
Prastyo mulai menjabat sebagai
CEO perusahaan keluarga Arsello menggantikan ayah Benjamin yang kini benar-benar pensiun, sedangkan sang kakak dokter ken menjabat sebagai komisaris
untuk tetap menjaga sang adik yang baru mengampuh jabatan baru, ya walaupun dia
sudah menjadi CEO semenjak dulu tapi dulu ia hanya mengelola perusahaan milik daddy nya dan sekarang dia mengelola perusahaan keluarga ayah Benjamin yang tentu jauh lebih besar dari milik Nicole jefri
Saat jam makan siang, tak lupa
prastyo menghubungi pujaan hatinya “sayang”sapa prastyo melambaikan tangannya saat panggilannya sudah tersambung
“halo juga sayang”sapa sita
“makan apa?” Tanya prastyo yang
melihat ada piring di hadapan kekasihnya
“makan spageti tadi ingin buat”
balas sita
“aku senang sekarang kau makan
tepat waktu, tubuhmu sudah tak terlalu kurus” balas prastyo melihat tubuh sita yang sudah tidak terlalu kurus
“om tahu saja kalau berat badanll
sita naik, bahkan naik terus, sita sempat takut jadi gendut” ucap sita mencebikkan bibirnya
“walaupun kau gendut, aku tetap
mencintaimu”sahut prastyo tak mempermasalahkan bobot tubuh sita
“gombal” dengus sita
“ih kok gombal, om beneran cinta
kamu apa adanya tahu” kekeh prastyo
“om sudah makan belum?” Tanya
sita
“ah asistenku sedang membelikan ku bubur ayam, perutku agak kurang nyaman jadi minta di belikan bubur untuk makan siang” balas prastyo
“ih om gak boleh telat makan loh,
nanti kalau om sakit sita mogok makan” ancam sita yang tak ingin prastyo sakit
Prastyo tersenyum “iya sayang,
aku akan jaga kesehatanku dengan baik” balas prastyo
“oh ya sayang, perusahaan kakekmu kan akan berulang tahun, apa kau datang?” Tanya prastyo yang mendapat undangan pesta ulang tahun perusahaan wira Atmadja
“males lah om” balas sita tak ingin hadir di acara pesta perusahaan keluarganya
prastyo mengerutkan keningnya " kenapa bukannya kau penerus
satu-satunya perusahaan wiraatmadja?” Tanya sita
“malas saja” balas sita
“padahal aku fikir bisa melihat
wajahmu walau sebentar tapi nyatanya kau tak datang” ucap prastyo menunduk lesu
“loh om di undang?” Tanya sita
semangat, tak menyangka prastyo akan mendapat undangan dari perusahaan keluarganya
“iya, perusahaan ayah kan ada
kerjasama dengan perusahaan keluargamu jadi otomatis om yang selaku CEO Arsello group di undang” balas prastyo
“ya sudah sita pasti akan datang”
balas sita dengan senyum
Lagi-lagi david dan lina mengintip percakapan putrinya, bukan sengaja sih, cuma saat kedua orang tua ingin menghampiri sita kebetulan putri mereka sedang mengobrol dengan prastyo “apa sebaiknya kita ijinkan saja mereka menikah dad? daddy lihat sendiri bagaimana bahagianya putri kita saat bicara dengan tyo,
mereka benar-benar menuruti permintaan kita untuk tidak bertemu di belakang
kita dad” ucap lina
“entahlah mom, daddy masih ragu”
balas david bingung keputusan apa yang harus di ambil untuk hidup putrinya
***
Keluarga besar mahardika sedang
berkumpul di ruang tamu
“mami” panggil viko
“ada apa sayang?” Tanya aira
“mau minta izin ikut acara kampus
di bandung 1 minggu boleh?” Tanya viko
“minta izin sama papimu ya, mami
gak berani ngasih izin kalau papi kamu gak kasih izin” balas aira mengajarkan kepada anak-anaknya untuk minta persetujuan dylan jika ingin melakukan sesuatu yang penting
