Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Hamil?



***


Riska berjalan menghampiri dokter ken di ruangannya “malam dokter” sapa angel mengecup bibir dokter ken sekilas


dokter ken menerima kecupan Riska yang memang terbiasa mengecup dokter ken di bagian bibir “malam” balas dokter ken tersenyum manis ke arah Riska


Riska memilih duduk di hadapan dokter ken “ada apa? Tumben dokter minta aku kesini?” Tanya Riska


“ada yang ingin aku bicarain sama kamu ” balas dokter ken


"apa?" tanya Riska


belum sempat dokter ken menjawab pertanyaan Riska terdengar suara ketukan pintu


“tok tok tok” terdengar suara ketukan pintu di depan ruangannya


“masuk” ucap dokter ken mempersilahkan orang yang mengetuk pintu untuk masuk


Dokter ken tersenyum ke arah orang yang membuka pintu  “duduk” ucap dokter ken mempersilahkan pria yang mengetuk pintu untu masuk


Pria tersebut duduk di samping riska dengan santai  “ada apa kau menyuruhku datang?" Tanya rino datar


Riska menoleh ke arah Rino sekilas lalu beralih menatap dokter ken dengan menautkan kedua alisnya  “seperti yang aku pernah bilang pada kalian aku ingin kalian betemu dan menyelesaikan masalah kalian dengan saling bicara terbuka ” seru dokter ken


mendengar ucapan dokter ken Rino menoleh ke arah samping, yang sebelumnya tak begitu ia perhatikan siapa “kamu” rino menatap sinis riska


melihat tatapan mata Rino ada rasa tak enak hati yang Riska rasakan “maafkan aku” ucap riska menunduk


“heh” rino membuang mukanya kasar


dokter ken menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua pasiennya itu “sudahlah, sebagai pasienku, aku ingin kalian berbaikan dan saling memaafkan” pinta dokter ken


Rino tersenyum kecut ke arah dokter ken “kenapa aku harus memaafkannya?” Tanya Rino


“ayo lah rino, aku kan sudah jelaskan kondisi riska padamu dan dia juga sudah minta maaf padamu bahkan sudah menemui istrimu secara langsung untuk meminta maaf dan bukankah istrimu juga sudah memafkan Riska , jadi apa salahnya memaafkan Riska ?” Tanya dokter ken


“aku malas saja bertemu dengannya” balas rino kesal


dokter ken menatap Rino “kalian punya masalah tersendiri, tapi harusnya kau bersyukur dengan adanya keluargamu yang mendukung untuk kesembuhanmu bahkan istrimu menerima kondisimu dan tak mempersalahkan penyakitmu setelah ia tahu kondisimu, berbeda dengan riska yang hanya seorang diri menghadapi penyakitnya ” balas dokter ken


“kata siapa dia sendiri?” Tanya rino berdecih


Dokter ken menautkan alisnya bingung dengan pernyataan Rino  “kan dokter ken kekasihnya, jadi dokternya pula jadi kurang apa dia,  coba?” Tanya Rino


Dokter ken terkekeh “apa begitu?” Tanya dokter ken senang dengan Rino yang mengatakan dokter ken sebagai kekasih Riska yang merangkap sebagai dokter Riska


“iya” kesal rino dengan nada setengah tinggi


dokter ken menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Rino “kamu ini kenapa sih rino selalu saja kesal saat bertemu denganku tapi bisa sangat manis saat bertemu istrimu?” Tanya dokter ken mengingat tatapan mata Rino saat melihat zata istri Rino


“lalu kenapa juga dokter ken yang selalu membuatku kesal tapi kalau sama Riska gak pernah marah padahal kelakuaannya bikin kesel setengah mati?”  Tanya balik rino


“entahlah” balas dokter ken mengangkat kedua bahunya pertanda tak tahu


Rino menghela nafas “sudah lah, aku sudah tak menaruh dendam apapun padamu riska, aku juga ingin sembuh agar tidak terus ketemu pria tua Bangka di depanku ini” ucap rino melirik dokter ken sebal


