
dylan membantu aira mandi ala ala dylan yang membuat acara mandi mereka jadi cukup lama
setelah selesai mandi dylan membantu aira mengeringkan rambutnya di depan cermin besar yang berada di kamar aira
"aira bisa mengeringkan rambut sendiri kok bang, kan tangan abang lagi sakit" ucap aira tak enak hati melihat tangan dylan yang masih diperban tapi malah melakukan banyak hal untuknya, mulai dari mandi, memakaikan baju dan mengeringkan rambutnya
"gak papa ra, lagian tanggung juga" balas dylan cuek melanjutkan pekerjaannya
"terserah abang saja" ucap aira sambil melihat dylan dari pantulan cermin
aira memperhatikan dylan yang sedang mengeringkan rambutnya dengan tatapan kagum sambil senyum-senyum
"suamiku makin terlihat tampan dari hari ke hari" batin aira memandangi dylan takjub
" sudah selesai" ucap dylan membereskan alat pengering rambut karena sudah selesai membantu aira mengeringkan rambutnya
"tidur yuk ra" ajak dylan menarik tangan aira ke ranjang tidur mereka
dylan membaringkan tubuh aira lalu menyelimuti aira sampai dada
aira menatap heran dylan "abang kita mau langsung tidur? " tanya aira yang melihat dylan sedang mencari posisi ternyaman untuk tidur
dylan berbalik menatap aira "kenapa? pengen olahraga malam dulu apa biar tidur nyenyak" tanya dylan menggerlingkan sebelah matanya sambil tersenyum nakal pada aira
muka aira langsung bersemu merah mendengar pertanyaan dylan " apa sih bang, pikirannya mesum melulu" balas aira memegang kedua pipinya
dylan melihat sikap aira membuat dirinya tersenyum gemas "ya terus mau apa sayang? " tanya dylan menarik tangan aira dan menggenggamnya erat
"pengen ngobrol saja sama abang" balas aira
dylan membawa aira dalam pelukannya "mau ngobrol apa sih istriku sayang? "tanya dylan
" abang" panggil aira
"iya" balas dylan
"makasih ya sudah selalu ada buat aira" ucap aira bersembunyi dibalik dada bidang dylan memeluknya erat
"tentu saja abang selalu ada buatmu kan abang suami kamu" balas dylan
"Terima kasih juga sudah hadir di hidup aira mendampingi dan selalu melindungi aira, padahal aira belum pernah melakukan apapun untuk abang" ucap aira tak enak hati
"apa kau tak bosan selalu mengucapkan kata Terima kasih? " tanya dylan
" aira gak tahu lagi harus bilang apa ke abang, Kata-kata sepertinya sudah habis semua makanya aira cuma bisa bilang Terima kasih " ucap aira sendu
dylan tersenyum tipis mendengar jawaban aira "ada yang lain yang bisa kamu lakuin selain kata Terima kasih sama abang" ucap dylan
aira langsung mendongak menatap suaminya lekat " apa bang? " tanya aira semangat
"apapun selagi aira bisa pasti aira lakuin bang" tambah aira
dylan menatap manik mata aira dalam, ada kesungguhan di sana dan tak ada kebohongan atau paksaan
"dengan ini" ucap dylan menyambar bibir aira dengan lahap dan aira membalas perlakuan dylan tanpa ada bantahan atau penolakan
saat mereka kehabisan nafas, mereka berhenti sejenak untuk mengambil nafas dalam-dalam "apa cukup dengan ini? " tanya aira tersenyum
"tentu saja tidak" dylan berpindah posisi menjadi di atas aira dan mengungkungnya dengan tubuh kekarnya, yang nampak otot tubuhnya yang terus terlatih karena pekerjaan dylan yang menuntut kebugaran tubuh karena harus mengejar para penahat yang tentu cepat dalam berlari dan kuat berkelahi
dylan kembali mencium aira tapi aira mendorongnya sebelum lanjut terlalu jauh " bang tangan abang kan lagi sakit" ucap aira melirik perban tangan dylan
dylan mengangkat tangannya yang di perban "ini mah gak masalah" lanjut dylan dengan kegiatannya
