
***
Setelah anak viko dan ara di rasa cukup sehat, mereka langsung di boyong pulang ke rumah baru viko dan ara sendiri.
Hal ini memang sudah di sepakati semua keluarga bahwa viko dan ara akan menempati rumah mereka setelah ara melahirkan.
ara di bantu viko untuk duduk di ranjang bersandar kan sandaran ranjang
mami aira menggendong baby Gilang yang masih tertidur pulas “kamu sudah siapkan nama untuk anak kamu kan?” Tanya mami aira melirik ke arah viko putera sulungnya
viko mengangguk “sudah dong
mih, namanya Gilang Pallavi Mahardika” balas viko memberitahukan nama yang sudah ia pilih untuk anaknya
“wah ternyata kamu pakai nama keluarga kita dan keluarga ayah kamu?” Tanya papi dylan
“iya pih” balas viko
viko menatap lekat papi dylan "gak masalahkan pih kalau viko kasih tambahan nama keluarga ara? " tanya viko
"tentu saja tak masalah nak, kan Gilang juga anak ara, jadi kalau nama keluarganya di ikutkan itu tak jadi masalah" balas papi dylan
mami aira menghampiri ara dan duduk di sebelahnya “oh ya ara, kamu yakin mau urus sendiri gilang tanpa bantuan baby siter?” Tanya mami aira memastikan
“iya mih, ara pengen bener-bener terjun besarin gilang sendiri” balas ara yang memang ingin tumbuh kembang anaknya bisa terpantau langsung olehnya tanpa harus mengandalkan orang lain untuk membesarkan anaknya
"terserah kamu saja gimana baiknya ara, yang penting kalau kamu capek urus Gilang nanti bilang saja sama viko untuk cariin baby sitter atau kalau kamu gak mau Gilang di pegang orang asing, kamu bisa titipkan krle mami" ucap mami aira
"iya mih, nanti kalau ara butuh bantuan mami, pasti ara akan bilang ke mami" balas ara
“oh ya ara, ibu kamu bener-bener siapin acara selamatan anak kamu dengan sungguh-sungguh loh” ucap mami aira
Ara menatap kesal mami aira yang jelas ara tahu betul kemana arah tujuan pembicaraan mami aira “ ara gak pengen di rayu buat maafin ayah dan ibu” kesal ara
“jangan gitu sayang, biar gimanapun ralins itu ibu kamu, ibu yang melahirkan kamu. Kamu
tahu sendiri kan perjuangan seorang ibu untuk melahirkan?” mami aira mengingatkan bahwa perjuangan seorang ibu untuk melahirkan taruhannya nyawa jadi jangan pernah membenci ibu yang telah melahirkan kita
ara menghembuskan nafas kasar
" ara gak pernah lupa, kalau ibu adalah orang yang sudah melahirkan ara mih tapi rasa kecewa ara sekarang masih begitu besar sama ibu, karena dia dengan teganya meninggalkan ara dan ayah karena hasutan wanita tua itu" balas ara
mami aira memberikan Gilang pada viko, lalu menghampiri ara dan menggenggam kedua tangan ara
"semua ada sistem kerjanya ara, semua yang baik dan yang buruk ada balasannya.
nenek kamu sudah dapat balasannya dengan hidup di panti jompo karena om kamu yang malas mengurus nenek kamu walaupun perusahaan nenek kamu bisa stabil karena kerja keras om kamu
dan sekarang lihatlah ibumu yang berani melawan nenek kamu dia sekarang mulai bisa mandiri dan ayahmu yang selalu diam menerima keadaan sekarang dia selalu berusaha ada di samping ibu kamu dan menguatkan ibu kamu" jelas mami aira
ara nampak berpikir "iya sih mih ara sudah lihat perubahan mereka selama beberapa hari ini" balas ara
"nah dari itu, maafkan mereka" pinta mami aira
ara mengangguk "iya mih" balas ara
semua keluarga besar bahu membahu membantu gelaran syukuran kelahiran Gilang Pallavi mahardika anak dari viko dan ara yang terbilang cukup ramai di haditi sahabat, kerabat dan para relasi bisnis keluarga mahardika
joff menghampiri viko dan ara yang sedang duduk di atas alas lantai berbulu dimana ada Gilang dalam dekapan ara
viko membalas jabatan tangan joff "Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk hadir" viko melirik samping joff yang terlihat kosong
"kau sendiri saja? " tanya viko
"tidak" joff menoleh kebelakang melirik pada jejeran meja prasmanan "lihat tuh kelakuan istriku" kekeh joff melirik revina yang begitu lahap makan
"syukur deh kalau kak revina suka hidangan yang kami sediakan" sahut ara
"aku juga gak tahu kenapa disini dia bisa makan banyak padahal biasanya dia makan harus aku yang suapin" kekeh joff
"itu berarti Tuhan membuat anak-anak kalian sebagai pengikat hubungan kuat antara kalian" timpal ara
"iya, dan aku sangat bersyukur atas kehadiran mereka" joff menatap lekat viko "walaupun awal hubungan kami di mulai dari sesuatu yang salah" ucap joff
viko menepuk bahu joff "sudah lah jangan mengingat hal itu lagi, toh kita sekarang sudah baik-baik saja" balas viko
"iya" joff pun memutuskan menyusul revina dan anaknya yang sedang duduk menikmati hidangan yang di siapkan keluarga ara dan viko
*
"aku kenapa ya" eila bercermin di depan cermin wastafel sembari mengusap mulutnya yang basah karena baru di basuh setelah ia memuntahkan semua isi makanannya
mata eila membelalak lebar kala ia mengingat sesuatu " kapan terakhir aku datang bulan" gumam eila
eila meraih ponsel yang ada dalam tas genggamnya dan memeriksa siklus bulanannya yang tercatat dalam ponsel pintarnya " ah bulan kemarin aku tidak datang bulan, padahal bulan ini aku sudah mendekati tanggalnya tapi belum juga" gumam eila
eila menggigit kuku jarinya karena cemas "gimana ini" batin eila berjalan bolak-balik di depan cermin
"tok tok tok" ada yang mengetuk pintu kamar mandi
"eila kau kenapa? apa kau sakit perut? lama sekali di dalam? " tanya mami aira
"bentar lagi aku keluar mih, tadi mules" balas eila sedikit berterial dari dalam
eila membasuh tangannya dan menarik nafas dalam agar terlihat biasa saja
"ceklek" eila membuka pintu yang sudah di sambut mami aira
" kamu kenapa sayang? " tanya mami aira yang nampak cemas
"sepertinya aku terlalu banyak makan mih sampai tadi aku mules" balas eila
mami aira merangkul bahu eila "makanya jangan terlalu rakus makan" mami aira mengajak eila berjalan menuju tempat acara kembali
"iya mih, maaf. abis makanan yang di pilihin tante raina enak-enak apalagi kue buatan aunty sita, enak banget" sahut eila
acara syukuran puh berjalan dengan lancar, semua keluarga besar berbaur menjadi satu, sedangkan baby Gilang hanya tertidur pulas di atas pangkuan viko seolah suara orang yang ada di sana hanya sebuah angin segar yang membuat tidurnya makin pulas tanpa terganggu sedikit pun
eila menghampiri daren " kita percepat pernikahan kita ya" pinta eila menyandarkan kepalanya di bahu daren
"tentu saja sayang" balas daren mengusap kepala eila lembut
Pesta
kelahiran cucu pertama keluarga mahardika