
Hari berganti hari, bulan berganti bulan tak terasa zifana sudah memasuki bangku SMA dan semua orang masih merahasiakan bagaimana keadaan ibunya pada zifana serta kematian ayahnya yang masih belum di ketahui zifana
"tin tin tin" terdengar suara klakson berbunyi di depan sebuah gerbang rumah besar bergaya modern
"iya sih" seorang wanita memakai pakaian putih abu-abu berlari menghampiri orang yang terus membunyikan klakson itu
"ceklek" wanita itu membuka pintu mobil dan langsung duduk di kursi depan, samping kursi kemudi
"lama amat" pria yang menunggu wanita tersebut langsung melakukan mobilnya membelah jalanan
"namanya wanita kak, pasti lama lah kan ritualnya banyak" balas zifana mulai mengeluarkan ponsel dari tasnya
"kamu nanti pulang jam berapa? " tanya rafa melajukan mobilnya
"jam 3 an kayanya kak, zifa ada eskul dulu soalnya" balas zifana
rafa melirik sekilas zifana "kakak besok mau ada pertemuan di Jerman, mungkin 2 minggu kakak di sana. kamu di antar sopir selama kakak pergi ya" ucap raga
zifana melirik tajam Rafa "kakak pergi dengan wanita itu? " tanya zifana dengan nada penuh selidik
"zifa... " lirih Rafa menatap zifa sekilas
zifana tentu tahu arti tatapan mata Rafa, membuat ia beralih pada ponselnya saja, sembari menahan sesak di dadanya
"pergi saja kalau mau pergi, gak usah atur sopir, toh aku sudah punya SIM, atau temanku bisa menjemput ku sekolah" ketus zifana memainkan ponselnya
(di sini 16 tahun sudah dapat SIM hanya dalam cerita saja, maklum kan orang kaya, hehehehe)
"kamu mau pergi dengan pria itu? " tebak Rafa pada pria yang selama ini mendekati zifana tapi sellau tertahan karena rafa yang selalu mengantar jemput zifana kemanapun
"memangnya kenapa? " balas zifana tetap konsen dengan ponselnya
"ckiitttt" Rafa mengerem mendadak mobilnya
"kakak! " teriak zifana yang terkejut karena Rafa menghentikan mobilnya dengan mendadak
"sudah kakak peringatkan jangan dekat dengan pria sembarangan dan jangan pacaran dulu" ucap Rafa dengan tatapan mengintimidasi
"kenapa? " zifa menatap tajam Rafa "kakak saja bisa jalan dengan wanita mana pun yang kakak mau kenapa aku gak! " kesal zifana
"kakak sudah di usia akan menikah zifa, kakak juga butuh pasangan untuk menjalani masa tua" balas Rafa merendahkan nada suaranya
"aku sudah di usia 16 tahun kak, sudah bisa untuk berpacaran. aku juga butuh seseorang yang peduli denganku" balas zifana
"kakak peduli padamu, dan banyak yang peduli padamu" balas Rafa
mata zifana mulai mengembun "kakak gak peduli, orang tuaku juga gak peduli padaku" zifana memutuskan turun dari mobil dan berjalan kaki ke sekolahnya
Rafa buru-buru turun dari mobil mengejar zifana "zifa! " panggil Rafa
"aku bisa jalan ke sekolah sendiri" balas zifa terus melangkahkan kakinya menuju sekolahnya yang kebetulan sudah tak begitu jauh dari tempat rafa berhenti tadi
"kalian pikir aku anak bodoh yang mau kalian tipu terus" gumam zifana dengan kesal dengan keadaanya
mungkin di mata orang-orang zifana tak tahu perihal kematian ayahnya karena dirinya yang diam saja dan tak pernah bertanya padahal alasan zifana tak bertanya karena memang dirinya yang tahu perihal ayahnya yang sudah tiada, dan ibunya yang sakit
kedua orang tuanya meninggalkan harta yang tak sedikit dan juga perusahaan yang cukup besar. bahkan perusahaan itu tetap berjalan dengan stabil walaupun tak ada pimpinannya. sedangkan zifana yang jadi penerus kerajaan bisnis peninggalan orang tuanya, bukan perkara sulit mencari informasi perihal orang tuanya yang tak pulang selama hampir 7 tahun
*
sepulang sekolah zifana memilih pulang ke rumah mami aira dan papy dylan agar bisa bermain dengan raditya
