
Eila masih menangis histeris di lantai, ia meraung meluapkan pikiran kalutnya tapi tak ada satu pun yang menolong ataupun membantunya
daren melirik eila, dengan memikirkan ucapan demi ucapan yang terlontar dari mulut eila dan brandon. ia merasa ada kejanggalan dengan ini semua
Daren mulai tersadar dengan keadaan saat ini. Daren mengambil surat yang di bawa Brandon yang masih tergeletak di atas lantai begitu saja
askar melirik langkah daren yang menuju surat keterangan hamil eila “sudah daren jangan di baca lagi, emang kakakku hamil aku sudah membacanya tadi” askar menahan tangan daren dan melarang daren membaca kembali surat keterangan dokter yang Brandon bawa
Daren menampik tangan askar dan membaca amplop yang di bawa Brandon satu persatu dengan teliti
di sana tertulis ny. Raina Elia Mahardika sedang hamil 10 minggu, daren melihat foto USG berupa bayi kecil yang belum terbentuk sempurna anggota tubuhnya, dan juga ada tanggal pemeriksaan eila 2 minggu lalu
"berarti sekarang 12 minggu" gumam daren mengusap lembut foto USG tersebut, daren mengingat percintaannya dengan eila sebelum ia berangkat ke berlin dan jika di hitung waktunya cocok, ketimbang saat ia masih di berlin yang itu adalah dua bulan lalu
Daren memandang eila dengan tatapan yang sulit di artikan. eila masih saja menangis histeris dan tak ada yang mendekatinya. Daren
berjalan pelan ke arah eila, matanya berkaca-kaca mengingat dirinya yang sudah mengambil mahkota eila
tentu daren sadar betul bahwa dirinya yang pertama menyentuh kekasihnya dilihat bekas darah yang ia lihat saat setelah mereka bercinta
Ada rasa bersalah dan bercampur bahagia di matanya menatap eila yang masih menangis sesenggukan
Daren menekuk satu kakinya dengan satunya berada di atas lantai, ia menggapai tangan eila dan menggenggamnya erat “kenapa kau gak bilang padaku sayang?” Tanya daren dengan linangan air mata yang terus mengalir dengan bebasnya di pipi daren
Eila masih terisak menatap daren tanpa berucap apapun, pikirannya masih begitu kosong karena hal ini begitu tiba-tiba dan di luar ekspetasinya
“kenapa kau gak bilang kalau sedang hamil anaku” ucap daren membuat semua pasang mata beralih ke arah eila dan daren yang masih sama-sama menangis
Eila makin terisak karena mendengar ucapan daren yang seolah angin segar di tengah oasis yang begitu terik. Eila langsung memeluk daren dengan erat “aku gak di kasih kesempatan bicara” keluh eila dengan suara sesenggukan
“kenapa gak cerita kalau kamu sedang hamil?” Tanya daren lagi
“pengen kasih kejutan buat kado pernikahan tapi malah aku yang di buat terkejut” balas eila
“jadi ini sebabnya kamu pengen cepat-cepat kita nikah” Tanya daren tetap setia mengusap punggung eila agar eila berhenti menangis
“setelah acara selamatan kelahiran baby gilang, aku baru tahu kalau sedang hamil setelah periksa ke dokter. Waktu itu aku terlalu takut di salahkan jika hamil sebelum menikah makanya aku cepat-cepat minta kita menikah dan rencananya kasih tahu aku hamil setelah kita menikah sekalian buat kejutan untuk kamu. kamu kan pengen kita cepet punya anak” eila melirik Brandon tajam
“aku gak tahu dia dapet dari mana hasil pemeriksaan kandunganku dan bikin drama seperti ini di acara pernikahan kita” jelas eila menatap kesal brandon
“maafin aku sayang” pinta daren lirih
“enggak papa sayang, aku gak marah kok cuma sedikit takut kamu gak percaya kalau aku mengandung anak kamu” balas Eila
Daren mengurai pelukan eila dan menatap papi dylan dengan tatapan penyesalan
daren berdiri menatap papi dylan dan membungkukan badannya ke arah orang tua kekasihnyan
“maafin saya papi dylan, saya memang salah dan saya akan bertanggung jawab penuh karena perbuatan saya pada eila” ucap
daren
Brandon menjadi gelagapan. Rencananya gagal, tak pernah terbesit dalam pikirannya daren yang terkenal dingin dan selalu menjaga jarak dari wanita akan menyentuh eila sebelum menikah “bagaimana kamu bisa percaya dengannya jika dia hamil anak kamu, dia itu bukan wanita baik-baik. Dia orang yang suka
bergonta-ganti pasangan” ucap Brandon lantang pada daren
Daren menatap tajam Brandon “buggh” daren langsung berlari dan membogem mentah Brandon
“ini untuk hinaan yang kau berikan pada eila” tubuh Brandon terpental jauh
daren kembali menghampiri Brandon “bugh” daren kembali memukul Brandon “dan itu untuk kau yang membawa kabur kekasihku tanpa izinku“ kesal daren memgingat bahwa memang eila tak pulang selama dua hari bersama brandon
Brandon mengusap sudut bibirnya yang berdarah “apa kau yakin anak itu anakmu” Tanya Brandon dengan nada cemooh
“tentu aku yakin, aku lebih tahu kekasihku seperti apa. Dan aku tahu betul dia sangat mencintaiku. Aku akui memang kami bersalah sudah membuat anak sebelum menikah. Tapi aku berani jamin bahwa aku adalah orang pertama yang menyentuhnya” balas
daren lantang dan tanpa ada keraguan
“hahahaha” Brandon tertawa lantang mendengar penuturan daren, tawa sesak bercampur kesal
Brandon menatap penuh amarah pada eila “bagaimana bisa kau merelakan tubuhmu untuknya
hah!” teriak Brandon lantang
“kau hanya milikku” kesal Brandon menatap tajam eila
“prok prok prok” Brandon bertepuk tangan memberi kode para bawahannya untuk datang
Para pria berbaju hitam datang memasuki rumah keluarga mahardika setelah mendapat kode dari brandon
Papi dylan mengernyitkan dahinya ke arah Brandon yang membawa banyak pengawal masuk ke dalam rumahnya “kau menantangku hah?” papi dylan menepuk dadanya dan menatap tajam ke arah Brandon
"di saat aku ada di usiamu aku sudah ikut berperang di negeri seberang sana jadi jangan kau pikir aku akan gentar dengan anak kemarin sore macam kau" kesal papi dylan
papi dylan tentu tersinggung dengan tingkah Brandon. papi dylan adalah mantan aparat negara yang sudah terbiasa mengatasi hal seperti ini, tentu tidak akan gentar hanya mengadapi seorang bocah ingusan macam brandon
“aku sama sekali tak ingin menantang om dylan, aku hanya ingin dia” tunjuk Brandon pada eila
Daren dengan sigap menyembunyikan eila di belakang tubuhnya “kau pikir aku akan membiarkan kau mengambilnya dariku” balas daren dengan suara lantang
Brandon terkekeh “kau pikir bisa melawanku saat ini? “ Brandon menunjuk semua yang
hadir dalam pesta “aku sudah menutup semua akses untuk ke sini, tak akan ada yang bisa menolong kalian” kekeh Brandon pongah
“jangan remehkan keluargaku ya” papi dylan menunjuk semua pengawal Brandon yang
berkisar 50 orang “ walaupun usiaku sudah tua bukan berarti aku akan kalah dengan cecunguk seperti kalian “ umpat papi dylan menunjuk para anak buah Brandon