
***
Teman-teman viko keluar kelas menuju kantin setelah bel istirahat berbunyi
“viko gak ke kantin?” Tanya Rio teman sekelas viko
Viko menunjukkan kotak bekal yang ia bawa dengan mengangkatnya ke atas “mamiku sudah membawakan bekal untukku” balas viko
rio mengangguk paham “ya sudah aku ke kantin ya” balas Rio yang di balas anggukan kepala oleh viko
Saat viko menyuapkan makanan ke mulutnya, viko melihat zaskia yang sedang duduk di kursinya seorang diri sembari menatap langit dari balik jendela “kau tak ke kantin?” Tanya viko so[an
“tidak, malas” jawan zaskia tetap memandang langit
“kau tak lapar?” Tanya viko lagi
“tidak” balas zaskia
“apa kau mau ikut makan bekalku? Kebetulan mamiku membawakan bekal cukup banyak untukku” tawar viko
Zaskia menoleh ke arah viko "apakah boleh?” Tanya zaskia memastikan
“tentu saja boleh, kan tadi aku yang menawarkan” balas viko
Zaskia menghampiri viko dan menatap makanan yang ada di hadapannya “ nih” viko memberikan sendok cadangan yang selalu ia bawa pada zaskia
Zaskia menerima sendok dari viko dan menyendokan makanan ke mulutnya “ apa ini masakan mamimu?” Tanya zaskia
“iya” balas viko kembali menyantap makanannya
“bukannya mamimu sangat sibuk, kok masih sempat masak bahkan nemenin kamu belajar?” Tanya zaskia penasaran, karena biasanya ia hanya hanya mendengar cerita dari teman-teman yang lain
“mamiku memang lumayan sibuk sih, tetapi mami selalu menyempatkan memasak makanan untukku dan adik-adikku, karena papi dan kedua adikku orang yang cukup pemilih dalam makan jadi mami selalu meluangkan waktu untuk membuat makanan untuk kami sekeluarga” balas viko
“sepertinya kelurgamu adalah keluarga bahagia?” Tanya zaskia
“iya, keluargaku adalah keluarga yang cukup bahagia dan saling menyayangi” balas viko mengingat bagaimana kebahagiaan keluarganya
Zaskia tersenyum dan mengangguk “mami kamu pinter masak ya” gumam zaskia menyuapkan makanan ke mulutnya dengan lahap
“kalau kau suka, mulai besok aku bisa membawakan makanan lebih untukmu” viko menawarkan masakan maminya untuk zaskia
Zaskia mendongak dan tersenyum pada viko “boleh, kalau tidak merepotkan” balas zaskia
Viko membalas dengan senyuman dan melanjutkan makannya dengan khidmat
***
“sudah sampai” seru yama menoleh ke belakang melihat eila yang duduk di debelakang sedang yang duduk di samping Yama adalah askar
“terima kasih uncle” ucap eila dengan tersenyum bahagia
“terima kasih sudah mengantarkan kami ya uncle” ucap askar
“sama-sama” balas Yama
“oh ya, apa pulang sekolah mau uncle jemput juga?” Tanya Yama sesaat sebelum askar turun
“tidak usah uncle, om jojo nanti yang jemput kita. Kan jadwal pulang kak viko sore sedangkan kita jam 12” sahut eila
“ya sudah kalau gitu” balas Yama tersenyum
“ya sudah, kami masuk ya om, semangat kerja ya” ucap eila mencium punggung tangan Yama takzim
Askar pun menyalami yama takzim “ dah om” askar dan eila bergegas masuk sekolah, yama begegas menuju kantornya untuk bekerja
***
Seorang pria mengendarai mobilnya dengan perlahan melewati jalanan yang cukup lancar karena tak terlalu banyak kendaraan
“drrrttt” ponsel pria tersebut bergetar menunjukkan ada panggilan dari seseorang
“ada apa?” Tanya pria tersebut mengangkat ponselnya
“mama bilang pulang ke rumah malam ini, mama masakin makanan kesukaanmu” balas pria di seberang telpon
Pria tersebut terkekeh “sekarang kakak gak takut lagi aku dekat-dekat dengan istri kakak?” Tanya pria tersebut yang tak lain adalah prastyo
“cemas mungkin masih, tapi takut sepertinya tidak, aku percaya dengan istriku dan bagaimana kemampuannya untuk menendang perkututmu jika kau macam-macam” balas dokter ken tersenyum simpul
Prastyo tersenyum “aku tahu bagaimana kakak melatih istri tercinta kakak untuk perlindungan diri” kekeh prastyo “ aku akan pulang setelah bertemu klien nanti” balas prastyo mengakhiri panggilannya
Prastyo mengakhiri panggilannya dan kembali fokus pada jalanan “ckiiiiiiit” prastyo mengerem mobilnya mendadak
Prastyo mengatur nafasnya, mendongak melihat ada seorang wanita di depan mobilnya yang hampir saja tertabrak kalau prastyo tak sigap menghentikan mobilnya .