"tante" panggil zifana saat memasuki rumah keluarga mahardika itu
"Hai zifa" sapa mami aira memeluk zifana
"iya tante, bosen di rumah sendirian mau nginep sini saja biar bisa main sama raditya" balas zifana
"ya hari ini raditya nginep di rumah oma dan opanya di sana. kamu gak tahu dia kesana? mereka dari semalam di sana" balas mami aira
mami aira pikir zifana tahu, karena biasanya kan zifana makan malam di sana. walaupun sejak usia 15 tahun zifana memilih untuk tinggal di rumahnya sendiri, tapi masih dalam pengawasan mami aira dan mommy riska tentunya
"zifa gak tahu tan" zifana menggelengkan kepalanya lemas karena teman yang ingin di ajaknya bermain tak ada
mami aira meraih tangan zifana untuk duduk di sofa ruang keluarga
"kamu ada masalah? " tanya mami aira melihat raut tak mengenakkan dari wajah zifana
zifana merebahkan kepalanya di pangkuan mami aira "hanya bosan saja tan, mau main sama temen tapi kak Rafa kasih bodyguard sebanyak itu, jadi malas lah mau pergi-pergi" balas zifana dengan jujur
mami aira mengernyitkan dahinya melirik zifana "kamu tahu ada yang jagain kamu dari jauh? " tanya mami aira
"tentu saja tahu, zifa gak bodoh kali tante, apa yang kalian sembunyikan dari zifana selama bertahun-tahun tentu zifana tahu" balas zidana dengan muka datarnya
"kamu tahu? " mami aira tak menyangka jika zifana tahu apa yang mereka sembunyikan selama ini
"dari kapan kamu tahu tentang orang tua kamu? " tanya mami aira lagi
"mungkin lima tahun lalu" balas zifana
mami aira mengusap kepala zifana "kenapa kamu gak bilang selama ini?" tanya mami aira
"bukankah selama ini kalian yang tak ingin mengajakku bicara" balas zifana
"bukan gitu zifa, kami hanya terlalu khawatir dengan keadaanmu yang masih di usia anak-anak jadi kami putuskan untuk merahasikan terlebih dahulu" ucap mami aira
zifa duduk menghadap mami aira "kalau tante merasa bersalah, tandatangan ini" zifana memberikan sebuah map pada mami aira
mami aira menerima map yang di berikan zifana "apa ini" mami aira membaca setiap detil tulisan yanga ada di sana
mami aira memicingkan matanya lebar "kamu ingin pindah sekolah?" tanya mami aira
"aku hanya ingin sendiri tante, jadi tandatangani ini sebagai waliku" pinta zifana lirih
ya mami aira lah, yang berperan sebagai wali zifana sejak dulu karena ibu zifana yang meminta itu, zaskia paling mempercayai mammy aira yang sudah di anggap orang tua sejak bersahabat dengan viko
"tapi bentar lagi rafa menikah zifa, kita tunggu sampai rafa menikah ya" rayu mami aira yang sempat mendengar kabar rafa akan menikah
"tidak tante, aku mau pindah besok" balas zifana dengan yakin
dengan terpaksa mami aira yang di jadikan sebagai wali zifana selama ibu zifa sakit menandatangani surat kepindahan sekolah zifana
"terima kasih tan" ucap zifa menerima map yang sudah berisi tandatangan mami aira
"kamu sengaja memilih waktu kepergian rafa ke luar negeri?" tanya mami aira
"iya" balas zifana menyimpan map nya dalam tas
"dengan dia pergi, dia malah akan makin memperketat penjagaan kamu, dan jika rafa tahu pasti akan melarang kamu pindah sekolah " balas mami aira
"itu biar jadi urusan zifa, yang penting tante janji gak akan kasih tahu aku pindah sekolah di mana" balas zifana
"apa harus seperti ini?" tanya mami aira tak mengerti kenapa juga zifana menghindari rafa. apa maslahnya? tapi mami aira takut untuk bertanya, takut zifana akan enkat nanti jika ia memaksanya untuk bicara
"aku hanya ingin sendiri tan" ucap zifana dengan tatapan sendunya
mami aire memluk zifana mengusap punggung zifana dengan gerakan pelan