Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Bolehkah memulai lagi



mami diana dan aira asyik mengobrol sampai tak terasa kalau waktu sudah mulai larut


"wah sudah jam 10 bu, aira pulang dulu ya takut dicari orang rumah" ucap aira yang melirik jam dinding rumah dylan


mami diana menepuk jidatnya" ya ampun nak ibu sampai gak kerasa kalau ini sudah malam banget" balas mami diana tak enak hati


"aira juga gak kerasa bu" balas aira


"kamu minta antar dylan saja nak, sudah malam bahaya perempuan pulang sendiri" ucap mami diana


"gak usah bu, aira bawa mobil, mobil bang dylan tadi bocor makanya aira antar pulang, kalau sekarang abang mau antar aira nanti abang pulangnya gimana? " balas aira


"ih dia mah laki suruh mikir gimana pulangnya kamu perempuan wajib di dahulukan. biar ibu yang ngomong sama anak itu" balas mami diana


"memangnya gak ngerepotin bang dylan? lagian rumah aira itu kan gak jauh diri sini bu, 15 menit juga sampai" ucap aira mencoba menolak baik-baik permintaan mami diana


mami diana tersenyum " dylan dylan sini nak" panggil mami diana


dylan berlari dengan tergopoh-gopoh karena panggilan mami nya


"ada apa mi? ada yang sakit? " tanya dylan cemas


"enggak, kamu antar aira gih kasihan kalau pulang sendiri, kalau mobilmu rusak, masukan sepeda mu lipat mu saja ke mobil aira nanti kamu pulang naik sepeda atau kalau kamu mau jalan kaki juga gak papa" ucap mami diana tersenyum


"naik sepeda atau jalan kaki ya mi?" ucap dylan tampak berpikir


"kalau abang gak mau aira bisa pulang sendiri, rumah aira kan gak jauh" ucap aira tak enak dengan dylan


"ayok aku antar kamu pulang" ucap dylan menarik tangan aira


"mi antar dia dulu ya" pamit dylan pada mami nya sambil menunjuk aira


"aira pulang ya bu" pamit aira setengah berteriak karena sudah ditarik dylan


dylan membukakan pintu mobil untuk aira barulah ia masuk ke mobil untuk duduk di kursi kemudi


saat aira hendak memasang sabuk pengaman dylan merebutnya "biar aku saja" ucap dylan memasangkan sabuk pengaman aira


"Terima kasih" balas aira


dylan melajukan mobil menuju rumah aira dengan perlahan


"abang gak bawa sepeda abang? " tanya aira tak melihat dylan memasukkan sepeda ke mobil aira


"gak, jalan kaki saja" balas dylan datar


"emang abang gak capek jalan kaki dari rumah aira sampai rumah abang? " tanya aira


"gak, abang mau sekalian lari dimalam hari, sudah lama abang gak lari malam" balas dylan


"oooo gitu" ucap aira membulatkan mulutnya


"aira, boleh aku menelfon mu sesekali? " tanya dylan malu-malu


aira tersenyum melihat raut muka dylan " boleh bang" jawab aira


"kalau main ke rumah, boleh? " tanya dylan


"kok abang nanya gitu ke aira? " tanya aira dengan wajah heran


"ya abang pingin pastiin saja kalau abang ke rumahmu kamu terganggu atau tidak" ucap dylan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal


"abang boleh main kapan pun abang mau, lagian kan kak rino teman abang masih tinggal di sana" balas aira


"kakak kamu belum menikah? " tanya dylan


"belum, abang saja belum menikah kenapa malah abang nanya kak rino sudah nikah apa belum" balas aira tersenyum


" abang belum nikah kan nunggu kamu. oooops" ucap dylan buru-buru menutup mulutnya


"apa? abang bilang apa tadi? " tanya aira takut salah dengar


"enggak bilang apa-apa kok. nih sudah mau sampai gerbang rumahmu" ucap dylan mengalihkan pembicaraan


dylan membunyikan klakson agar satpam rumah aira dengar dan membukakan pintu gerbang


dylan memarkirkan mobil aira di garasi keluarga mailans " ra abang langsung pulang ya, soalnya sudah malam banget" ucap dylan memberikan kunci mobil aira lalu mereka pun turun dari mobil


"dah aira" ucap dylan melambaikan tangannya meninggalkan rumah aira


dylan berbalik tersenyum lembut pada aira


"it's ok" balas dylan kembali berjalan menuju gerbang rumah aira


satpam keluarga aira mendekat ke aira setelah menutup gerbang, nona tadi di tunggu sama nyonya" ucap pak satpam


