Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Lamaran kilat



aira,dylan dan viko sampai di halaman rumah keluarga aira "sudah sampai" dylan menoleh ke belakang


"viko tidur?" tanya dylan


"iya bang, ngantuk banget kayanya" balas aira


melihat viko yang tertidur aira berniat menggendongnya tapi ia kesulitan karena memang tangan aira yang kadang masih sakit dan tak bisa mengangkat beban berat


melihat aira yang kesulitan dylan turun dan berjalan menuju kursi belakang lalu membuka pintu dari luar " sudah biar abang saja yang bawa viko masuk" dylan langsung mengangkat viko menuju ke dalam kamarnya


"kamu pimpin jalan ke kamar saja" pinta dylan


"iya bang" balas aira menuju kamarnya dan viko


setelah sampai kamar viko dan aira, dylan membaringkan viko di ranjang miliknya, menyelimutinya dan merapihkan selimut untuk viko agar nyaman untuk tidur


"abang ketemu keluarga kamu dulu ya" ucap dylan meninggalkan aira


" iya, aira juga mau ganti baju dulu" balas aira mengantar dylan lalu menutup pintu agar segera berganti baju


dylan menuju ruang tamu untuk menemui keluarga aira yang kebetulan sedang berkumpul. ada 4 kakak laki-laki aira, 3 kakak ipar dan 3 keponakan aira


" selamat malam semuanya, lagi pada kumpul ya? " sapa dylan ikut duduk samping kak rino sahabatnya


ayah subrata menoleh ke arah dylan " aira mana kok gak ikut keluar? " tanya ayah subrata yang sedang menyeruput kopi miliknya


"apa kamu mau minum teh? " tanya ibu mardiana


"tidak perlu repot tan, santai saja" balas dylan tak ingin merepotkan ibu mardiana karena ini sudah jam 10 malam


dylan melirik ayah subrata " aira katanya sih mau ganti baju dulu nanti nyusul ke luar" tambah dylan


" cieeeeee yang sudah kaya keluarga bahagia jalan-jalan bareng" ledek rino menyenggol bahu dylan


" apa seperti itu? " dylan tersenyum bahagia


" sejak kapan kalian ketemu? " tanya kak fahri penasaran dengan pertemuan aira dan dylan karena setahunya aira dan dylan sudah tak bertemu sejak aira kelas 3 SMA


"kamu balikan lagi sama aira? " tebak kak dino


" wah bakal ada adik ipar baru ini" ucap kak raka menambahi


" hehehehe" tawa dylan mendengar ucapan kakak aira begitu menyejukkan dadanya


"Terima kasih ya nak dylan, karena ada kamu tante bisa lihat anak tante tertawa lepas setelah sekian tahun" ucap Ibu mardiana yang melihat senyum aira tadi saat masuk rumah


dylan menatap anggota keluarga aira dengan serius " om, tante, dan semua kakak aira boleh dylan ngomong sesuatu" ucap dylan ragu-ragu


kak rino menatap heran dylan "apaan sih kamu dylan? sok kalem banget biasanya juga asal ceplas-ceplos terus nanti kena lempar sapu lagi sama ibu" ledek rino tertawa mengingat dulu dylan sering kena lempar sapu oleh ibu mardiana karena ucapan dylan


dylan menghela nafas panjang, menghadap ayah dan ibu aira " begini semuanya, boleh saya melamar anak om dan tante? dylan ingin jadi suami aira sekaligus ayah viko" ucap dylan mantap dengan suara lantang pada ayah dan ibu aira


" apa! " teriak keluarga aira bersamaan


"heh adikku baru bercerai tahu! " ucap kak fahri mengingatkan dylan


" aira itu janda anak satu" tambah kak dino


" emang kamu gak mikir panjang mau jadiin adik kita istri kamu" tambah kak raka


" emang kamu gak takut razi ngejar buat bunuh kamu kalau sampai kamu nikahin adik kita? " tambah kak rino menakuti dylan


" hussst diam, ayah yang bicara disini! " bentak ayah subrata melerai perdebatan anak-anak nya


ayah subrata menatap manik mata dylan, melihat apakah ada kesungguhan di sana "kamu yakin mau menikahi aira? kamu tahu kan kondisinya" tanya ayah subrata


dylan mengangguk " dylan tahu om, tapi dylan benar-benar gak mau telat dalam melangkah. dari dulu sampai detik ini dylan masih mencintai aira sedikitpun tak berkurang" balas dylan yakin


