah kandungku, dan aku anak satu-satunya, jadi ya sudah jalani saja peran anak ini untuknya” balas prastyo
Prastyo menoleh ke arah ayah Benjamin “oh ya yah, boleh tidak aku pinjam hotel yang ada di bandung untuk trip perusahaanku 2 bulan lagi?” Tanya prastyo
“tentu saja boleh, itu kan juga hotelmu” balas ayah Benjamin
“terima kasih yah” balas prastyo
Mendengar bandung rafa langsung merasa tertarik “boleh tidak rafa ikut ke sana?” Tanya rafa semangat
“uncle kamu kerja sayang bukan mau jadi baby siter untukmu” ucap riska
“yakan rafa Cuma pengen ikut ke bandung” ucap rafa mengerucutkan bibirnya
Prastyo mengusap kepala rafa “kamu kan masih sekolah rafa, nanti kalau kamu liburan dan om ada waktu, om akan menemani rafa liburan di bandung” ucap prastyo
“beneran ya om?” tanya rafa tersenyum
“iya” balas prastyo
Acara makan malam pun selesai dan prastyo pamit pulang “ mah, yah aku pulang ya, tyo mau mastiin daddy sudah minum obat belum” ucap prastyo
“iya sayang” mama Katrina memeluk prastyo begitupun ayah Benjamin
Keluarga besar dokter ken mengantar kepulangan prastyo sampai teras sambil melambaikan tangannya kepada mobil prastyo yang sudah makin menjauh
“adik kamu sudah banyak perubahan ya” ucap mama Katrina melihat mobil prastyo yang makin menjauh
Dokter ken merangkul bahu mama Katrina “tentu saja mah, dengan dukungan kita sebagai keluarganya dengan setulus hati pasti membawa perubahan untuk adikku ke arah yang lebih baik. Dan lihat saja seberapa besar
perubahannya selama 7 tahun ini, sedikit demi sedikit dia jadi pribadi yang lebih baik dan penyayang” ucap dokter ken
riska yang mendengar obrolan suami dan mertuanya menggandeng lengan dokter ken “iya mas, aku beryukur adikmu sudah banyak perubahan” sahut riska
Dokter ken menoleh ke arah riska “iya syukur ya sayang” balas dokter ken
rafa menggoyang lengan riska “mah, rafa mau tidur sama oma dan opa malam ini ya” ucap rafa
“tumben sekali kamu tidur sama oma dan opamu, biasanya kamu bilang gak bisa tidur kalau gak di temani mama” kekeh dokter ken
“rafa pengen segera punya adik yah, kata uncle tyo rafa harus belajar tidur sendiri jangan tidur
sama mama terus. Tapi kan rafa gak bisa tidur sendirian, tapi sewaktu rafa Tanya kalau tidur sama oma, bisa tidak rafa punya adik katanya bisa” balas rafa dengan polosnya