
"biar aku saja yang ke sana" ucap dylan berdiri dan tersenyum dengan girang
" katanya kamu sibuk?" tanya teman dylan merasa curiga dengan kelakuan dylan yang begitu tiba-tiba ingin membantu
" kalau untuk membantu orang lain, aku masih menyediakan banyak waktu" balas dylan langsung merebut surat tugas dan berlari ke luar ruangan dengan cepat menuju sekolah tempat aira bekerja
"dia kenapa sih? " tanya teman dylan pada semua orang dalam ruangan, dan mereka semua menjawab dengan mengangkat kedua bahu mereka tanda tak tahu lalu melanjutkan pekerjaan masing-masing
*
sesampainya dylan di sekolah aira, dylan melihat sekeliling mencari dimana ruangan kepala sekolah. Tiba-tiba ada yang menabrak dylan dan ia terjatuh
" aduh! " teriak seorang anak memegang kepalanya karena menabrak kaki dylan
melihat hal itu dylan berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan anak yang menabraknya "kau tidak apa-apa dek? " tanya dylan menyentuh kepala anak itu yang agak memerah setelah bertabrakan dengannya
"gak papa om, maafin viko ya sudah nabrak om, harusnya viko lebih berhati-hati agar tidak menabrak om" ucap viko meminta maaf pada dylan
mendengar nama viko, dylan bertanya-tanya. dalam hatinya "apa dia anak aira" batin dylan
"apa kamu viko anak aira? " tanya dylan dengan berhati-hati
"om kenal dengan mamiku" balas viko
dylan tersenyum "iya om kenal baik dengan mami mu. kenalin nama om dylan, dylan mahardika" ucap dylan mengangkat tangannya untuk berjabat tangan dengan viko sambil tersenyum
"iya om, salam kenal. namaku viko rafasta" balas viko menjabat tangan dylan
" oh ya, ruang kepala sekolah dimana ya? om ada perlu sama kepala sekolah kamu? " tanya dylan
"di sana om" tunjuk viko pada ruang kepala sekolah
"kalau begitu om ke sana dulu ya, belajar yang rajin ya" ucap dylan mengusap kepala viko lembut
dylan menuju ruang kepala sekolah yang di tunjuk oleh viko
"tok tok tok" dylan mengetuk pintu ruangan
"masuk" ucap aira mempersilahkan masuk pada orang yang mengetuk pintu tapi masih konsen dengan komputernya
"apa pak kepala sekolahnya ada bu? " tanya dylan
aira mendongak melihat siapa yang datang
" abang" sapa aira tersenyum pada dylan
"kau sendirian saja ra? " tanya dylan menghampiri meja aira dan melihat sekeliling tak ada orang sama sekali
"iya yang lain sedang di kelas karena baru saja jam masuk kelas" balas aira
"kamu gak masuk kelas? " tanya dylan
" nanti bang, aira masuk agak siang" balas aira
"oh ya, kepala sekolahmu ada? " tanya dylan
" beliau sedang rapat bang" balas aira
"terus aku harus bicara dengan siapa tentang acara baksos sekolahmu? " tanya dylan bingung
"dengan aira bang, tadi pak kepala sekolah sudah minta aira menjelaskan pada pihak kepolisian" balas aira tersenyum
"untung aku kesini, emang gak sia-sia kalau ada niat baik" batin dylan tersenyum sambil melamun
aira melambai-lambaikan tangannya ke arah dylan karena dylan yang melamun " bang, abang mikirin apa sih? " tanya aira mencoba menyadarkan dylan
" ah maaf ra, ada yang abang pikirin" balas dylan
"mikirin apa sih bang? " tanya aira
" ada suatu hal" balas dylan tersenyum
"ya sudah yuk duduk dulu bang" aira mengajak dylan duduk di sofa
" ini skema tentang acara baksos sekolah, abang baca dulu, kalau ada yang tak paham tanyakan saja ke aira" ucap aira menyerahkan map berisi rangkaian acara baksos sekolah
dylan membaca dengan seksama setiap isi map tersebut " kalau kapasitas acara baksos nya seperti ini berarti cukup 2 orang saja dari pihak kami, nanti bisa di bantu guru-guru pria yang ada di sekolah ini" ucap dylan menyarankan