“ya sudah, karena jadwal konselingku masih 2 hari lagi, aku pulang dulu, aku hari ini lelah sekali seharian bekerja” ucap rino beranjak dari duduknya meninggalkan ruangan dokter ken


“oh ya” rino menoleh kearah riska “tadi aku dapat titip pesan dari istriku, foto USG kamu tertinggal di kursi tunggu pasien tadi,  jadi istriku yang menyimpannya, katanya ambil saja ke rumah" ucap Rino  "dan selamat atas kehamilanmu” ucap rino dengan wajah datarnya


rino menoleh kearah dokter ken “selamat bapak tua, akan punya anak, rajinlah berolahraga jika masih ingin kuat menggendong anakmu nanti secara, kau kan sudah tua Bangka jadi tulang-tulang mu  pasti sudah banyak yang keropos” ucap rino bergegas menutup pintu meninggalkan ruangan dokter Rino


Dokter ken masih terpaku dengan penuturan rino dan menatap riska dengan penuh tanda Tanya


Riska hanya diam menunduk tanpa ada suara, ia tak menyangka Rino akan memberi tahu dokter ken tentang kehamilannya, padahal dirinya sendiri masih bingung bagaimana memberitahu berita kehamilannya pada dokter ken


Riska baru kemarin tahu dirinya hamil, dan kebetulan bertemu dengan zeta yang sedang periksa rutin kehamilannya bersama ibu mardiana


Dokter ken mengambil pesawat telponnya “kasih, apa ada pasien lagi?” Tanya dokter ken tetap menatapp wajag riska


“sepertinya tidak ada tuan” balas kasih perawat jaga depan ruangan dokter ken


“ya sudah, kamu dan yang lain pulang saja, saya ada urusan jadi kita tutup hari ini lebih cepat” ucap dokter ken yang ingin cepat menutup kliniknya hari ini


“ya sudah pak saya akan minta yang lain pulang, nanti saya akan pulang setelah tuan pulang sekalian kunci pintu” balas kasih


“tidak usah tunggu saya, kamu pulang saja, biar saya yang kunci klinik nanti ” balas dokter Ken menutup telponnya


Dokter ken terus bicara tanpa melepaskan pandangannya pada riska  yang terus menunduk “ayo  kita menikah” ucap dokter ken tanpa aba-aba


“hah?” Tanya riska mendongak dengan cepat menatap dokter ken


“jangan biarkan dia hadir tanpa keluarga lengkap” ucap dokter ken melirik perut rata riska


“tapi” riska masih tak yakin dengan sebuah ikatan pernikahan


“apa kau masih tak yakin aku mencintaimu” Tanya dokter ken


“emmmm” riska menggantungkan ucapannya, bingung harus berkata apa


“sudahlah, kita temui orang tuamu sekarang dan kita akan menikah lusa” ucap dokter ken segera meraih tangan riska dengan senyum mengembang


Riska menahan tangan dokter ken “dokter jangan ngada-ngada deh, masa nikahnya kilat amat?” Tanya riska tak percaya pada dokter ken yang mengajaknya menikah lusa


Dokter ken memeluk riska erat “aku tak ingin kehilanganmu” ucap dokter ken menyandarkan kepalanya di bahu riska, mencium harum tubuh riska


“dokter tahu dia kembali ya?” Tanya riska lirih, seolah tahu alasan dokter ken mengajak buru-buru menikah


“kau saja bisa tahu, jadi bagaimana aku tak tahu” balas dokter ken tahu arah pembicaraan riska


Riska menghela nafas “kita daftarkan pernikahan kita saja dulu, baru kita temui orang tuaku” ucap riska


Dokter ken melonggarkan pelukannya “beneran?” Tanya dokter ken memastikan ucapan Riska


Riska mengangguk “hmmm”


"terima kasih" ucap dokter ken senang dengan Riska yang mau menikah dengannya segera