
***
“sayang” eila memeluk erat daren
“aku kangen banget sama kamu” ucap daren mengeratkan pelukannya
“kamu lama banget sih pulangnya, hampir dua bulan loh di sana” eila menelusup di dada bidang kekasihnya
“iya maaf sayang” balas daren
“oh ya, keponakanmu bulan ini lahir kan?” Tanya daren tentang anak viko dan ara
“iya sayang, ini sudah bulannya tinggal menghitung hari saja ” balas eila
“berarti makin deket kita nikah dong” ucap daren terlihat bahagia
“iya, aku juga sudah mulai milih-milih dekor dan gaun buat kita, kalau soal gedung kan sudah
pakai gedung milik kamu” balas eila
“jadi gak sabar nikah sama kamu” ucap daren
“iya sayang, aku juga” sahut eila
***
Ara menatap tajam dua orang di hadapannya dengan tetap mengusap perut buncitnya
“sabar sayang” pinta viko mengusap perut besar ara yang sudah sering menegang jika lelah dan sering mengalami kontraksi palsu karena sudah mendekati hari lahiran
“gimana bisa sabar mas, ayah sama ibu bohongin ara” kesal ara menunjuk kedua orang tuanya “parahnya lagi mereka mau kasih aku adik mas, anak kita bakal panggil tante sama anak yang masih dalam perut. anaku lebih tua ketimbang adikun” tangis ara pecah setelah mendengar
kehamilan ibunya dan kabar kedua orang tuanya yang ternyata tidak bercerai dan masih terikat pernikahan
“harusnya kamu senang ara, orang tua kamu sekarang lengkap” ucap ayah damians merasa tak bersalah sama sekali
“ya gak gini juga ayah. berapa usia ibu coba? 43 tahun ayah” kesal ara mengingat ibunya yang sudah memasuki usia kepala empat dan sedang mengandung
"mana ayah nyangka, ibu kamu masih bisa hamil" sahut ayah damians yang di hadiahi tatapan tajam oleh ara
“maafin ibu ya ara, ibu gak nyangka masih bisa punya anak, kalau ibu tahu masih bisa punya anak di usia ini, ibu pasti KB” sahut ibu ralins
“hiks hiks hiks” ara memeluk suaminya erat “ara di bohongin mas” adu ara pada suaminya
Viko mengusap punggung ara “sudah sayang, jangan bersedih, lagian kalau ayah dan ibu
kamu bersama kan bagus, orang tua kamu bersama dan gak terpisah sekarang, bahkan mereka kasih kamu adik loh” ucap viko mencoba menenangkan istrinya
Ara mengusap air matanya “ya sudah mau gimana lagi” ucap ara dengan terpaksa
Vikobmengusap kepala ara lembut
“aduhbmas” ara memegang perutnya
“sakit mas” keluh ara
“apanya yang sakit ara? Kontraksi lagi ya?” Tanya viko yang sudah beberapa kali melihat
ara mengalami kontraksi palsu
“gak tahu mas, sakit pokoknya” balas ara
Viko terus mengusap perut ara lembut “tenang sayang” ucap viko
Ibu ralins melirik sofa yang diduduki ara sudah basah “sepertinya ara mau
melahirkan, air ketubannya sudah pecah” tunjuk ibu ralins pada sofa yang di duduki ara yang sudah basah
“ah, kamu mau lahiran sayang. Gimana ini” viko sudah panik mendapati ara yang sudah
pecah ketuban
“tenangbviko, kita bawa ke rumah sakit saja” ucap ayah damians
Vikoblangsung membopong ara ke dalam mobil di ikuti kedua orang tua ara
***
Viko dengan tergopoh-gopoh membawa ara masuk ke dalam rumah sakit
“suster tolong istri saya” panggil viko pada perawat yang berjaga di ruang UGD
Dengan sigap perawat jaga menghampiri viko “ ada apa pak?” Tanya perawat jaga
“ketuban istri saya sudah pecah sus, mungkin akan segera lahiran” balas viko
“bapak urus administrasinya dulu saja, biar kami yang tangani” ucap perawat
Ayah damians menepuk pundak viko “biar ayah saja yang urus, kamu temani ara saja, kasian dia sepertinya kesakitan” ucap ayah damians
viko
Ayah damian menerima dompet viko “iya, nanti biar sekalian ayah kabari keluargamu yang lain” balas ayah damians
“yuk bu” ajak ayah damians menarik tangan ibu ralins
Viko melirik ara yang sedang mengeluh kesakitan “tenang ya sayang” pinta viko mengusap kening ara yang sudah banjir keringat
