Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Menuruti Keinginan Istri (season 2)



viko menghampiri anak dan istrinya yang sedang bercengkerama di ruang keluarga


“anak papi” viko mencium pipi gembul gilang anak kesayangannya


“cuci tangan dulu mas, kan dari luar” ara segera menjauhkan tubuh gembul putranya itu dari papi nya


“iya sih sayang” viko memutuskan masuk kamarnya dan membersihkan diri


Viko sudah berganti pakaian dengan pakaian santai menghampiri istri dan anaknya yang sedang bermain di ruang keluarga mereka “sudah mandi mas?” Tanya ara


“sudah sayang” balas viko mengecup pipi ara


“mau makan dulu atau nanti mas?” Tanya ara


“nanti saja, tanggung bentar lagi juga waktu makan malam” balas viko


“mas boleh gak nanti pas gilang sudah 6 bulan kita bawa ke rumah ayah dan ibu, aku kangen mereka. Mereka gak bisa sering kesini karena kandungan ibu kan makin


membesar jadi ayah sangat berhati-hati jaga ibu” Tanya ara


“boleh sayang, nanti mas akan siapin jadwal kosong beberapa hari biar bisa menginap di sana” balas viko


“terima kasih sayang” ucap ara


“sama-sama” balas viko


viko mengambil alih menggendong Gilang “kamu pasti bosan ya di rumah sendiri?” Tanya viko


“engga terlalu kan ada gilang. Cuma saat gilang tidur berasa sepinya deh” balas ara


“apa kamu mau kembali kerja? Mas sudah sempet ngobrol sama mami sih kata mami kalau


kamu pengen kerja bisa kok gilang di titipin tempat mami” tawar viko


“nanti deh ara pikirin setelah asi ekslusif gilang selesai” balas ara


“ya sudah, terserah kamu. Yang penting jangan pernah memendam apapun dari mas sayang. Mas akan selalu dukung apapun keinginan kamu” ucap viko mengecup kening ara


"makasih ya mas" balas ara


***


“mama mama kapan balon mama meletus dan jadi dedek bayi buat ryan” Tanya ryan dengan


polosnya pada revina


Revina terkekeh dengan pertanyaan anaknya “balon mama meletus” gumam revina


“iya, perut mama kan bulat besar kaya balon besar” balas ryan


Revina mengusap kepala ryan


“bentar lagi kok sayang, adikmu lahir tinggal menghitung hari saja” balas revina


“ya pastinya kapan mah” tanya ryan ingin sebuah kepastian


“mama gak bisa bilang pastinya kapan yang bisa pastiin adik kamu mau keluarnya kapan” balas revina mengusap perutnya


“hai kesayangannya ayah” panggil joff memeluk ryan lalu beralih mengecup bibir revina


“ayah baru pulang bawa kuman banyak dari luar harusnya mandi dulu gak boleh langsung sosor mama gitu. nanti ayah bawa penyakit buat adik bayi” ucap ryan dengan ketus


Joff terkekeh “iya maaf ya ryan, ayah mandi deh” joff langsung naik ke lantai atas untuk membersihkan diri sesuai peringatan anaknya


Setelah rapih dan memakai pakaian tidur joff menghampiri istri dan anaknya yang masih betah berbincang di ruang keluarga  "kamu belum ngantuk sayang” Tanya joff mengusahakan kepala ryan


“belum yah, bentar lagi deh, kan belum jam sembilan” balas ryan yang masih fokus menonton


acara kartun di benda kotak di hadapannya


Joff menyandarkan kepala revina di dada bidangnya dan tangannya aktif mengusap perut


revina yang sudah sangat membesar karena sudah memasuki bulan ke sembilan “apa kau lelah hari ini?" Tanya joff


“iya lelah sekali, pinggangku sakit dan kakiku rasanya pegal banget” keluh revina menunjukan tangan dan kakinya yang membengkak


kening revina


“gak papa kok, kamu juga selalu perhatian sama aku dan selalu mencoba membantuku” balas


revina


Ryan mengucek matanya menatap ayahnya “yah ryan ngantuk, tidur dulu ya” ucap ryan


“tidur sendiri gak papa kan sayang?” Tanya joff


“iya yah, mama lagi butuh ayah kan badan mama lagi sering pegel jadi ayah pijitin mama aja” balas ryan berjalan masuk ke kamarnya sendiri


"anak kita makin mandiri ya setelah tahun punya adik" ucap joff menatap punggung Ryan yang makin menjauh


"iya, tadi saja dia mijitin kakiku katanya kasian liat kakiku yang bengkak" balas revina


joff mengusap kepala revina “mau


tidur” tawar joff


revina mengangguk “kita tidur di kamar bawah ya, capek rasanya setiap naik ke lantai atas” balas revina yang memang masih memakai kamar atas walaupun sedang hamil tapi ia juga tetap punya kamar di lantai bawah


“ya sudah ayok” joff menggandeng tangan revina memasuki kamar yang ada di lantai bawah


Joff Membaringkan tubuh revina dan memijit kaki revina “sudah  jangan di pijit kamu kan sudah lelah seharian bekerja” ucap revina menarik kakinya menjauh


Joff menahan kaki revina  “aku memang capek tapi tak sebanding dengan kamu. Kamu mengurus kedua anak kita sendiri dan itu


pasti berat” ucap joff terus memijit kaki revina


“terima kasih ya ayah sudah sabar punya istri kaya mama” ucap revina


Joff tersenyum pada revina “sama-sama sayang” balas joff


“sudah mas sini “ revina menepuk tempat kosong di sebelahnya “aku lagi pengen tidur di peluk kamu” ucap revina


Joff pun berbaring di sebelah revina dan memeluknya sembari mengusap perut revina


“semoga persalinan kali ini lancar ya sayang dan gak seperti dulu yang harus nunggu belasan jam baru lahir” ucap revina


“semoga sayang” balas joff mengaminkan harapan istrinya


"ya sudah tidur yuk" joff menarik selimut sampai batas dada sembari memeluk revina dan terus mengusap perut revina karena revina hanya akan nyaman tidur jika perutnya di usap joff


***


"askar jangan lupa besok pagi kita ada janji sama dokter untuk ambil ****** kamu" ucap syakia mengingatkan


"iya syakia berapa kali kamu sudah bilang, aku gak lupa lagian kan kita berangkatnya bareng" balas askar


syakia menyandarkan kepalanya di dada bidang askar "semoga semuanya berjalan lancar ya askar dan aku bisa cepat mengandung anak kamu" ucap syakia


askar mengusap kepala syakia "iya sayang, semoga lancar" balas askar


*


pagi harinya askar dan syakia bersiap menuju rumah sakit


"mih kita berangkat ya" pamit askar


"sepagi ini? " tanya mami aira


"iya mih kita janjinya jam setengah 7 " balas askar bergegas pergi di ikuti syakia


ara yang kebetulan menginap di rumah mami aira jadi ingin bertanya "mereka mau kemana mih kok pagi amat perginya? " tanya ara


"mereka mau menjalani inseminasi buatan dan hari ini askar ada janji sama dokter untuk di ambil spermanya" balas mami aira


"mereka beneran jadi mau lakuin itu? mereka kan belum terlalu lama menikah, belum genap setahun kan? jugaan mereka masih muda loh" ucap ara


"mami juga gitu mikirnya tapi syakia yang baperan terus jadi askar nurut saja. kalau mami gak mau terlalu ikut campur itu kan urusan rumah tangga mereka" balas mami aira