" iya Pak, Terima kasih" balas aira


aira langsung menuju rumah dan membuka pintu menghampiri ibunya yang sedang menonton TV


" ibu belum tidur? " tanya aira duduk di samping ibunya


"belum, kan anak ibu belum pulang" balas ibu mardiana tersenyum


"maaf ya bu, aira pulangnya kemalaman tadi aira mampir tempat mami diana eh malah ngobrol sampai malam karena keasikan " balas aira


ibu mardiana tahu betul kalau mami diana mami dylan teman rino anaknya " terus tadi kamu pulang di antar dylan? " tanya ibu mardiana


"iya bu, padahal aira sudah bilang bisa pulang sendiri tapi katanya takut ada apa-apa dan aira seorang perempuan jadi harus ditemani pulang kalau sudah malam" balas aira tersenyum


"apa kamu senang mengobrol tadi? " tanya ibu mardiana


aira mengangguk" iya bu aira senang, rasanya sudah lama sekali aira tidak mengobrol dengan lepas seperti ini" balas aira tersenyum


"ibu senang dengarnya, awalnya ibu khawatir karena kamu yang gak pernah pulang malam tapi mendengar cerita kamu, ibu ikut bahagia kalau kamu merasa senang" ucap ibu mardiana


" ya sudah aira mandi dulu ya bu, terus istirahat kan besok masih harus sekolah" ucap aira memeluk ibunya lalu masuk kamarnya


"ibu senang melihat senyuman mu itu lagi nak, semenjak kamu hamil viko senyuman itu sudah tak pernah ibu lihat, yang ibu lihat hanya senyum palsu mu saja. semoga kau akan selalu bahagia" gumam ibu mardiana meneteskan air matanya melihat pintu kamar aira


***


keesokan harinya aira dan viko berangkat sekolah bersama-sama


"nak kamu masuk kelas, belajar yang rajin ya dan nanti kakek yang jemput kamu ya" ucap aira mencium kening viko lalu memberikan bekal pada viko


"iya mi" balas viko berjalan menuju kelasnya


aira menuju kantornya, untuk menyiapkan bahan ajar di kelasnya nanti


saat aira sudah selesai merapihkan buku-buku pelajarannya, pak arfan datang menghampiri


"ra kamu sibuk gak? " tanya pak arfan


"tidak pak, ada apa? " tanya aira


"begini kan kita mau ada acara baksos minggu depan dan kita minta bantuan kepolisian untuk mengawal jalannya baksos. bapak kan mau rapat kamu nanti yang kasih penjelasan tentang jalannya baksos pada pihak sana ya" pinta pak arfan


"baik Pak" balas aira mengangguk


"dan ini map skema jalannya baksos, nanti kamu berikan ke perwakilannya ya" pinta pak arfan memberikan map merah pada aira


"iya Pak" balas aira menerima map merah tersebut


di lain tempat, di markas polisi jakarta pusat dylan sedang disibukkan dengan berkas-berkas pengintaian dan orang lain juga sibuk dengan urusan masing-masing


"tolong! tolong! tolong!" teriak seorang pria berlari masuk ruangan divisi kriminal


"apa sih teriak-teriak ganggu konsentrasi orang saja " teriak dylan melemparkan map yang ada di dekatnya


"aku mohon bantuan salah satu dari kalian untuk membantuku, hari ini aku harus melihat anakku yang sedang lomba" ucap pria tersebut mengatupkan kedua tangannya memelas


"memangnya kita gak ada kerjaan apa harus bantuin hal yang sudah jadi tugas kamu? ucap rasta teman dylan


"ayolah bantu aku, istriku akan membunuhku kalau aku tak datang lagi tapi aku kasihan sama pihak sekolah yang sedang menunggu" ucap pria tersebut


"bodo amat! " teriak dylan kembali fokus dengan berkas-berkas dan juga laptop miliknya


"kasian banget tuh guru SD raksa wira Atmadja nunggu lama tapi harus tetap aku batalin dari pada istriku marah padaku" gumam pria tersebut mengambil ponselnya


dylan terkejut mendengar nama SD yang di sebut temannya


dylan berdiri seketika "SD apa tadi namanya? " tanya dylan


"SD raksa wira Atmadja" balas teman dylan


dylan menarik sudut bibirnya "biar aku yang ke sana" ucap dylan langsung berdiri dengan tersenyum girang