
***
Keluarga mahardika datang beriringan menggunakan 10 mobil, 3 mobil berisi anggota keluarga dan 7 mobil lainnya berisi barang hantaran pernikahan.
mami aira sampai tak tidur mempersiapkan ini semua dalam sekejap, sehingga saat jam 10 pagi mereka akan berangkat semua hantaran sudah tertata rapih di rumah dan siap di bawa ke kediaman betharian ghani
mungkin keluarga syakia tak mengharapkan ini semua, cukup askar datang dan melamar syakia tapi tentu saja keluarga mahardika tetap menjaga harga diri keluarga betharia ghani
Askar yang memakai baju batik berwarna cokelat, senada dengan yang di pakai keluarganya dan tak lupa memakai masker dan kacamata untuk menutupi luka lebamnya yang cukup terlihat parah
“ayo askar” ajak mami aira menggandeng tangan askar. askar berjalan di tengah dirinya dan sang suami papi dylan
“iya mih” askar berjalan dengan membawa sebuket mawar putih masuk ke dalam kediaman syakila
Di sana syakia dan keluarga besar termasuk keluarga adik papi frans, arka dan kedua orang tuanya tengah menunggu kedatangan askar di ruang tamu
“frans” sapa dylan memeluk frans
Papi frans balas memeluk papi dylan “ayo masuk” ajak papi frans ramah
Semua keluarga duduk di ruang tamu keluarga syakia yang terbilang cukup besar, tak kalah dengan milik keluarga mahardika
papi dylan menghadap papi frans “aku sudah dengar ceritanya dari viko semalam “ ucap papi dylan menatap dengan wajah malu pada papi frans
Papi frans melirik tajam askar “kalau aku gak ingat dia itu anakmu, sudah aku tebas lehernya” ucap papi frans yang memang terkenal cukup keras dan tak mengenal takut ataupun belas kasih
“terima kasih masih memandangku frans, aku benar-benar tak menyangka anakku akan senekat itu” ucap papi dylan tak mengira anaknya akan berbuat di luar batas
“itu juga gak akan terjadi kalau anakku gak tergila-gila pada anakmu itu” papi frans melirik tajam syakia putri satu-satunya yang amat di sayangi papi frans
“baiklah, untuk menghindari hal-hal yang tak di inginkan nantinya, jadi kita adakan segera pernikahan anak kita, kebetulan kami sedang mempersiapkan acara pernikahan viko dan ara, tapi berhubung mereka mau
mengalah jadi kita tak perlu pusing lagi cari gedung dan perintilannya” ucap papi dylan
Papi frans melirik ara “maafkan anak saya ya ara, sudah menyita acara pernikahan yang sudah kau siapkan” ucap papi frans merasa bersalah merusak acara pernikahan orang lain untuk menggelar acara pernikahan anaknya
“tidak papa om, kebetulan aku juga sedang hamil, jadi biar pestanya menunggu saya melahirkan saja” balas ara
“maaf ya kak ara” ucap syakia ikut merasa bersalah
“iya syakia” balas ara
“maaf ya syakia jika mungkin acara pernikahan kalian tidak terlalu sesuai harapan karena memang ini kan cukup dadakan” ucap mami aira
“iya tante” balas syakia
“untuk gaun pernikahan kamu, nanti aku yang akan mengurusnya, aku sudah mengirim beberapa desain gaun ke email kamu, kalau ada permintaan, bilang saja nanti akan aku sesuaikan, tapi tak bisa terlalu banyak
karena waktunya kan mepet 2 minggu lagi” ucap eila
“aku gak banyak permintaan kok eila, aku sudah lihat beberapa tadi, nanti akan aku kirimkan yang mana yang aku mau” balas syakia
“sebenernya aku senang berbesan denganmu dylan, tapi karena posisinya seperti ini, tetap saja aku kesal” ucap papi frans melirik askar dan syakia bergantian
“aku pun sama denganmu” balas papi dylan menatap tajam puteranya
***
Acara sakral antara syakia dan askar pun di gelar dengan cukup meriah dan di hadiri oleh kolega bisnis keluarga syakia maupun askar, banyak teman askar dan syakia datang mengucapkan selamat pada pasangan baru tak lupa mereka pun mencibir askar yang akhirnya menikah juga dengan syakia padahal dulu askar bilang gak akan pernah jatuh cinta dengan syakia tapi tetap saja akhirnya mereka menikah
