
“duh fer sakit banget” teriak aira mencengkeram pegangan kursi di sampingnya, menyalurkan rasa sakit yang sedang ia rasakan
ferdy tambah panik melihat aira yang sedang merasakan sakit “sabar nyonya, dokter ken sedang melakukan panggilan dengan dokter kandungan" ucap ferdy menenangkan aira
dokter ken mulai memindai keadaan sekitar melalui tangkapan layar ponsel ferdy “fer, di situ sepertinya ada meja yang cukup besar, kamu bersihkan dan suruh aira tiduran di atasnya” pinta dokter ken saat melihat ada
meja kayu besar di sana
Ferdy langsung menengok kearah meja yang di maksud dokter ken, ferdy langsung menghampirinya "brak" ferdy menggeser semua barang yang ada di atas meja dengan sekali sapuan
setelah membersihkan meja tersebut ferdy langsung membopong aira dan membaringkan di atas meja
“apa anak buahku belum datang?” Tanya dokter ken yang tak melihat satupun wajah anak buahnya
Ferdy melirik ke arah pintu di depan sana “ sepertinya belum” balas ferdy menggelengkan kepalanya
Dokter ken melirik riska yang masih diam mematung di pintu “sayang telpon dylan suruh cepat, istrinya mau melahirkan” pinta dokter ken setengah berteriak ke arah Riska yang masih sibuk melamun dan sibuk dengan pikirannya sendiri
Riska langsung tersadar dari lamunannya “ ah, iya mas” balas riska langsung menghubungi dylan dengan langkah cepat
“tut tut tut “ riska masih menunggu panggilannya tersambung, karena sedari tadi dylan mengabaikan panggilannya
“apa sih ka, aku lagi sibuk ini” ucap dylan tanpa basa basi saat mengangkat panggilan Riska di saat yang tak tepat bagi dylan yang sedang cemas memikirikan nasib istrinya
“ah, aku Cuma di suruh sama suamiku, katanya kamu suruh cepat aira mau lahiran katanya” ucap riska memberitahukan pesan dokter ken pada dylan
“ah” Dylan saking terkejutnya mendengar aira yang akan melahirkan “aku sudah sampai kok” dylan langsung menutup panggilannya tanpa menunggu bagaimana reaksi riska
Riska melirik ponselnya yang sudah di matikan dylan begitu saja lalu menoleh ke arah suaminya yang sedang menunggu riska bicara “katanya sudah sampai mas” ucap riska pada suaminya
Dokter ken langsung melirik ferdy “ dylan sudah sampai depan, nanti saat mereka sudah sampai, kamu bagi mereka semua untuk cari air yang banyak dan kain, kalau perlu baju yang kalian pakai lepas semua dan sterilkan dengan air panas” ucap dokter ken
ferdy menggaruk tengkuknya yang tak gatal “bukannya kalau mau sterilkan harus pakai alcohol ya?” Tanya ferdy
dokter ken makin kesal dengan ferdy “ya mau dapat alkohol banyak dengan waktu yang cepat dari mana bodoh! Kalian kan di hutan” balas dokter ken kesal
“terus dok, air panasnya dari mana?” Tanya ferdy lagi menahan ketakutannya menghadapi umpatan dokter ken karena ketidaktahuannya
dokter ken menggeram kesal karena kelakuan ferdy “kenapa jadi loading otakmu sih fer, ya bikin apilah terus kamu didihin air pakai api itu” balas dokter ken meragakan sedang memasak air menggunakan kayu bakar
ferdy masih mengerutkan keningnya seolah masih tak paham ucapan dokter ken “gak ada panci? Ya pakai alternative lain lah, pakai otakmu itu untuk berpikir! bagaimana bisa dapat air panas” teriak dokter ken
Dokter ken langsung menghubungi dokter kenalannya untuk meminta bantuan, dia menceritakan kejadian yang menimpa aira tanpa menutupinya sama sekali agar dokter kandungan tersebut bisa membantu proses aira melahirkan melalui jarak jauh
***
“brak” dylan langsung berlari sampai tak melihat ada kayu di hadapannya membuat ia terjatuh