“sakit mas” rengek ara mengusap perutnya yang terasa sakit dan melilit
“ada mas di sini” ucap viko menggenggam erat tangan ara
Ara di bawa masuk ke ruang persalinan dan viko dengan setia menunggu ara di sana
*
“bagaimana yah, sudah selesai urus administrasinya?” Tanya ibu ralins
“sudahbberes” balas ayah damians
Ibubralins menunduk sedih “gara-gara ibu ara jadi kontraksi ya yah” ucap ibu ralins
Ayah damians membawa ibu ralins dalam pelukannya “ini bukan salahmu sayang, arak an
memang sudah masuk HPL jadi memang momennya saja ara akan lahiran” balas ayah
damians
“tapinkalau bukan karena ibu ara pasti gak akan kesakitan seperti itu” sahut ibunralins
“sudahbbu, kita doakan saja yang terbaik buat ara. Jangan terlalu banyak berpikir jangan lupa kamu sedang hamil muda, hamil muda di usiamu itu gak mudah jadi jaga pikiran kamu agar tetap rileks” ucap ayah damians
“iya yah” balas ibu ralins
“oh ya, ayah hubungin keluarga viko dulu buat kabarin ara yang akan lahiran” ucap ayah damian s merogoh ponselnya untuk menghubungi keluarga viko perihal ara yang di bawa ke rumah sakit untuk melahirkan
*
Keluarga besar mahardika menunggu di depan ruang khusus melahirkan dengan rasa cemas
“kok lama banget ya pih?” Tanya mami aira yang cemas menunggu kelahiran cucu pertamanya
“sabar mih, paling bentar lagi cucu kita lahir” balas papi dylan
oma diana melirik orang tua ara yang ikut menunggu ara melahirkan “oh ya nak damians” panggil oma Diana
“ya mi” balas ayah damians yang ikut memanggil oma diana mami sama seperti papi dylan dan mami aira
“gimana ceritanya ara bisa pecah ketuban” oma Diana melirik ibu ralins “dan kok kamu bisa sama ibunya ara?” Tanya oma Diana ingin tahu ceritanya ara yang akan melahirkan saat berkunjung ke rumah viko untuk bertemu orang tua ara
Ayah damians menarik nafas dalam “tadi ara terlalu terkejut saat saya kasih kabar kalau ibunya ara masih jadi istri saya, tidak ada perceraian di antara kami” balas
ayah damian
“benarkah” Tanya papi dylan begitu terkejut ternyata orang tua ara tak bercerai padahal mereka terpisah delapan tahun lamanya
“bukankah harusnya ara bahagia ya, kalau kedua orang tuanya bersama?” Tanya mami aira bingung kenapa ara terkejut dengan kabar kebersamaan orang tuanya
Ayah damian menggaruk tengkuknya yang tak gatal “mungkin yang bikin dia kesal karena dia di kasih adik di usia ini, mana dia saat dia akan melahirkan jadi posisi adiknya nanti lebih muda dari pada anaknya ” balas ayah damians tersenyum canggung
oma diana lelirik ibu ralins “kamu hamil ralins?” Tanya oma Diana terkejut dengan kabar kehamipan ibu ralins
Ibu ralins mengangguk “iya bu, ini masih jalan 2 bulan” balas ibu ralins
“wajar kalau dia kaget “ oma Diana melirik ayah damians dan ibu ralins bergantian “selamat ya” ucap oma Diana
“terima kasih mih” balas ayah damians
“ceklek” suara pintu ruangan di buka
“mami” viko yang baru keluar ruangan langsung berlari memeluk mami aira erat
“hiks hiks hiks” viko langsung menangis dalam pelukan mami aira
“kamu kenapa nangis sayang, ada apa? Ara gak kenapa-napa kan ? anakmu sehat kan?” Tanya mami aira bingung dengan sikap viko yang begitu tiba-tiba
“mereka semua baik dan sehat kok mih” balas viko masih terisak
“lah terus kenapa kamu malah nangis seseunggukan gitu?” Tanya mami aira
“viko baru tahu perjuangan mami lahirin viko begitu sulit. Saat lihat ara jerit-jerit sambil jambakin viko. Viko keinget mami yang berjuang lahirin viko dengan susah payah” balas viko merasa haru karena melihat prosesi lahiran anak pertamanya
Mami aira mengusap punggung viki “itu lah perjuangan seorang ibu sayang, makanya kamu
harus lebih mencintai istrimu yang sudah berjuang melahirkan anak kamu” balas mami aira
“iya mih, itu pasti “ balas viko