Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Rasa bersalah di masalalu



mami diana tak kuasa menahan air matanya lagi “kenapa papi gak mau cerai? Bukankah kau sudah dengan dia” tunjuk mami Diana pada riska yang masih setia duduk di atas ranjang menutup tubuhnya dengan selimut tanpa berkata apapun


"dan bukankah kau bilang aku punya perasaan untuknya” ucap mami Diana mengarah pada tuan bagas


papi gunawan mengusap mukanya kasar “aku gak akan pernah melepaskan mu!” Papi gunawan memeluk erat mami Diana “kau satu-satunya orang yang kucintai Diana hanya kau, aku gak akan pernah mau berpisah darimu” ucap papi gunawan menjatuhkan cairan bening dari sudut matanya


Mami Diana diam saja  tak menyahut ucapan papi gunawan, mencoba menelaah setiap ucapan suaminya


mami diana menghela nafas panjang “tapi hubungan kita sudah tak sehat mas, setiap hari kita jalani dengan perdebatan dan kecurigaan. Tak ada lagi kepercayaan dan kenyamanan dalam hubungan kita. ini bukan pernikahan mas tapi ini hanya sebuah penjara yang begitu menyesakkan ” ucap mami Diana


“aku tak peduli, aku tak ingin melepaskan mu, kau pasti akan langsung menikah dengannya jika kita bercerai. dan aku tak akan rela jika kau bersamanya ” balas papi gunawan


“itu gak mungkin mas, bukannya kak bagas belum lama ini membawa seorang wanita dan anak perempuan ke rumahnya, padahal kak lyra belum genap 1 tahun meninggal, itu artinya dia sudah menambatkan hatinya pada orang lain” balas mami Diana


papi gunawan teringat lyra mendiang istri tuan bagas


“harusnya kau yang merasa paling bersalah pada lyra” seru papi gunawan


Mami Diana melonggarkan pelukannya menautkan kedua alisnya menatap papi gunawan “apa maksudmu mas?” tanya mami Diana


“kau tahu betul dia meninggal karena bagas yang tak mencintainya dan tak perduli padanya selama mereka menikah, dan itu yang membuatnya sakit selama bertahun-tahun” jelas papi gunawan


“aku memang tahu kalau kak bagas menikah dengan kak lyra karena perjodohan keluarganya tapi apa hubungan semua itu denganku?” tanya mami Diana


papi gunawan memang cukup mengenal baik lyra karena papi gunawan dan lyra, ibu dari kak david adalah teman sekampus “dia selalu bertanya-tanya dengan siapa dia sebenarnya berperang, dia selalu ingin mencari tahu siapa yang dicintai bagas dan membuat pernikahannya selama bertahun-tahun tak bisa membuatnya mencintai lyra sama sekali" ucap papi gunawan


"Kau ingat kan ucapan terakhir lyra sebelum dia meninggal?!” tanya papi gunawan


saat mama kak david meninggal memang papi gunawan dan mami diana berada di sana menemani david yang saat itu masih remaja dan orang tua mami kak david yang saat itu sedang berada di luar negeri


mami diana tampak berpikir “dia bilang, aku benci berseteru dengan orang yang aku tak tahu siapa? Dan benci harus kalah tanpa bisa mengajaknya berdebat ataupun berperang” ucap mami Diana mengingat ucapan istri tuan Bagas sebelum ia meninggal


mami diana membelalakkan matanya lebar, saat mencerna ucapan papi gunawan  “apa karena aku?” tanya mami Diana mundur perlahan


papi gunawan berjalan mendekat ke arah mami diana sampai mami diana membentur dinding tak mampu melangkah kembali “iya, itu semua karena kamu jadi jangan pernah bersamanya jika kau masih punya hati dan bersalah pada lyra yang sudah baik padamu selama bertahun-tahun" ucap papi gunawan memojokkan mami diana


mami diana menggelengkan kepalanya, air matanya sudah membanjiri pelupuk matanya " gak mungkin! " teriak mami diana menyadari dia adalah salah satu penyebab kematian orang yang baik padanya selama bertahun-tahun


hati bagas tak tega melihat istrinya menangis tapi ia coba menahannya "maafkan aku diana, aku sangat mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu. ini adalah satu-satunya cara mempertahankan mu di sisiku. aku sangat tahu jika kau lepas dariku dia pasti akan mengambil mu dariku dan kau pasti tak akan menolaknya" batin papi gunawan bermonolog


mami diana mendongak "aku tak pernah ingin melukai siapapun mas.  aku tak pernah ada maksud menyakiti kak lyra sedikitpun" lirih mami diana