Prastyo memicingkan matanya melihat wanita tersebut, membuka sabuk pengamannya dengan cepat dan
turun dari mobil dengan langkah kesal “kalau mau mati jangan di jalan! Langsung lompat ke laut saja!” teriak prastyo memarahi wanita yang sedang diam mematung di depan mobilnya
Wanita tersebut menatap prastyo “ hiks hiks hiks maaf om” ucap wanita langsung menangis karena prastyo membentaknya
Prastyo menggaruk tengkuknya yang tak gatal berjalan mendekati gadis ter tersebut “kenapa malah menangis?” Tanya prastyo bingung
“maaf om, tadi aku saking takutnya dengan orang-orang itu sampai lari tak melihat jalan” ucap gadis tersebut melirik orang-orang yang ada dipinggir jalan yang sedang menatap dirinya
Prastyo mengikut arah lirikan wanita tersebut, dan prastyo bisa melihat ada 3 orang yang sedang melirik wanita yang ada di hadapannya “kau kenal mereka?” Tanya prastyo
Wanita tersebut menggeleng “tidak, aku tak mengenal mereka. Aku saja baru bertemu mereka saat di bengkel saat aku mengantar mobilku untuk diperbaiki” balas wanita tersebut
“terus kenapa mereka mengikutimu?” Tanya prastyo
“mereka bilang ingin berkenalan denganku tapi kata daddy tak bleh sembarangan berkenalan dengan orang di jalan” balas wanita tersebut
Prastyo mengangguk “ ya sudah karena kau tak apa-apa kau lanjutkan perjalananmu aku harus pergi” ucap prastyo berniat masuk ke dalam mobilnya
“ tunggu om” wanita tersebut menahan tangan prastyo
Prastyo melirik tangannya yang di tahan seorang wanita muda di hadapannya “ bisa minta tolong tumpangi aku sampai depan kampus Wiraatmadja?” Tanya perempuan tersebut
Prastyo menyipitkan matanya memandang wanita muda yang ada di hadapannya “bukannya kau bilang daddymu melarang kau sembarangan berkenalan dengan orang? Ini apa namanya?” Tanya prastyo melirik tangan yang dipegang oleh wanita tersebut
“sepertinya om orang baik jadi tak masalah jika aku menumpang pada om” perempuan tersebut menengadahkan tangannya “namaku sita” ucap wanita tersebut yang tak lain adalah sita anak dari david wiraatmadja menengadahkan tangannya mengajak prastyo berkenalan
Prastyo masih diam mematung memandangi wajah sita dengan bingung “ sita om, om siapa?” sita mengulang ucapannya dan mengambil tangan prastyo untuk berjabat tangan
“ah” prastyo menoleh ke samping dan mendapati 3 orang tersebut masih diam dipinggir jalan seolah menunggu sita
“ya sudah ayo masuk, aku akan mengantar sampai depan kampusmu” ucap prastyo berjalan masuk ke dalam mobil
Sita tersenyum senang dan mengikuti langkah prastyo yang masuk dalam mobil “ terima kasih ya om…” sita menggantungkan ucapannya karena belum tahu siapa nama orang yang sedang ia tumpangi mobilnya
Prastyo memasang sabuk pengamannya “tyo, namaku Prastyo Jefri” sahut prastyo melajukan mobilnya