
Aira tersenyum hangat saat membalas pesan dylan di sela-sela ia mengajar "maaf anak-anak ibu balas pesan sebentar" aira meletakkan ponselnya di meja lalu kembali menjelaskan pelajaran yang tengah diberikan pada murid-muridnya
waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, kelas pun berakhir. aira mengantar anak-anak muridnya pulang sampai depan kelas
aira menghampiri ferdi bodyguard yang disiapkan dylan untuknya yang tengah menunggu di parkiran sembari bersandarkan badan mobil
"nyonya sudah selesai mengajar?" tanya ferdi saat melihat kedatangan aira
"iya sudah" balas aira tersenyum
"kita mau langsung pulang atau nunggu tuan dulu?" tanya ferdi
"nanti saja tunggu suamiku dulu" balas aira
15 menit menunggu tapi dylan tak kunjung datang " ferdi bisa tolong belikan es krim di depan sana" tunjuk aira pada toko di depan gerbang
"tapi sekarang sekolah sedang sepi nyonya, tuan berpesan untuk tak jauh dari nyonya" balas ferdi tak enak hati jika meninggalkan aira sendiri
"itu sangat dekat ferdi, lagian aku disini kau bisa langsung lari kalau ada apa-apa, aku sangat haus" keluh aira mengusap tenggorkannya yang memang terasa kering
"baiklah nyonya" ferdi menuruti keinginan aira untuk membelikan es krim di toko seberang sekolah
saat aira asyik bermain dengan ponselnya tiba-tiba ada yang menarik tangannya keras. aira mendongak untuk melihat siapa yang menarik tangannya dengan kasar
"akhirnya dapat juga" ucap razi dengan senyum seringainya
"'kamu" ucap aira gemetaran melihat pria dihadapannya
"kau fikir aku akan dengan mudah melepaskan istriku untuk orang lain hah?!" teriak razi
"aku bukan istrimu lagi tolong jangan ganggu aku" pinta aira dengan suara terisak ketakutan
"kau istriku jadi kau harus pulang denganku" balas razi kesal razi meremas tangan aira keras
aira meringis kesakitan meronta untuk dilepaskan tapi tenaga aira kalah dengan razi sehingga pegangannya tak terlepas sama sekali
"ayo kita pulang" razi menarik tangan aira paksa menuju mobilnya yang terparkir di dekat gerbang sekolah
ferdi yang melihat itu langsung berlari tanpa memperdulikan es krim yang terjatuh ke tanah
"berhenti!"teriak ferdi dari seberang jalan berusaha mendekati aira
"berani kamu maju selangkah lagi aku tak akan segan menyakitinya" razi mencekik leher aira sampai muka aira memerah karena kencangnya cengkeraman razi padanya
ferdi bingung tak mau aira terluka ataupun sampai dibawa pergi oleh razi "baik aku tak mendekat tapi jangan sakiti dia" ferdi menjaga jarak karena tak ingin aira terluka
"jangan berani mengikutiku atau aku tak segan menyakitinya" ancam razi dengan suara lantang
razi mendorong aira paksa ke dalam mobil dan langsung tancap gas meninggalkan sekolah aira. aira hanya menangis histeris ketakutan karena satu ruangan dengan razi membuatnya kesulitan untuk bernafas saking takutnya
"diam kau!" bentak razi mendengar suara tangisan aira
aira mulai memelankan suara tangisnya tapi air matanya masih terus mengalir dengan bebas "sebenarnya apa salahku padamu mas sampai kau tega melakukan ini padaku" tanya aira
"bukankah dulu kau bilang kau mencintaiku tapi kenapa sekarang malah kau menikah lagi?" tanya razi tanpa memperdulikan pertanyaan aira
"kita sudah bercerai mas jadi kenapa aku tak boleh menikah lagi?" balas aira pelan
"itu karena kau tak meminta izinku untuk berpisah, bukankan sudah ku bilang aku tak akan melepaskanmu selama kau hidup" balas razi berteriak sambil memukul setir mobilnya
"aku tak akan melakukannya lagi ra, waktu itu aku salah karena kesal saat kau minta berpisah makanya jangan minta pisah lagi ya?" pinta razi memandang sekilas aira dengan wajah sendunya
