
Rino mengajak zeta jalan-jalan berdua di taman bunga tak jauh dari rumah mereka
rino menggandeng tangan zeta dengan mesra “mas kok tumben banget ajak zeta jalan-jalan?” Tanya zeta
“pengen lebih banyak waktu berdua denganmu saja” balas Rino mencium tangan zeta
“kalau pengen berdua, di rumah kan bis juga mas. kita Cuma berdua” balas zeta dengan polosnya
Rino menoleh kearah zeta dan tertawa renyah “kok malah ketawa mas?” Tanya zeta bingung dengan Rino yang tiba-tiba tertawa
Rino mendekatkan wajahnya ke telinga zeta membuat nafas rino yang langsung menembus kulit zeta membuat gelanyar aneh akibat terpaan nafas beraroma mint rari rino “kalau kita sedang berdua di rumah, bukankah kita hanya menghabiskan waktu untuk berolahraga malam” bisik Rino
“plak”zeta memukul lengan rino keras “sakit tahu” rino mengusap lengannya yang terkena pukulan zeta dan terkekeh
“mas sih, bikin zeta malu” balas zeta menutup wajahnya dengan kedua tangan karena malu
Rino merangkul bahu zeta untuk duduk di bangku taman “ngapain juga malu?” Tanya rino
“ya malu lah, abis mas ngomongnya vulgar gitu” balas zeta
Rino menyipitkan matanya “vulgar dari mana?” Tanya rino yang merasa dia tak berkata vulgar seperti ucapan zeta
“ya itu tadi mas bilang olahraga malam tiap di rumah “ balas zeta
Rino terkekeh, mengusap kepala zeta “yang vulgar itu pikiran kamu, mas kan Cuma bilang olahraga gak bilang bercumbu” balas rino dengan cuek
“mas!”teriak zeta
“iya ya” rino menyandarkan kepala zeta di dada bidangnya
“si yama, masih sering nelpon kamu?” Tanya rino yang tahu kalau yama sering menghubungi zeta
“masih sih mas, tapi zeta sudah ngomong kalau zeta sudah nikah dan jangan sering nelpon” balas zeta
“kalau andre, kamu kasih tahu belum kalau kamu sudah menikah?” Tanya rino
Zeta mendongak menatap rino “andr?, emang ada apa dengan andre? Ngobrol saja jarang jadi kenapa zeta harus bicara padanya kalau zeta sudah punya suami” Tanya zeta bingung karena itensitas obrolannya terkesan sangat jarang bersama andre dan hanya membahas seputar pekerjaan saja
“kasih tahu saja, mas gak suka tatapannya ke kamu” balas rino
Zeta terkekeh “mas cemburu ya?” Tanya zeta penuh selidik
“ngapain mas cemburu?” balas rino tak mau mengakui kalau ia sedang cemburu
Zeta mengeratkan pelukannya menyandarkan tubuhnya di dada bidang suaminya “zeta senang kalu mas cemburu sama zeta, itu tandanya mas sudah mulai sayang sama zeta. Zeta tahu pernikahan kita dimulai dengan sesuatu yang tak terduga, semuanya terlalu mendadak terkesan seperti kita belum menikah” ucap zeta
Rino mengusap kepala zeta lembut “saat mas memutuskan menikah itu tandanya mas ingin serius, jadi mas akan tanggung jawab dengan pilihan mas. Awalnya kita memang tak mengenal satu sama lain dan tak ada cinta
di antara kita berdua. Tapi mas sekaang sudah mulai peduli dan sayang padamu” balas rino
“beneran?” Tanya zeta
“tentu saja istriku” balas rino ******* bibir zeta dengan mesra
***
“pagi zeta” sapa yama membawakan buket bunga untuk zeta
Zeta memutar bola matanya jengah “sudah berapa kali aku bilang ke pak yama, jangan bawakan saya bunga lagi, suami saya bisa marah pak” balas zeta meminta pengertian yama agar tak membuat suaminya marah akan sikap yama padanya
“suami? Mana suami kamu?” yama mengedarkan pandangannya ke sekeliling “kalau kau tak mau mengenalkan suamimu padaku, jangan pernah pikir aku akan percayakalau kau sudah menikah” balas yama yakin
Zeta mengangkat tangan kirinya menggoyangkan jari-jari tangannya “lihat baik-baik pak, ini adalah cincin pernikahan kami, ada inisial nama suamiku di sini” ucap zeta menunjukkan jari tangannya
kerja zeta menuju ruangan rino
“brak” yama melempar buket bunga ke meja rino dengan kasar
