
***
“dad nanti pengacara keluarga ayah akan datang untuk membantu daddy mengurus perceraian daddy” ucap prastyo pada daddy Nicole yang sedang duduk di bangku taman
Daddy Nicole melihat penampilan anaknya yang sudah rapih dan memakai setelan rapih “kau mau kemana? Bukannya kau masih libur dan lusa baru masuk kantor lagi?” Tanya daddy Nicole
“ada janji sama teman dad” prastyo memeluk daddy Nicole dan keluar rumah dengan langkah cepat
Prastyo melajukan mobilnya menuju sebuah café di daerah Jakarta selatan. Sesampainya di sana prastyo berjalan dengan santai memasuki café tersebut
prastyo menghampiri wanita muda yang sedang duduk sembari menopang dagunya dengan kedua tangan “pagi” sapa prastyo ramah
Perempuan yang di sapa menoleh dan tersenyum “pagi om” balas sita membenarkan posisi duduknya
“kau sudah lama sampai?” Tanya prastyo duduk di hadapan sita
“tidak kok om, barusan saja sita sampai” balas sita
“om mau pesan apa?” Tanya sita
“jus jeruk saja, om masih kenyang tadi nemenin daddy makan jadi sekalian sarapan” balas prastyo
Sita memanggil pelayan untuk memesankan jus jeruk untuk prastyo
“daddy om jadi bercerai?” Tanya sita yang sudah tahu perihal keluarga prastyo karena tadi pagi mereka saling bicara di telpon
“jadi, om sudah suruh pengacara untuk mengurusnya” balas prastyo dengan santai
Sita bingung dengan raut wajah biasa saja mengurus perceraian orang tuanya “om gak sedih?” Tanya sita
“untuk apa?” Tanya prastyo heran dengan pertanyaan sita
“kan orang tua om akan bercerai? Ya walaupun mereka bercerai di usia om yang sudah tidak muda lagi, tapi kan
tetap saja mereka orang tua om jadi harusnya sedih” balas sita
Prastyo terkekeh “ istri daddyku bukan ibu kandungku” ucap prastyo
“ha?” mulut sita menganga lebar tak paham dengan penuturan prastyo, karena prastyo sempat cerita hubungan daddy nicole dan istrinya tidak baik sejak lama jadi sita fikir mereka adalah orang tua kandung prastyo
Prastyo memasukan kue yang ada di meja untuk menutupi mulut sita “daddy dan mamaku tak pernah menikah dan istri daddyku bukan ibu kandungku, cukup itu saja yang kau tahu” jelas prastyo dan memberikan rambu-rambu berhenti dan tidak untuk bertanya kembali padanya karena itu adalah hal pribadi yang belum ingin ia ceritakan dengan orang yang baru ia kenal ya walaupun dengan sita prastyo sudah cukup banyak bercerita tentang kehidupannya
Sita mengangguk “iya om” balas sita tak ingin bertanya lebih lanjut karena takut menyinggung prastyo
“gimana persiapan kuliahmu, lancar?” Tanya prastyo
“lancar om” balas sita
“apa kau ada rencana hari ini?” Tanya prastyo
“tidak om, kenapa?” Tanya sita
“ingin mengajakmu jalan-jalan, itupun kalau kau tak keberatan” balas prastyo
Sita tersenyum bahagia “ gak kok om, malah sita seneng banget om ajak sita jalan, sita bête sendirian di rumah” balas sita
“oke, abis kamu makan kita jalan-jalan” ucap prastyo
Prastyo membawa sita jalan-jalan ke sebuah danau di daerah puncak, lebih tepatnya di villa keluarganya
“wah bagus banget” gumam sita melihat indahnya pemandangan danau yang di datangi
“kau suka?” Tanya prastyo melihat sita yang belari dengan girang di pinggiran danau
“iya om, sita suka” balas sita
Sita mengedarkan pandangannya ke sekeliling “padahal disini bagus banget, tapi kok sepi ya om” tanya sita
“karena ini milik pribadi jadi tak ada pengunjung” balas prastyo merebahkan tubuhnya di saung di pinggir danau
“bukan, ini milik kakak iparku” balas prastyo
“kakak ipar kakak orang kaya dong” tanya sita karena lokasi danau yang cukup luas
prastyo terkekeh “kenapa kamu mikir gitu?” Tanya prastyo
“tempat ini luas banget, dan itu” sita menunjuk bangunan yang cukup menjulang tinggi “ bangunan itu sepertinya
