
***
“dokter aku gak bawa baju ganti” ucap riska mengguncang lengan suaminya yang menggandeng tangannya
“ada pakaianmu di kamar” balas dokter ken
Riska menautkan kedua alisnya “perasaan aku gak pernah nginep sini deh kenapa ada pakaianku disini?” Tanya riska polos
Dokter ken tersenyum “aku membelinya kemarin agar memudahkanmu saat berada di sini, jika kau tak suka kau bisa menggantinya dengan pakaian yang kau inginkan” dokter ken mendudukan riska di tepi ranjang “ dan ini kartu untukmu” dokter ken memberikan black card miliknya pada riska
Riska melirik kartu pemberian dokter ken “untuk apa ini? Aku punya kartu sendiri kok” balas riska menolak halus kartu pemberian dokter ken
“kau sekarang istriku jadi tanggung jawabku memberikan nafkah untukmu, beli keperluanmu dengan ini dan kau bisa memakai kartumu lain kali” balas dokter ken tetap memaksa riska memakai kartu miliknya
Riska mengamati black card milik dokter ken “kok dokter punya kartu ini? Bukannya om bilang gak pakai uang ayah sama sekali?” Tanya riska penasaran dengan dokter ken yang memiliki black card
“tidak memakai uang ayah bukan berarti aku tak mampu sayang” balas dokter ken menyelipkan anak rambut riska kebelakang telinga
“oh” riska menyimpan kartu pemberian dokter ken dalam tas kecilnya
“oh ya, karena kita sudah menikah bisakah jangan memanggilku dokter, aku ini suamimu sekarang” ucap dokter ken dengan mengerucutkan bibirnya
Riska gemas dengan dokter ken dan mencubit mulut dokter ken yang sedang maju beberapa centi itu “panggilan apa? Aku sudah terlalu biasa memanggilmu dengan sebutan itu selama 20 tahun lebih" balas riska
tak ingin mengganti panggilannya, lebih tepatnya tak terbiasa
“terserah lah, tapi jangan dengan dokter lagi, walaupun aku masih doktermu sekarang tapi, ini berbeda” balas dokter ken
Riska mengalungkan tangannya ke leher dokter ken “maunya panggilan apa?” Tanya riska dengan nada manja
“emmm sayang mungkin” balas dokter ken
“ah, malas itu sudah biasa” balas riska merasa panggilan sayang terlalu biasa
“daddy” ucap dokter ken
“males, nanti kau terlihat tua” balas riska mencubit pipi dokter ken
“aku kan memang sudah tua” balas dokter ken mengerucutkan bibirnya
“cieeee, yang sadar diri kalau sudah tua” ledek riska
“aku memang sudah tua riska dan di usiaku yang setua ini aku baru akan memiliki anak dan itu gara-gara kamu yang gak mau punya anak denganku dari dulu” kesal dokter ken
Riska memeluk dokter ken “sudahlah, walaupun kita telat memiliki anak, bukankah aku akan segera memberikan anak padamu” ucap riska
Dokter ken balas memeluk Riska “iya benar, dan aku sangat berterima kasih padamu” ucap dokter ken mengusap kepala bagian belakang riska lembut
“terima kasih mas, terima kasih selalu ada saat aku membutuhkan seseorang” ucap riska memilih memanggil dokter ken dengan panggilan mas
Dokter ken menyunggingkan senyumnya “sama-sama istriku sayang , mas juga berterima kasih karena hadir dalam hidupku” balas dokter ken
***
Dokter ken dan riska turun ke lantai bawah untuk makan malam bersama keluarganya
“deg” jantung riska berdegup dengan kencang saat ada punggung yang cukup familiar duduk di antara ayah dan mama mertuanya
Mata mama terlihat sayu dan menggeleng kearah riska dan dokter ken seolah meminta riska dan dokter ken tak datang “kita makan di dalam kamar saja ya” pinta dokter ken mengajak riska kembali ke kamar
“tak perlu mas, kita hadapi saja yang perlu di hadapi” riska mengalungkan tangannya ke lengan dokter ken menuju meja makan
Dokter ken menarik kursi “duduk sayang” dokter ken mempersilahkan riska duduk
“terima kasih mas” balas riska duduk di kursi yang di tarik dokter ken
Dokter ken duduk di sebelah riska bersebelahan dengan pria yang kebetulan hadir di rumah orang tuanya tanpa pemberitahuan sama sekali
“jadi sekarang kalian tinggal di sini?” Tanya prastyo tersenyum kecut
“kenapa memangnya? Toh ini rumah orang tuaku” balas dokter ken datar
“kalau begitu aku juga akan tinggal disini” balas prastyo datar
dokter ken menoleh ke arah prastyo memberikan tatapan tajam pada prastyo “siapa yang mengizinkanmu tinggal disini” bentak dokter Ken kesal dengan penuturan prastyo
“memangnya kenapa? Toh ini juga rumah mamahku juga” balas prastyo pongah
“sayangnya ini bukan rumah mama lagi” sela mama katrina
Ayah Benjamin menghela nafas kasar “rumah ini sudah ayah berikan untuk riska sebagai hadiah pernikahan dan sudah atas namanya, jadi dia yang paling berhak atas rumah ini” balas ayah Benjamin
“waaah hadiah pernikahan rupanya” gumam prastyo menyendokan makanan ke mulutnya dengan santai tapi sorot matanya menampakan kekecewaan
“apa kakak ipar masih membenciku?” Tanya prastyo tetap mengunyah makanannya tanpa menoleh kearah Riska
“menurutmu?” riska balik bertanya