aira kembali menahan tubuh dylan untuk mendekat "tapi nanti kalau viko pulang terus melihat kita seperti ini gimana?" tanya aira
dylan mendekat ke telinga aira " tadi kakakmu rino kirim pesan, mereka akan menginap di rumah kakak pertamamu malam ini" bisik dylan dengan senyum nakal
dylan menarik tangan aira agar tak menutupi wajah aira " abang pelan dan gak main di tempat kamu terluka" ucap dylan melanjutkan malam panas mereka dengan suara *******-******* manis yang hanya di dengar oleh angin malam, karena memang tak ada orang di rumah aira, pekerja di rumah orang tua aira pun di bawa menginap di tempat kakak pertama aira agar mereka punya waktu berdua saja tanpa ada gangguan
kali ini dylan melakukan dengan perlahan dan berhati hati karena tak ingin luka aira ataupun dirinya terbuka kembali
***
hari berganti hari dan minggu berganti minggu
keadaan aira berangsur membaik, jahitannya pun sudah di lepas dan tidak memakai perban lagi di lehernya
mereka pun memutuskan kembali ke rumah mereka yang cukup lama di tinggali dan juga sudah rindu suasana rumah sendiri. biar bagaimanapun rumah sendiri pasti jauh lebih baik
siang hari ayah subrata, ibu mardiana dan viko sedang berkumpul di ruang keluarga sambil menonton acara kesukaan viko "ayah ibu" sapa aira
"iya sayang" balas sang ibu menoleh ke arah aira
"kami mau pamit pulang" ucap aira sambil menenteng koper barang pribadi miliknya
"kalian jadi pulang? " tanya ibu mardiana sedih
"tentu saja, rumah kami sudah lama tak di urus bu kasian " balas aira
"tapi viko masih boleh nginep sini dulu gak? ibu masih kangen" tanya ibu mardiana
"masih kok bu" balas dylan menjawab pertanyaan ibu mertuanya
"beneran? " tanya ibu mardiana memastikan
"tentu saja viko kan cucu ibu, nanti bilang saja kapan untuk jemput viko ke dylan" balas dylan
"Terima kasih ya nak" ucap Ibu mardiana
akhirnya hanya dylan dan aira saja yang pulang dan viko masih menginap di tempat kakek dan neneknya
dylan berkendara 15 menit untuk sampai di rumahnya "akhirnya sampai rumah juga" ucap aira tersenyum memandang rumah dylan
aira langsung melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil menuju pintu rumah mereka, dylan yang melihatnya langsung mengejar aira dan membopong nya " ngapain mas gendong aira malu tahu, bukannya bawa koper di bagasi? " tanya aira memukul pelan dada bidang dylan
"itu mah bisa minta bibi buat bawa" ucap dylan tetap membopong aira dan membawanya masuk ke dalam rumah
mereka masuk rumah dengan canda tawa
"selamat sore" sapa seorang wanita saat dylan masuk rumah
dylan dan aira melihat siapa yang bicara "kamu?! " ucap dylan terkejut dan langsung menurunkan aira
wanita itu menghampiri dylan dan tersenyum "rumah ini masih sama seperti yang dulu ya" ucap wanita tersebut tersenyum penuh maksud
"apa maksud kedatangan mu? " tanya dylan dengan nada tak suka
" ternyata benar kau sudah menikah" balas wanita tersebut dengan nada tak sukanya pada aira dan dylan
aira sedikit bingung dengan arah percakapan mereka berdua
aira menarik lengan baju dylan " dia siapa bang? " tanya aira pada dylan
wanita tersebut menarik tangan aira untuk berjabat tangan "perkenalkan saya angel wiraatmadja" wanita tersebut menarik sudut bibirnya ke atas " tunangan dylan" ucap angel dengan bangga
" apa?! " kaget aira menatap tajam suaminya
bagaimana bisa ada seorang wanita yang mengaku tunangan suaminya. bukankah suaminya bilang hanya mencintainya dan tidak wanita manapun yang mampu menggeser tempatnya di hati sang suami
"angel" teriak dylan sambil menatap tajam angel dan angel hanya tersenyum sinis melihat raut muka dylan dan aira