Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Pertemuan bisnis di luar



Zeta kembali ke meja sekertaris yang ada di depan ruangan rino


andre berjalan ke arah meja sekertaris “aku keluar  rapat dulu ya” pamit andre pada bela dan zeta


“baik pak” balas zeta dan bela  mengangguk hormat pada andre


Zeta yang masih berdiri di depan meja sekertaris, menghampiri bela dan duduk di sebelahnya. bela berdiri dengan membawa beberapa map di tangannya “ zeta, kamu tunggu sini dulu ya takut pak rino butuh sesuatu, aku mau ke bagian keuangan dulu nyerahin dokumen yang sudah di tandatangani pak rino takut ditunggu mereka” ucap bela pamit pergi untuk mengantarkan dokumen yang sudah di tanda tangani rino


“iya mba” balas zeta mengangguk


Zeta terduduk lesu menatap layar komputer di hadapannya “ bela bikinin saya kopi” pinta rino melalui sambungan interkom yang ada di meja sekertaris


“baik pak” balas zeta


zeta langsung membuatkan kopi untuk rino di pantry khusus yang berada di lantai  ruangan CEO berada. Setelah menyiapkan kopi, zeta berjalan ke arah ruangan Rino dan mengetuk pintu ruangan rino


”tok tok tok"


“masuk” balas rino setelah mendengar pintu ruangannya di ketuk


Zeta berjalan menuju meja rino dan meletakkan kopi di atas meja “ini pak, silahkan di minum” ucap zeta


Rino mendongak “terima kasih” balas rino tersenyum ke arah zeta


zeta balas tersenyum dengan ucapan terima kasih rino “ya sudah mas, zeta keluar ya” ucap zeta pamit keluar ruangan rino


Rino bergegas berdiri menghampiri zeta dan menahan lengan istrinya “yang suruh kamu keluar siapa?” tanya rino sedikit menarik tangan zeta agar lebih dekat dengannya


zeta menautkan kedua alisnya menatap rino  “terus mas ada perlu apa lagi?” tanya zeta dengan raut wajah heran


Rino memeluk pinggang zeta, mengikis jarak di antara mereka dan  menunjuk pipinya “ kasih mas semangat kerja dulu” pinta rino agar diberikan kecupan oleh zeta agar ia bisa lebih bersemangat dalam bekerja


“ha?” zeta begitu terkejut dengan permintaan rino yang terkesan tiba-tiba dan tak ia duga


“ayo, cepat” pinta rino memajukan pipi sebelah kanannya ke arah wajah zeta


zeta menghela nafas dan  melirik keadaan sekitar “cup”zeta mengecup pipi rino “sudah” zeta mengendurkan pelukan Rino dan bergegas   berlari ke luar ruangan dengan malu-malu


Rino menyunggingkan senyumnya melihat tingkah zeta yang sedang malu-malu “lucu banget sih, kalau lagi malu” gumam rino melihat punggung zeta yang sudah makin menjauh dan menghilang dari balik pintu


Zeta yang sudah berlari menuju mejanya, berkali-kali menepuk-nepuk pipinya dan mengibaskan tangannya ke arah wajah yang terasa panas “huuuuuh, tenang zeta” gumam zeta mengibaskan tangan ke arah mukanya


Bela  yang kebetulan baru sampai ke meja kerjanya dan zeta, melirik heran ke arah zeta “kamu kenapa?” tanya bela Bela sembari  melirik AC yang masih menyala dan tergolong dingin itu “perasaan AC nya  hidup kok, kenapa kamu kepanasan?” tambah bela


zeta menjadi gugup, seakan sedang takut ketauan saat akan mencuri sesuatu  “ah, tadi abis kepanasan gara-gara lari waktu buatin minuman buat pak rino, takut dia kelamaan nunggu jadi aku berlari makanya kepanasan deh” balas zeta tersenyum pada  Bela


Bela mengangguk paham “oh” balas bela segera duduk di kursinya


***


“sayang” panggil Dylan


Aira menoleh ke arah dylan  “ada apa bang?” tanya aira


Dylan membuat symbol hati dengan kedua tangannya yang di taro di atas kepala membentuk tanda hati “I Love you” ucap Dylan tersenyum ke arah aira yang berjalan ke arah sekolahnya


untung saja keadaan sekolah sepi karena aira masuk saat anak-anak sudah masuk kelas, jadi tak ada yang melihat kelakuan dylan di parkiran