" lalu bagaimana dengan orang tua kamu? apa mungkin dia menerima seorang janda dan punya anak pula" tanya ayah subrata


"wah niat banget ternyata kamu mau nikahin adikku" ucap kak rino menepuk bahu dylan


ayah subrata menghela nafas panjang "om mah terserah aira yang menjalani, om dan tante mah ngikut saja" balas ayah subrata tersenyum


dylan menatap ke empat kakak aira " abang fahri, abang dino, abang raka, dan abang rino. dylan benar-benar yakin menikahi aira karena mencintainya dylan menerima segala kelebihan dan kekurangan aira , dylan akan berusaha membahagiakan aira selalu dan untuk razi, dylan gak pernah takut karena justru dengan adanya dylan di samping aira, dylan bisa menjaga aira lebih baik" ucap dylan kepada ke empat kakak aira


semua kakak aira tertawa melihat keseriusan dylan "ya ampun tumben banget ya kita denger seorang dylan manggil kita abang. hehehe gak ingat kali ya dia? ngatain kita apa saat melarang dia dekat-dekat dengan aira dulu? " ucap rino terkekeh


"bangsat! " ucap kak fahri


" bedebah! " ucap kak dino


"kurang ajar! " tambah raka


ke empat kakak aira kompak memojokkan dylan


dylan menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan menghela nafas panjang


" itu dulu kali bang waktu masih muda sekarang mah beda" ucap dylan tersenyum


" berarti sekarang sudah tua ya pak? " tanya Kak raka tertawa


" sudah-sudah jangan memojokkan dylan, kasian tahu" ucap ayah subrata memperingati anak-anaknya


" dengar ya nak dylan kami gak masalah kalau kamu mau menikahi aira asalkan kamu serius pada aira dan bisa bertanggung jawab padanya kami sekeluarga tak keberatan tentang rencana kamu menikahi aira" ucap ayah subrata


"iya nak dylan asal aira mau tante mah setuju saja, lumayan lah punya mantu polisi' balas ibu mardiana tersenyum


" kami juga gak masalah, asal aira mau menikah denganmu kita mah setuju saja" ucap kak fahri


yang dijawab anggukan oleh kak dino, kak raka dan kak rino


aira sudah selesai berganti baju dari tadi tapi ia memilih mendengar percakapan keluarganya dengan dylan dari balik pintu


"abang beneran serius mau nikah sama aira? baiklah kita coba saja bang apa memang kita berjodoh atau tidak" batin aira


" abang belum pulang? " tanya aira masuk ke ruang tamu dan duduk di samping ayahnya


" nungguin kamu dulu lah" balas dylan tersenyum


"cieee yang nunggu kekasih mengantar kepulangan dulu" ejek kak raka


aira tersenyum mendengar ejekan kakaknya " ngapain abang nunggu aira? bukannya urusan abang sama keluarga aira sudah beres" ucap aira


"kamu tahu? " tanya dylan membelalakkan matanya lebar


" tentu saja aira tahu. kamar aira dan ruang ini itu deket banget bang jadi kedengaran lah suara abang yang minta nikah sama aira mana keras banget pula" ucap aira tersenyum


dylan menggaruk tengkuknya yang tak gatal "namanya lagi perjuangan ra jadi harus berkobar bagaikan api biar meyakinkan" ucap dylan sambil mengepalkan tangannya di hadapan aira


semua keluarga aira tertawa melihat tingkah dylan yang menurut mereka kekanak-kanakan


" karena keluarga aira gak ada masalah abang bisa datang sama mami abang buat ngelamar aira kapanpun keluarga abang siap" ucap aira tersenyum


hati dylan begitu bahagia, senyumnya mengembang bagai bunga baru mekar


" ok, besok abang kesini sama mami buat ngelamar kamu" ucap dylan semangat


"ha?! " ucap keluarga aira kaget


dylan menoleh pada anggota keluarga aira "kenapa? apa harus hari ini? " tanya dylan polos


" ngebet amat kamu nikahin adik kita ampe ngelamar aja langsung besok! " ejek rino


"mohon di maklumi, ini pengaruh takut keduluan orang lagi jadi harus gerak cepat bagai kilat" balas dylan tertawa