"untuk itu, jangan pernah berada di sekitar gunawan. Mungkin lyra sudah tidak bisa protes tapi bagaimana dengan perempuan yang ada bersamanya sekarang, dia pasti akan terluka karena kehadiranmu di dekat bagas" ucap papi gunawan memperingati mami diana


mami diana menangis sesenggukan tak memperdulikan kondisi saat ada wanita lain di ranjang tempat tidurnya bersama suami yang masih sah secara agama dan hukum


dylan yang tak sengaja mendengar tangisan mami diana yang cukup memilukan, bergegas berjalan menghampiri arah sumber suara


saat dylan sampai di kamar kedua orang tuanya, matanya membelalak lebar saat ada seorang wanita tak berbusana di ranjang kedua orangtuanya ,dan mami diana yang menangis sesenggukan menangkup wajahnya dengan kedua tangan sedangkan papi gunawan hanya berdiri di hadapan mami diana


"apa yang kau lakukan pada mamiku!" teriak dylan remaja


papi gunawan begitu gugup dengan kehadiran dylan di sana "tunggu dulu nak, papi bisa jelasin" pinta papi gunawan meraih tangan dylan


dylan menghindari tangan papi gunawan "jadi ini kelakuan papi saat kami menginap di rumah tante jeny" dylan menunjuk wanita yang sedang duduk di atas ranjang " tidur dengan sembarang wanita!" teriak dylan


"gak gitu sayang" balas papi gunawan mendekati dylan


dylan memundurkan tubuhnya "cukup" dylan menahan papi gunawan dengan gerakan tangannya "aku tidak sudih jadi anakmu lagi" ucap dylan dengan tegas


"ayok mi" ajak dylan menarik tangan mami diana


papi gunawan menahan tangan  mami diana "kau tak bisa membawa istriku pergi dari sini" bentak papi gunawan


dylan memicingkan matanya ke arah papi gunawan "istrimu kau bilang?" tanya dylan dengan raut muka tak percaya bahwa papinya bisa berkata seperti itu setelah apa yang telah ia lakukan


"kalau kau sadar mami itu istrimu, jadi bagaimana bisa kau selingkuh darinya, di rumah ini. di rumah keluargamu tinggal" dylan menunjuk wanita yang hanya diam saja tanpa bereaksi apapun "dengan wanita seperti itu pula?" tanya dylan dengan raut kesalnya


papi gunawan menoleh ke arah siska untuk sesaat " kau masih kecil dylan, jadi jangan ikut campur dengan urusan orang dewasa" balas papi gunawan menatap tajam putra satu-satunya itu


"mungkin aku masih kecil pih, tapi aku sudah bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah" balas dylan dengan yakin


dylan menunjuk ke arah siska "dan hal itu adalah suatu kesalahan" teriak dylan lantang ke arah papi gunawan


papi gunawan diam tak bisa menjawab pernyataan dylan yang memang adalah kebenaran bahwa dirinya bersalah


"ayok mih" ajak dylan membantu mami diana berdiri


"apa kau akan pergi diana?" tanya papi gunawan lirih menghentikan langkah mami diana yang akan keluar kamar


papi gunawan menatap sendu mami diana "apa kau tak merasa bersalah padanya?" tanya papi gunawan membuat mami diana kembali histeris memikirkan lyra istri pertama tuan bagas, ibu dari kak david yang sudah meninggal. dan ia meninggal dengan begitu banyak penyesalan atas hubungannya dengan tuan bagas


"aku gak salah mas" mami diana makin terisak


dylan menatap tajam papi gunawan "cukup! " tunjuk dylan "sampai kau menyakiti hati mamiku, aku akan membencimu seumur hidupku! " teriak dylan