mahal” ucap sita yang yakin bahwa vila yang ada di dekat danau jadi satu dengan danau ini karena hanya ada satu bangunan di dekat danau
“ya lumayan sih, wlaaupun kakak kandungku jauh lebih kaya sih” dokter ken memang sebenarnya jauh lebih kaya dari riska cuma tidak terlalu ia tampilkan saja di depan umum
“emang kakak tidak kaya?” Tanya sita
“tidak" prastyo menggelengkan kepalanya merasa dirinya tak kaya kaena apa yang dimiliki adlah adalah pemberian keluarganya bukan hasil kerjanya sendiri "semua barang yang aku miliki pemberian kakakku, yang aku beli dengan uangku tanpa campur tangan kakakku hanya mobil itu saja” tunjuk prastyo pada mobil yang ia tumpangi ke danau itu
Prastyo menggoyangkan ponselnya “ponselku saja hadiah dari ayahku” ucap prastyo dengan jujur
Ya iya lah hadiah, keluarga yang lain juga dapat hadiah sama, karena ayah Benjamin mendapat beberapa contoh ponsel akibat dia yang memiliki saham di perusahaan berlambang buah di gigit itu bahkan aira saja ikut kebagian karena aira cukup dekat dengan keluarga arsello
“om kan kerja, nanti pasti ada saatnya om gak harus bergantung sama kakak om lagi” ucap sita mencoba menguatkan prastyo agar lebih berusaha lagi menjadi lebih baik dari kakakknya dan agar bisa mandiri
Sita ikut membaringkan tubuhnya di samping prastyo dan menatap langit-langit saung “berapa usia om sekarang?” Tanya sita
“kenapa kamu Tanya?” tanya prastyo balik
“ingin tahu saja” balas sita
“om sudah tua kali, malas menyebut angka usia” balas prastyo terkekeh merasa malu karena usianya yang tak lagi muda
“kalau sudah tua kenapa belum menikah?” Tanya sita
Prastyo menoleh ke samping “emang kamu tahu dari mana om belum menikah, kayanya om gak pernah cerita kalau om belum menikah deh” Tanya prastyo dan bukannya menjawab pertanyaan sita
Sita melirik tangan prastyo “tangan om kosong dan gak ada bekas cincin juga, terus om selalu bisa angkat
telpon sita kalau sedang tidak bekerja, bahkan dari pagi sampai siang ini gak ada satupun pesan dari seorang wanita untuk om” balas sita mengamati setiap gerak-gerik prastyo
Prastyo terkekeh “emang iya sih bujang lapuk berusia 40 tahun ini belum menikah atau mungkin gak ada yang mau menikah dengan pria macam om” ucap prastyo merasa rendah diri dengan dirinya
Sita membalikkan tubuhnya menjadi telungkup, ia menahan tubuh bagian atasnya dengan siku tangannya menatap wajah prastyo “kenapa gak ada yang mau menikah dengan om? Om itu orang yang sangat baik tahu” ucap sita
prastyo terkekeh "kalau menurutmu om baik emangnya kamu mau menikah sama om?” Tanya prastyo
“mau” balas sita tanpa keraguan
Jantung prastyo seakan berhenti berdetak mendengar jawaban sita tapi ia coba mengendalikan perasaannya “jangan bercanda sita, kamu itu baru kenal om berapa hari jadi kamu fikir om adalah orang yang baik karena kamu belum tahu bagaimana kelakuan om dulu” ucap prastyo
“mau gimanapun om dulu tapi kan sekarang om adalah orang yang baik jadi itu artinya om orang baik, kan yang
dulu adalah hal lewat jadi tak perlu diingat” sahut sita
“jangan ngada-ngada deh, anak kecil” gumam prastyo mengacak-acak rambut sita yang tepat berada di atasnya
dengan wajah yang saling berhadapan
“gini-gini sita anak kecil yang bisa bikin anak kecil tau om” balas sita dengan percaya diri
"sudah ah,jangan ngaco lagi” ucapprastyo mendorong wajah sita dengan telunjuk tangannya
“kita makan dulu, abis itu kita pulang ke Jakarta” ucap prastyo menarik tangan sita menuju vila milik kakak
iparnya
Setelah selesai makan sesuai ucapannya prastyo membawa sita pulang ke Jakarta dan mengantarnya sampai depan rumah sita yang tak prastyo ketahui bahwa itu adalah rumah orang yang ia kenal