Riska mengambilkan makanan untuk dokter ken lengkap dengan lauk pauknya “nih mas, maaf gak bisa masakin kamu hari ini, besok aku akan menggantinya dengan memasakan apa yang kamu sukai” ucap riska menyerahkan piring berisi makanan pada dokter ken
“terima kasih sayang” balas dokter ken tersenyum
Prastyo melirik tak suka keaarh dokter ken yang tengah dilayani makan oleh Riska
Riska kembali mengambil makan untuk dirinya “yuk mah, yah makan” ajak riska yang di balas anggukan oleh ayah dan mama mertuanya
Prastyo tersenyum kecut kearah mama Katrina dan ayah Benjamin “kalian bahagia sekali akan punya cucu” ucap prastyo
Ayah Benjamin menoleh kearah prastyo “tentu saja kami bahagia, dan kami akan tambah bahagia jika kau juga memberikan kami cucu” balas ayah Benjamin
“aku akan memberikan cucu untuk kalian setelah riska lahiran, karena aku hanya ingin punya anak dengannya. Gak mungkin kan dia bisa punya anak dariku jika sedang hamil anak kakakku” balas prastyo tak ada rasa
bersalah sama sekali dengan ucapannya
“tyo!” bentak dokter ken
“apa?” Tanya prastyo lirih
“dia istriku, kakak iparmu! Jadi jangan melewati batasanmu!” bentak dokter ken penuh amarah pada adiknya itu
“dia milikku sebelumnya, dan kau merebutnya dariku jadi aku pasti akan mengambilnya kembali” balas prastyo penuh penekanan
Dokter ken mencengkeeram kerah prastyo “aku pasti akan membunuhmu jika kau berani menyentuh istriku walaupun hanya seujung kukunya saja, aku tak akan memperdulikan kau yang adikku, dan aku tak akan
memperdulikan jika ayah dan mamah memohon ampun untukmu seperti biasanya” ucap dokter ken penuh dengan nada intimidasi
Riska hanya duduk terdiam dan melanjutkan makannya dalam diam menanggapi pertengkaran kakak adik itu
“kau menjadikan dia seorang istri hanya karena ada bayi itu tapi bukan berarti dia milikmu kak, dia wanitaku dan kau harusnya tahu dia satu-satunya wanita di hidupku!” teriak prastyo
Dokter ken makin mencengkeram kuat kerah prastyo “mungkin dia satu-satunya wanita di hidupmu, tapi kau punya beribu pria di dekatmu, bahkan kakaknya adalah kekasihmu selama 17 tahun, jangan lupakan itu!” teriak dokter ken
Prastyo tak mampu mengelak ucapan kakakknya karena memang benar prastyo dan Jonas sudah menjalin hubungan semenjak 17 tahun lalu, semenjak mereka duduk si bangku SMA
“tapi dia tetap milikku kak, aku yang pertama untuknya, jangan lupakan itu!” balas prastyo mengingatkan bahwa dirinya yang menyentuh Riska pertama kali
Riska menyudahi makannya dan beranjak dari duduknya “aku bukan milik siapapun, terlepas dari kejadian dulu antara kita” riska menghampiri prestyo “sekarang aku adalah kakak iparmu jadi hormati itu” ucap riska melangkah menjauh
riska menghentikan langkahnya tanpa berbalik “jangan lupa kalau kau dulu memaksaku dengan kasar,
bukan karena kita sama-sama menginginkannya. Yang ada aku jijik pernah bersentuhan denganmu” tambah riska penuh penekanan di bagian akhir
Riska menoleh kearah mama Katrina dan ayah Benjamin “maaf semuanya, aku sudah selesai makan, dan aku lelah sekali” pamit riska
Melihat kepergian riska, dokter ken langsung membogem pipi adiknya itu dengan kasar “kenapa kau tak mau berhenti hah!” teriak dokter ken
“aku sudah bilang dia milikku, dan tetap akan jadi milikku” ucap prastyo tak mau mengalah sama sekali
“aku gak main-main tyo, aku sudah sampai pada batasanku. Dulu mungkin aku diam karena memandang orang tua kita tapi jika kau mengusik istriku aku pasti akan menghancurkanmu” teriak dokter ken menunjuk ke arah prastyo
Prastyo terkekeh “bagaimana cara kau menghentikanku?” Tanya prastyo
Dokter ken menghampiri prastyo mengarahkan kakinya ke tubuh bagian bawah prastyo “kita bisa mulai dari sini” ucap dokter ken dengan seringai liciknya
“apa-apaan kakak!” teriak prestyo mulai ketakutan dengan arah kaki kakakknya
“aku gak main-main tyo, aku mungkin tak sanggup membunuhmu karena kau adikku tapi bukan berarti aku tak sanggup menyiksamu, dan salah satunya dengan ini” dokter ken menginjak keras batang milik prastyo
membuat prastyo berteriak kesakitan
“ken” seru mama Katrina tak tega dengan prastyo yang merintih kesakitan
Dokter ken tetap menginjak milik prastyo “mama coba bujuk anak mama satu ini, seperti mama yang ingin melindungi anak mama aku juga pasti akan berusaha mati-matian melindungi anakku dan juga istriku” dokter ken menggeser kakkinya beranjak ke dalam kamar menuju kamarnya yang berada di lantai atas
Mama katrina mendekati prastyo mencoba menyentuh anak bungsunya itu “kamu gak papa nak?” Tanya mama katrina
Prastyo langsung menampiknya “jangan berlagak perduli” ujar prastyo beranjak, berjalan meninggalkan rumah keluarga arsello dengan menahan selangkangannya yang cukup sakit akibat perbuatan dokter ken