"tapi semua sudah terlambat mas kita sudah berpisah, dan aku sudah bersama orang lain" balas aira
"aku sudah bilang aku tak mengizinkannya! " teriak razi membuat aira gemetar ketakutan "harusnya kau tahu kalau aku sangat mencintaimu ra, hanya kamu dalam hidupku" tambah razi
aira tersenyum kecut " cinta kau bilang? apa kau yakin kalau mencintaiku?" tanya aira
"tentu saja, harusnya kau tahu itu kalau aku sangat mencintaimu dan hanya dirimu" balas razi
"awalnya aku mengira kau benar-benar mencintaiku mas, dan di awal pernikahan kita kau begitu membuatku bahagia tapi kau juga yang membuat kebahagian itu berhenti dan berganti menjadi penderitaan" balas aira
"itu karena kau hamil tanpa minta izin dariku terlebih dahulu" balas razi kesal
"harusnya kau bilang dari awal kalau aku tak boleh hamil" tentu saja aira tak mau di salahkan, disalhkan karena hamil anak suami sendiri oleh suami sahnya
"itu karena kau tak bertanya" balas razi tak mau disalahkan
"ha ha ha ha " tawa pahitĀ aira mendengar ucapan razi
"kenapa malah tertawa?" tanya razi heran
"kalau kau tak mau punya anak tanpa memberitahuku cukup jangan menyentuhku sudah cukup kan?" balas aira tersenyum kecut
"bagaimana mungkin ra, aku sangat mencintaimu jadi bagaimana aku tak menyentuhmu" balas razi
"apa maumu sebenarnya hah?!" tanya aira kesal, hatinya sebenarnya sudah kalang kabut tapi ia mencoba kuat
"aku hanya tak ingin membagimu dengan yang lain aku hanya ingin kau hanya untukku dan hanya memperdulikanku. dan benar saja kau lebih memperdulikan anak itu ketimbang aku suamimu saat dia hadir" balas razi
aira memicingkan matanya ke arah razi "harusnya aku sadar kau sudah bermasalah sejak dulu, tapi aku terlalu bodoh saat berfikir kalau aku mencintaimu dan harus selalu menuruti segala keinginanmu walaupun aku tak suka agar hubungan itu tetap bertahan" ucap aira menghapus air matanya dengan gerakan kasar
"kalau kau mencintaiku, kau akan menghormati keinginanku, menghargai pendapatku, dan tak memaksakan kehendakmu padaku kau juga akan perduli akan perasaanku. dan itu tak pernah aku dapatkan darimu sejak awal kita menjalin hubungan" tambah aira meluapkan emosinya yang terpendam sejak dulu
"tidak tidak tidak jangan berkata seperti itu" razi menghentikan mobilnya di tempat yang cukup sepi ia memandang aira memegang kedua lengannya "aku bilang aku mencintaimu sangat mencintaimu aira" balas razi
****
setelah melihat mobil razi melaju ferdi langsung menuju mobilnya berusaha menyusul aira dan razi. ia bergegas menelfon dylan tapi tak kunjung di angkat oleh sang pemilik
dylan baru sampai sekolah tapi keadaan sepi tak ada seorangpun bahkan gerbang pun sudah di tutup, ia mengambil ponselnya yang berada di mobil, terlihat banyak panggilan dari ferdi, dylan memutuskan untuk menelfon balik
"kamu kemana kok aku kesekolah gak ada siapa-siapa?" tanya dylan
"tuan kemana saja kenapa telfon saya tak diangkat? saya tadi mengejar nyonya tuan, ada pria yang menculik nyonya" ucap ferdi
deg jantung dylan seakan berhenti mendengar aira di culik, tangannya gemetar hampir saja ponselnya terjatuh "bagaimana kau menjaganya hah!" teriak dylan kesal
"maaf tuan tadi dia mengancam akan menyakiti nyonya dan dia benar-benar mencekik nyonya dihadapan saya, nyonya sampai kehabisan nafas jadi terpaksa saya melepaskan dia pergi" balas ferdi
"ya sudah, kita bahas itu nanti, sekarang kau dimana? apa kau berhasil mengikutinya?" tanya dylan
"maaf tuan tapi saya kehilangan mereka" balas ferdi
"ya sudah, kamu sekarang ke kantor tempat saya bekerja" balas dylan menutup telfonnya lalu langsung menuju kantor tempatnya bekerja dengan kecepatan tinggi di atas kecepatan rata-rata