Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Aku menyerah (season 2)



***


Eila berjalan masuk ke arah sebuah café bernuansa kebun bunga. cafe itu terlihat asri dan begitu nyaman


“maaf menunggu lama ya” ucap eila sopan pada seorang pria yang sedang menunggunya


pria itu mendongak dan tersenyum pada eila “tidak masalah jika harus menunggu wanita cantik” pria tersebut menunjuk kursi di hadapannya “ silahkan duduk” ucap pria tersebut


“terima kasih” eila duduk di hadapan pria tersebut


“ada apa ya anda ingin menemui saya?” Tanya eila


Pria tersebut  tersenyum ramah “ sebelum kita bicara lebih jauh sebaiknya kita kenalan dulu” pria tersebut mengangkat tangannya mengajak eila berjabat tangan “ namaku Marendra Artadinata, bisa kau panggil rendra” ucap rendra memperkenalkan dirinya pada eila


Eila menjabat tangan rendra “aku eila” balas eila


“aku sudah tahu namamu dari Bianca” sahut rendra


bianca adalah salah sayu teman eila yang berkelut di dunia seni “lalu ada apa mencariku?” Tanya eila


“begini eila, aku butuh bantuanmu untuk melukis” ucap rendra memberitahukan maksudnya mencari eila


Eila menautkan alisnya “kau memintaku” eila menunjuk dirinya


“iya” rendra mengangguk membenarkan


“maaf sepertinya anda salah cari orang, saya bukan pelukis yang melukis untuk seseorang” eila menolak secara halus permintaan rendra


“aku sudah cukup tahu gaya melukismu dan aku membutuhkan lukisan mu untuk buku yang  akan aku terbitkan” balas rendra


“kau seorang penulis?” Tanya eila


“hanya sebagai selingan saja” balas rendra


“tapi sepertinya aku bukan orang  yang bisa melakukan pekerjaan itu, aku adalah orang yang tak bisa mencampurkan keinginan orang lain dalam membuat lukisan. Itu bukan gayaku ” balas eila merasa pekerjaan itu tak cocok untuk dirinya


Rendra memberikan sebuah buku pada eila “kau baca dulu, baru putuskan untuk membuat lukisan untukku atau tidak?” ucap rendra


Eila mengangkat buku itu ke atas “anda gak salah ngasih ini ke saya? Kalau saya jiplak buku anda bagaimana” Tanya eila


“buku itu sudah aku daftarkan hak ciptanya jadi gak masalah, kalau kau menjiplaknya maka aku bisa minta ganti rugi hak cipta yang besar padamu” balas rendra dengan tersenyum


“baiklah, akan aku baca dulu” eila menyimpan buku itu dalam tasnya


“apa hari ini kau ada acara?” Tanya rendra


Eila menautkan kedua  alisnya “anda mengajak saya kencan?” Tanya eila


Rendra terkekeh “apakah aku terlihat seterbuka itu?” Tanya rendra


“ya kali saja, soalnya kau tiba-tiba menayakan aku ada acara atau tidak “ balas eila


“kalau kau ingin menganggapnya seperti itu juga tak masalah” balas rendra


“boleh saja jika kau ingin mengajaku jalan” ucap eila


“benarkah?” Tanya rendra


“apa kau ingin aku berubah pikiran?” balas eila


“tentu tidak” balas rendra


“ya sudah, kau ingin mengajaku kemana?” Tanya eila


“kau inginnya kemana?” Tanya rendra balik


“ kok malah balik nanya sih” kesal eila dengan jawaban rendra yang malah balik bertanya padahal kan dia yang mengajak pergi


“oke oke” rendra mengangkat kedua tangannya


“aku akan mengajak kau ke suatu tempat” ajak rendra


"baiklah" balas eila


Tak jauh dari tempat rendra dan eila daren duduk tak jauh dari tempat eila dan rendra duduk “mau kemana  lagi mereka” gumam daren yang ternyata mengikuti eila sejak tadi