Aira tersenyum geli melihat tingkah suaminya yang lebih seperti anak muda yang sedang kasmaran, padahal usia mereka sudah berapa... “I Love you too” balas aira mengikuti gerakan dylan, dan bergegas berbalik, berjalan menuju sekolah tempat ia bekerja


***


di suatu jalan yang terdapat banyak cafe dan toko-toko itu, Dylan berjalan masuk ke sebuah mobil van, yang di sana, sudah ada rekan yang mendengar percakapan target “gimana, sejauh ini?” tanya Dylan tentang penyelidikan rekannya


“belum ada bahasan yang menyangkut kasus kita pak “ balas rekan tim Dylan


“ok” Dylan ikut mengawasi seksama obrolan target operasinya


**


Rino berjalan keluar ruangan kerjanya, berjalan menghampiri kedua sekretarisnya  “salah satu dari kalian temani saya meeting “ Ucap rino pada bela dan zeta


zeta dan bela mendongak bersamaan “zeta saja ya pak, saya masih ada kerjaan yang bapak suruh kemarin” ucap bela yang memang masih sibuk mengerjakan tugas dari rino


Rino melirik zeta “ya sudah kamu saja yang temani saya” pinta rino


“baik pak” balas zeta mengangguk


“oh ya bela, kalau nanti ada yang cari saya, bilang setelah meeting nanti, saya langsung mau pulang. nanti sekalian zeta akan saya antar pulang juga, karena pertemuannya mungkin cukup lama” ucap rino memberitahukan rencana jadwalnya pada sekertaris utamanya


“baik pak” balas bela


Zeta berjalan mengikuti langkah rino menuju lift. rino berdiri dekat tombol lift tepat berada di depan zeta “oh ya, mobilmu sudah ada di rumah, jadi besok kamu gak perlu naik taksi lagi” ucap rino tanpa menoleh pada zeta yang memang kebetulan berada di depan zeta


“iya pak” balas zeta


rino melirik kondisi lift yang tak ada siapapun “saat tak ada siapapun jangan panggil saya bapak, saya bukan bapak kamu” ucap rino tak suka di panggil pak oleh zeta yang jelas-jelas adalah istrinya


“iya mas, maaf ” balas zeta patuh


***


Zeta dan rino mengendarai mobil menuju tempat pertemuan di sebuah kafe  di daerah Jakarta pusat “oh ya mas, emang kita ketemu siapa? kok kata mas kita bakal lama meeting?" tanya zeta sembari merapihkan file yang sudah di siapkan Rino di dalam tas kerja miliknya


"ketemu dengan klien dari jepang. sebenarnya gak lama sih. cuma pengen cepat istirahat saja nanti. makanya mas bilang pulang cepat. Soalnya klien yang ini suka bikin darah tinggi mas naik" balas rino yang memang tak suka dengan klien yang akan ia temui nanti


"emang namanya siapa?" Tanya zeta penasaran dengan orang yang di maksud rino


"kamu gak kenal juga, jadi buat apa tahu" balas rino


"ya kali aja zeta kenal mas, kan di tempat magang zeta dulu. Zeta beberapa kali ketemu klien dari jepang jadi siapa tau zeta kenal juga dengan klien yang ini" balas zeta


rino mengangguk paham dengan maksud zeta "namanya yama  hitaro, kamu kenal dia? " balas rino datar


zeta tersenyum "ah kalau dia  zeta kenal mas, dulu sempat ngobrol banyak sama dia. dia orangnya asyik ko" balas zeta mengingat pertemuannya dengan yama saat ia masih jadi anak magang di salah satu perusahaan yang cukup besar di Jakarta


"malah dulu dia sempat ngajak zeta pacaran " ucap zeta tersenyum mengingat yama yang pernah mengajak ia berpacaran saat zeta sedang magang


"ooops" zeta langsung menutup mulutnya karena  merasa salah bicara


sedangkan rino langsung menghentikan mobilnya dan menatap tajam ke arah zeta karena ucapan zeta yang kebablasan tentang Yama yang pernah menembak dirinya


mungkin di antara mereka belum ada cinta yang mendalam tapi tetap saja mereka adalah sepasang suami istri, jadi sudah seharusnya zeta bisa menjaga perasaan suaminya untuk tidak membahas pria dalam hubungan keduanya


zeta menelan salivanya kasar "glek" zeta cukup gugup dengan tatapan mata rino