Para undangan mulai meninggalkan gedung pesta, sebagian keluarga yang sudah lelah memilih istirahat di kamar hotel yang sudah di pesan. Kebetulan aula pernikahan ada dalam hotel milik keluarga Mahardika
“kau lelah?” Tanya askar menarik kaki syakia dan memijitnya
“gak masalah, toh kita sudah menikah” balas askar tak merasa malu memijit kaki syakia
“askar, apa kamu menyesal kita menikah?” Tanya syakila
“kenapa kamu bilang begitu?” Tanya askar
“tentu kamu dan aku tahu, walaupun mereka semua tak tahu kalau gak terjadi apa-apa dengan kita saat itu tapi kita malah menikah karena di kira melakukannya ” balas syakia
“kata siapa kita gak ngapa-ngapain ? Kan aku sudah banyak kasih banyak tanda di leher kamu itu artinya kamu miliku” balas askar terkekeh
“ayolah askar, kita bukan anak kecil lagi kamu tentu tahu maksudku” sahut syakia
“mereka sendiri yang menganggapku menyentuhmu dan memaksa kita cepat menikah” askar menatap syakia lekat “tapi menikah denganmu sudah masuk rencanaku sejak aku bilang kalau aku milikmu” ucap askar dengan tersenyum "jadi aku sama sekali tidak menyesal menikah denganmu" tambah askar
Syakila memukul lengan askar gemas “kau bisa saja” kekeh syakia
“nanti malam kita coba malam pertama beneran kita ya, biarin saja mereka ngira kita sudah itu. padahal baru nanti malam aku unboxing kamu” kekeh askar
“oh, jadi kalian bohongin kita semua?” Tanya seseorang yang tentu mereka kenali suara siapa itu
" dengerin kita mih” syakia dan askar menoleh ke samping, tapi mata mereka langsung terbelalak lebar kala melihat maminya tak sendiri, semua keluarganya ada di sana dengan tatapan menahan amarah
Syakia dan askar langsung berdiri dan menunduk takut
“kurang ajar ya kalian! bikin kami jantungan dan kesal setengah mati, nyiapin acara pernikahan ini tergesa-gesa gara-gara takut ada bayi sebalum pernikahan, dan ternyata apa? kalian menipu kami hah?” kesal papi frans meluapkan emosinya
“papi gak nyangka kamu ngerjain kita?” sahut papi dylan
“maaf pih” ucap askar dan syakila bersamaan
"kami beneran gak ada niat bohongin kalian, saat papi frans lihat tanda merah di leher syakia dan mengira itu terjadi, asakr gak sanggup bantah" askar mendongak dan menatap keluaraganya "dan pasti kalian gak akan percaya kalau kita gak ngapa-ngapain" tambah askar
“huuuuuhhh” semua orang mengusap dada lega
Syakia dan askar langsung menatap tak percaya ke arah keluarganya
“kalian gak marah?” Tanya askar
“gak perlu lagian sudah kejadian juga, kami malah lega ternyata kalian gak gitu sebelum menikah, jadi hati kami tenang” balas mami aira
askar melirik viko “ maafin kami ya kak, padahal kami sudah rebut persiapan acara resepsi pernikahan kakak” ucap askar
“gak papa, lagian semua orang juga sudah tahu siapa nyonya viko mahardika tanpa harus menggelar acara pernikahan” viko menoleh ke arah ara “tapi kakak akan tetap memberikan acara yang megah untuk ara dan menyambut kelahiran anak kami nanti” balas viko
“tapi lain kali jangan seperti ini lagi, untung kami semua tidak ada yang punya penyakit jantung, gimana kalau dari kami ada yang punya kan kau yang akan menyesal nanti” ucap mami Gisela memperingati askar dan syakia
“iya mih” sahut askar dan syakia
Semua keluarga kembali ke kamar mereka masing-masing, awalnya mereka kembali karena ingin mengecek apakah masih ada yang tertinggal di aula pesta pernikahan tahunya malah dapat kejutan dari pasangan baru itu
Eila menatap tajam saudara kembarnya “ bisa ya kalian nikah pakai trik gitu?” Tanya eila
"kakak aja nikahnya pakai trik, ya walaupun trik yang aku pakai lebih cepat ketimbang kakak yang harus nunggu sebulan lebih baru bisa nikah” balas askar terkekeh
“semoga aku gak gitu” ucap eila meninggalkan
pasangan yang baru menikah itu
Askar melirik syakia “ayo masuk kamar” ajak askar menarik tangan syakila menuju kamar yang sudah di pesannya