Daren setengah berlari menuju mobilnya “ ngapain juga aku jadi gini” gumam daren merasa salah mengikuti eila tapi tetap saja ia tak menghentikan langkahnya untuk terus mengikuti eila


Daren terus mengikuti eila sepanjang jalan, hatinya serasa di remas kala melihat eila dan rendra bercanda dan saling bertukar senyum


“apa kau benar-benar bisa melupakanku” gumam daren melirik eila yang sedang bercanda dengan pria lain


cukup lama daren mengikuti eila dan rendra sampai pada akhirnya Daren memilih melangkah menjauh meninggalkan eila dan daren “sebaiknya aku menjauh, lagian kan ini yang aku inginkan kau bisa bahagia dengan orang lain” gumam daren meninggalkan eila walaupun hatinya terasa berat untuk pergi menjauh dari sana


Eila yang sedari tadi melihat daren mengikutinya, menatap tak percaya daren yang pergi begitu saja tanpa berucap sepatah kata pun padanya “stop!” teriak eila menghentikan langkah daren


Daren diam mematung, jantungnya seakan melompat kala ia mendengar suara orang yang


cukup ia kenal memanggil dirinya


Daren kembali melangkah “stop aku bilang!”teriak eila


Daren menoleh kebelakang “Ada apa?” Tanya daren bersikap dingin


Eila menghampiri daren “mau kemana kau?” Tanya eila


“pulang” balas daren datar


“bagaimana bisa kau merelakan aku dengan orang lain” kesal eila mendapati daren yang tak melakukan apapun saat melihat dirinya bersama pria lain


Daren menautkan alisnya “apa maksudmu?” Tanya daren


“aku tahu dengan sangat kalau kau mencintaiku, tapi ketakutanmu yang menyebabkan kau menjauhiku” ucap eila


Mata daren membelalak lebar “bagaimana bisa kau berucap seperti itu?” Tanya daren


“tapi benar kan apa yang aku bilang?” Tanya eila


“sepertinya kau salah paham” daren berbalik dan bergegas meninggalkan eila, dia tak  sanggup membantah lagi jika masih berhadapan dengan eila


“baik, kalau kau menghindar terus” eila menghela nafas panjang  “aku akan menikah dengan pria itu” ucap eila


menunjuk daren yang berada  tak jauh darinya


Daren menghentikan langkahnya  kala mendengar eila akan menikah “dan aku akan jadi istri keduanya” seru eila


Rendra tentu terkejut dengan ucapan eila bagaimana bisa eila mengatakan akan menjadi istri kedua rendra, menikah saja belum ini sudah main di bilang menjadi istri kedua


Daren menoleh dan menatap tajam eila “apa kau gila eila!” teriak daren


“iya aku gila, gila karena berharap padamu” tuding eila di penuhi rasa amarah


Eila bergegas pergi dan menarik lengan rendra “kenapa kau bilang mau jadi istri keduaku? Nikah saja belum” bisik rendra


“aku mohon kali ini bantu aku dan nanti aku akan membantumu” balas eila


“kau akan jadi pelukis bukuku” Tanya rendra


“itu gampang” balas eila


“apa dia kekasihmu?” Tanya rendra


“iya” balas eila


“baiklah, aku akan membantumu, tapi lukisanmu beri diskon ya” pinta rendra


Eila menghentikan langkah dan menatap rendra tak percaya “sempat-sempatnya kau memikirkan itu?” Tanya eila


“pembisnis yang baik adalah orang yang bisa selalu memanfaatkan keadaan, apapun itu” balas rendra


Eila menghela nafas  panjang“ itu tak masalah” eila kembali melanjutkan langkahnya


Daren diam mematung melihat punggung eila yang makin menjauh. telinganya terus terngiang-ngiang setelah  mendengar ucapan eila “bagaimana bisa kau menikah dengan orang yang sudah berkeluarga eila” gumam daren tak percaya dengan pilihan eila