Rino menatap tajam kearah yama “apa-apaan kau ini?” Tanya,rino melirik bunga yang sudah agak koyak itu
“itu untuk zeta tapi dia menolaknya lagi” balas yama
Rino menghela nafasnya kasar “kan aku sudah bilang, kalu dia sudah menikah jadi jangan dekati dia” balas rino
yama tak menanggapi ucapan rino “apa jangan-jangan zeta jadi simpenan sugar daddy ya” tebak yama yang tenggelam dalam pikirannya sendiri
“jangan asal ngomong kamu yama!” teriak rino
“ya dia gak mau ngenalin suaminya ke aku, berarti dia bohong kalau sudah menikah. Mungkin saja benar dia jadi simpenan dan takut ketauan istri sahnya” balas yama makin menjadi
Rinomencodongkan tubuhnya menarik kerah yama kasar “jaga kata-katamu, jangan pernah menghina zeta dengan sebutan istri simpenan” ucap rino penuh penekananan
“ya terus siapa suaminya? Beri tahu aku maka aku akan menyerah” balas yama
“aku suaminya” balas rino menatap tajam yama
“apa” yama tertawa “jangan ngada-ngada kamu. Kapan coba kamu nikah? Kalau dia bener istri kamu ngapain coba disembunyiin, dia jadi sekertaris kamu pula” balas yama masih tertawa lantang
Rino menunjuk tangan yang tersemat cincin nikahnya di sana “lihat baik-baik ini, bukannya sama dengan yang zeta pakai?” Tanya rino
Yama menghampiri rino memegang tangan rino agar lebih melihat dengan jelas cincin yang melingkar di tangan rino “kenapa kau menikahinya!” teriak yama tak terima jika rino yang menikah dengan zeta
“yah kenapa, pernikahanku dengannya adalah urusan kita berdua tak ada sangkut pautnya denganmu” balas rino
“aku tak rela kau menikah dengannya”balas yama tak terima
“aku tak peduli” balas rino kembali ke aktivitasnya di depan komputernya
“aku akan merebutnya darimu” ucap yama membuang mukanya kasar
Rino menatap tajam yama”jangan main-main denganku yama!” teriak rino menggema ke penjuru ruangan membuat yama terhenyak saking terkejutnya
“dulu mungkin kau dengan mudah merebut kekasihku dengan sifat playboy mu itu!” rino berdiri menghampiri yama menatap tajam yama”tapi jika kau berani-berani mengusik istriku, akan ku pastikan menghancurkanmu
menjadi butiran debu. Jangan kau pikir aku hanya bekerja di perusahaan ini dan tak punya kekuasaan apapun untuk menghancurkan perusahaan kecilmu itu” ucap rino dengan nada intimidasi
Yama menelan salivanya dengan kasar “kenapa kau jadi semenakutkan ini?” Tanya yama yang baru melihat tatapan iblis dari rino
Rino berusaha mengontrol emosinya “jangan coba-coba usik istriku kalau tak ingin aku yang selalu ku tutupi dengan baik, keluar untuk menghabisimu” balas rino mendorong tubuh yama kasar
“iya sih, aku gak sampai segila itu merebut istri orang, aku hanya ingin tahu siapa yang dinikahi zeta. itu saja tak lebih” balas yama
“dulu kau saja dengan mudah tidur dengan kekasihku di depan mataku” balas rino mengingat kejadian saat ia melihat kekasihnya semasa kuliah tidur dengan yama di salah satu ruang kosong di kampus
“aku akui salah saaat itu, tapi aku berani sumpah padamu kalau aku tak pernah merayunya” ucap yama mengangkat tangannya membentuk huruf V
“sudahlah, aku juga sudah tak terlalu perduli” balas rino tak ingin mengingat penghianatan kekasihnya dulu
“tapi sumpah ya no, aku gak pernah rayu dia. Dia yang datang padaku dan bilang butuh kehangatan, hal yang tak bisa kau berikan padanya” rino menatap tajam yama karena ucapan yama yang terkesan sarkas itu
“itu dia yang bilang ya no, aku tuh Cuma manusia biasa. Di kasih barang mulus gitu ya jelas maul ah aku, dia juga Cuma minta beliin tas doang, yang urusan gampang buat aku” balas yama mengingat barter antara dirinya dan kekasih rino dulu
Rino menyipitkan matanya “beneran?” Tanya rino
“beneran, aku memang playboy, tapi aku gak pernah main paksaan atau tipuan. Wanita-wanita itu yang mau mendekat padaku” balas yama jujur