" iya bang, nanti aira sampaikan apa yang abang bilang ke pak arfan" balas aira
"terus kalau ada yang di ajak berkomunikasi untuk acara ini siapa? " tanya aira
" iya bang" balas aira tersenyum
" oh ya ra, boleh gak nanti malam abang ngajak kamu makan malam? " tanya dylan ragu-ragu
"nanti malam? " tanya aira
"iya, bisa kan? " tanya dylan
" iya bisa. abang jemput saja ke rumah. tapi kalau viko ngotot ikut gimana? soalnya semenjak aira sembuh viko gak mau terlalu jauh dari aira" balas aira
"gak masalah ra, malah rame kalau anak kamu ikut juga" balas dylan
" ya sudah nanti abang jemput saja, aira akan nunggu abang datang" balas aira
***
sore harinya dylan menuju rumah aira dengan memakai pakaian kasual, tapi tetap memperlihatkan ketampanan dylan yang bertubuh tinggi, putih dan berbadan tegap
sesampainya depan rumah aira, dylan merasa was-was takut tak diperbolehkan mengajak aira keluar seperti dulu
dylan bolak-balik akan mengetuk pintu tapi berkali-kali di urungkan. dylan menghela nafas panjang, memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu
"tok tok tok"
"siapa? " tanya Ibu mardiana menuju pintu
ibu mardiana membuka pintu " sore tante" sapa dylan tersenyum saat bersitatap dengan ibu mardiana
"oh kamu dylan ya? " tanya ibu mardiana masih mengenali wajah dylan
"iya, tante masih inget saya" balas dylan
"iya, ayo masuk nanti tante panggil aira" ucap ibu mardiana
"duduk nak" ucap ibu mardiana mempersilahkan dylan duduk di sofa ruang tamu
"aira sayang, dylan sudah sampai cepat keluar" teriak ibu mardiana memanggil aira
"nih minum dulu" ibu mardiana menyerahkan teh pada dylan
"Terima kasih tan" balas dylan meminum tehnya
"tante dan om apa kabar? " tanya dylan
"kabar kami baik nak, gimana kabar ibumu" tanya ibu mardiana
" ibu agak kurang sehat bu mungkin karena sudah tua" balas dylan
"oh benarkah, nanti lain kali tante akan menjenguknya" balas ibu mardiana
"baik tan, Terima kasih" balas dylan
"oh ya tan, apa boleh saya mengajak aira dan viko makan malam diluar? " tanya dylan takut-takut
melihat dylan yang ketakutan ibu mardiana tersenyum
ibu mardiana terkekeh melihat tingkah dylan "kamu masih takut tante marahi seperti dulu ya? " tanya mardiana
"iya bu, pasti dia takut di timpuk pakai sapu lagi" ledek rino yang baru pulang bekerja dan nimbrung duduk di sofa di samping dylan
dylan menatap tajam rino "apa? " balas rino menatap tajam dylan
ibu mardiana tersenyum melihat kedua pria di hadapannya itu "aira sudah minta izin sama tante, dan karena kamu juga yang sudah minta izin mengajak aira keluar, tante izinin. jangan seperti dulu lagi ya yang suka bawa anak ibu kabur" ucap ibu mardiana terkekeh
dylan menggaruk tengkuknya yang tak gatal " makasih ya tante" ucap dylan tersenyum
"maafin tante ya dylan gak bisa bantu bujuk viko agar tak ikut. dia tetap kekeh mau ikut" ucap ibu mardiana
"gak papa kok tan tadi aira sudah bilang ke dylan kalau viko mungkin ikut. tapi dylan gak masalah malah seneng kan acara makannya jadi rame " balas dylan tersenyum
"oh ya kamu sejak kapan ketemu aira lagi? bukannya kalian gak pernah komunikasi sejak SMA ya? " tanya rino
ibu mardiana ikut menatap dylan untuk mendengar jawaban apa yang akan di berikan
" gak lama ini aku ketemu di di taman dulu biasa kita main, karena mobilku yang bocor aira membantuku mengantar pulang ke rumah" balas dylan
"oooooo" balas ibu dan rino berbarengan