Viko berjalan ke rah dylan yang
sedang menonton acara berita di televisi “papi” panggil viko
dylan menoleh ke arah viko “ada apa nak?” Tanya dylan
acara kampus?” Tanya viko
“kapan acaranya dan berapa lama?” Tanya dylan
“bulan depan pap, seminggu di
sana” balas viko
Dylan menautkan kedua alisnya
“acara apa selama itu?” Tanya dylan
“acara klub photography dad, kami
mau ambil foto sekalian ada baksos di daerah dekat tempat kita menginap nanti” balas viko
“ih lama banget viko” balas dylan cemas akan viko yang tidak pernah mengikuti acara di luar terlalu lama
“ayolah pap, kami bersepuluh kok”
balas viko menyebutkan jumlah teman-temannya yang ikut menginap
“siapa yang papi kenal di antara
mereka?” Tanya dylan
“emmmmm” viko Nampak berpikir “Rio, papi sama mami kenal kan? dia temanku semenjak SMA bersama zaskia” balas viko
“zaskia tak ikut?” Tanya dylan
“gak tahu, tadinya dia ingin ikuti tapi katanya dia mau
liburan sama orang tuanya ke jepang jadi gak tahu bisa ikut atau gak” balas viko
“tumben banget temen kamu di ajak liburan? Biasanya dia di tinggal berbulan-bulan sendirian?” Tanya dylan yang
kebetulan sudah mengenal baik zaskia bahkan zaskia sering berkunjung ke rumah
sekedar makan masakan aira
“ya sudah boleh tapi ingat kabari
dadi setiap 2 jam” pinta dylan
“oke papi” balas viko tersenyum
“papi...papi” panggil askar berlari
ke arah dylan dan eila yang mengejarnya
“papi tahu gak?” belum sempat
askar menyelesaikan ucapannya eila sudah membungkam askar
“diam! Atau aku batalin bantuanku untuk mengerjakan tugasmu" ucap eila setengah berbisik
Askar menggeser tangan eila
dengan kasar “itu pap, eila dapat hadiah lagi dari om Yama” lapor askar
“eila” ucap dylan dengan nada
meninggi
Eila menunduk “maaf papi” ucap eila
“kan papi sudah bilang jangan
terima apapun darinya eila, dia itu punya maksud padamu” balas dylan
“eila tahu kok kalau uncle yama
ingin eila jasi istrinya, tapi kan uncle bilang tunggu eila lulus SMA dan itu waktu yang lama papi, mungkin uncle akan dapat pasangan saat itu” balas eilayang tak terlalu menanggapi yama dan ketakutan dylan
“ini sudah 11 tahun tapi dia
masih sendiri eila” balas dylan semakin takut karena Yama yang masih sendiri dan belum menikah
“kalau uncle kuat nunggu eila
lulus SMA mungkin dia jodoh eila” sahut eila datar
“eila!” bentak dylan
“eila masuk kamar” pinta aira
“sabar sayang” pinta aira
mengusap dada suaminya
“kau lihat kelakuan anak itu,
bagaimana dengan entengnya dia bilang kalau mungkin yama jodohnya” kesal dylan
“kita gak tahu jodoh anak kita
siapa bang, coba geh abang lihat kak tyo dia jarak 21 tahun dengan sita tapi mereka saling mencintai dan saling menguatkan walaupun belum ada restu dari orang tua sita
“terus kamu setuju gitu anak kita
ada hubungan sama yama?” Tanya dylan menyipitkan matanya
“bukannya gitu bang, tapi kita
jangan mendahului takdir, jangan terlalu terikat dengan usia karena usia kita saja tak ada yang tahu sampai kapan, biarkan semua mengalir seperti air bang,
kalau dia jodoh anak kita ikhlaskan saja kalau bukan ya sudah anggap saja ini bagian cerita hidup yang harus kita jalani” ucap aira
“abang gak tahu ra” gumam dylan bingung dengan pikirannya