“ngeselin banget sih balok ini, ngapain juga pakai ngehalangin jalan orang” gerutu dylan melempar balok kayu yang ada di hadapannya dan membuat ia sangat kesal karena sedang terburu-buru
prastyo hanya menggelengkan kepalanya melihat dylan yang sedang marah-marah pada sebuah balok kayu yang tak bisa melawan kemarahannya “eh dylan, nanti lagi kamu marah-marah sama tuh balok, liat tuh aira lagi teriak kesakitan” ucap tyo menunjuk aira dengan dagunya
Dylan bangun dan berlari sekuat tenaga yang ia bisa untuk menghampiri aira “sayang” panggil dylan
“abang” balas aira dengan suara terengah-engah karena menahan sakit
Dylan menatap aira dengan raut wajah cemas “kamu gak apa sayang? apa begitu sakit?” Tanya dylan menggenggam erat tangan aira
“sakit bang” keluh aira
“tuan minta orang yang tuan bawa, buat cari air, kain, bikin api sama cari panci” ucap ferdy yang sudah panic sedari tadi
“haaaa?” dylan menganga lebar mendengar kata panci
di akhir “ buat apa panci?” Tanya dylan bingung
“sudah cari saja, bego!” teriak dokter ken dari
layar ponsel ferdy
Dylan langsung meminta dylan menuruti perintah
dokter ken
“aku sudah menghubungi temanku yang seorang dokter kandungan, sebentar lagi di tersambung, tyo dan dylan hidupkan ponsel kalian, aku akan mengikutkan kalian di panggilan video call agar memudahkan melihat aira dari berbagai sisi” ucap dokter ken
“baiklah” balas dylan dan prastyo serempak
Mereka langsung menghidupkan ponsel mereka dan meminta anak buah yang ada di situ untuk memegang dari dua sisi yang berbeda
muncul seorang wanita cantih di balik layar ponsel “mana yang mau lahiran ken?” Tanya seorang wanita
yang berprofesi sebagai dokter kandungan bernama dokter laura
“itu loh yang banyak orangnya” balas dokter ken menunjuk aira di beberapa 3 layar yang ada di hadapannya
“haaaaa?” mulut dokter laura langsung menganga lebar melihat banyaknya pria yang mengelilingi aira
“itu mau lahiran, apa mau bikin pertunjukan? Banyak banget pria di sana?” gumam dokter laura
Dylan seketika baru tersadar bahwa orang yang mengelilingi istrinya adalah seorang pria “tutup mata kalian semua!” pinta dylan menatap tajam ke semua orang yang ada di sana
Dylan melirik prastyo “kau juga!” bentak dylan tak terima istrinya dilihat banyak orang
Dokter laura menggaruk tengkuknya yang tak gatal “anda suaminya?” Tanya dokter laura
“iya dok” balas dylan
“begini tuan, karena posisinya saya membantu istri anda melalui virtual itu artinya anda yang harus punya andil besar untuk membantu istri anda melahirkan” ucap dokter laura
“iya dok” balas dylan mengangguk
“oh ya ken kau sudah minta petugas medis untuk datang kesana kan?” Tanya dokter laura pada dokter ken
“iya laura, aku sudah minta dokter di rumah sakitku datang kesana dan membawa peralatan yang sekiranya diperlukan” balas dokter ken
“ok tuan siapa ini?” Tanya dokter laura
“dylan” balas dylan
“oke tuan dylan, agar istri anda bisa melahirkan dengan lancar anda harus mendengarkan arahan dan instruksi saya dengan baik, sekarang anda singkirkan kain yang mengganggu di tubuh istri anda jangan sampai jalan lahir anak anda tertutupi oleh kain yang masih melekat di tubuh istri anda” ucap dokter laura
Dylan langsung menuruti dokter laura untuk menyingkirkan kain yang menutui jalan lahir anaknya
“baik ibu aira, nanti dengarkan aba-aba saya ya, jangan panik dan rileks ibu aira” ucap dokter laura
“iya dok” balas aira dengan isak tangis karena menahan sakit