
“silahkan duduk tuan Kendra Abraham” sapa randi
Kendra abraham adalah anak selingkuhan papi dylan yang tinggal serumah dengan papi gunawan setelah siska di ceraikan suaminya dan anak-anaknya ikut di usir oleh mantan suami siska
Dylan menatap dengan sorot mata tak suka pada Kendra yang duduk tak jauh dari tempatnya berada
Kendra duduk di hadapan Randi “apa kabar pak?” tanya rendi
“kabarku baik, bagaimana dengan anda?” tanya Kendra
“I’am ok” balas rendi
“bagaimana kabar perusahaan anda?” tanya Kendra
“ya beginilah, baik” balas randi tersenyum ramah
“oh ya, apa kau sudah menghilangkan mobil itu dan segala buktinya?” tanya Kendra
“beres pak, polisi saja tak akan bisa berbuat apa-apa” balas randi pongah
Dylan yang mendengarkan percakapan itu mengepalkan tangannya kuat “kurang ajar” umpat Dylan dalam hati
“bagaimana apa sudah ada yang menyelidiki buktinya?” tanya Dylan pada anak buahnya yang mengawasi dari balik layar monitor
“sudah pak, dan benar saja dia sudah menghilangkan bukti itu dan kita kesulitan untuk mengusutnya ” balas salah satu junior Dylan
“baik kalau gitu, tunda penangkapannya, kita kembali ke kantor” pinta Dylan mengarahkan para rekannya untuk pergi dari lokasi
Akhirnya semua tim kembali ke kantor untuk membahas langkah selanjutnya dalam menangkap pelaku pembunuhan seorang wanita muda yang sudah Dylan dan timnya selidiki selama hampir 6 bulan
***
Dylan melirik laptop di hadapannya dengan tatapan kosong
“katanya kau mau pulang cepat hari ini?” tanya rasta teman satu kantor dylan
Dylan tersadar dari lamunannya “ah jam berapa ini?” tanya Dylan
“jam 3.45” balas rasta
“kalau gitu aku jemput istriku dulu ya” pamit Dylan
Dylan berkendara dengan kecepatan tinggi menuju sekolah Aira agar aira tak menunggu lama dirinya
dylan berlari dengan tergopoh-gopoh ke arah aira “maaf sayang, lama nunggu ya” ucap Dylan yang
melihat aira berdiri sendirian di depan Gerbang sekolah yang sudah sepi
aira melipat tangannya di dada “kan aira sudah bilang kalau sibuk aira bisa sendiri jangan maksain harus datang” aira mengerucutkan bibirnya kesal
“maaf sayang” Dylan memeluk aira mengusap lembut punggung aira
“sudah yuk kita ke rumah sakit, tadi abang sudah buat janji sama dokternya”ajak Dylan
Dylan bergegas menuju rumah sakit untuk janji temu dengan dokter kandungan, memeriksakan kandungan aira
*
“kita tunggu sana ya” ajak Dylan menunjuk kursi tunggu di depan ruang dokter kandungan
“nomer antrian berapa sih kita bang?” tanya aira
dylan melirik nomor antriannya “no 29” balas Dylan
“ini masih no 26, masih lama berarti” ucap aira
“sabar sayang, nanti kita pulangnya beli jajan deh” ucap Dylan menawari aira jajan seperti menawari anak kecil agar tidak kesal menunggu
“beneran ya bang” aira dengan semangat mendengar ajakan dylan
“kapan abang pernah bohong sama kamu” Dylan mengusap kepala aira lembut
“oh ya, sayang mulai besok haris sama ferdy mulai jaga kamu dan viko lagi” ucap Dylan
aira menautkan kedua alisnya “kenapa aira di jaga lagi? Bukannya setahun ini gak ada masalah ya bang?” tanya aira
Dylan mengangguk “iya gak ada masalah. Tapi buat jaga-jaga saja. Soalnya abang lagi nanganin kasus cukup besar dan itu ada kaitannya dengan seseorang yang abang kenal. Abang takut kalau sampai dia berbuat jahat sama kamu dan viko” jelas Dylan
“kasus apa?” tanya aira
“maaf aira abang gak bisa cerita” balas Dylan
Aira faham betul dengan pekerjaan suaminya yang terkadang dalam bahaya setiap harinya, untuk itu ia selalu berhati-hati dan menurut apapun perintah suaminya untuk berjaga-jaga
“nyonya aira mailans” panggil perawat
“itu kita di panggil sayang” ajak Dylan menuju ruangan dokter
Dylan dan aira memasuki ruangan dokter kandungan “selamat malam dok” sapa aira ramah menyalami dokter kandungan yang ia datangi
“malam nyonya, tuan “ balas dokter dengan ramah “silahkan duduk” pinta dokter menunjuk kursi di hadapannya
Aira dan Dylan duduk di kursi hadapan dokter kandungan bernama dokter riana
“begini dok, saya mau periksa kandungan “ ucap aira
“apa ibu sudah pernah periksa sebelumnya?” tanya dokter riana
“kemarin saya sempat pingsan di sekolah, dan kata dokter umum yang memeriksa saya di sekolah, ada kemungkinan saya hamil jadi beliau meminta saya untuk memeriksakan langsung ke dokter kandungan” jelas aira
“ya sudah bu, kita periksa saja biar lebih jelas” dokter riana mengarahkan aira untuk tidur di ranjang khusus pemeriksaan kandungan
Baju aira bagian atas dilipat sedikit lalu di beri gel. Dokter mengarahkan alat ultrasonografi ke perut aira “lihat bu tanda titik di situ” pinta dokter
Aira tersenyum bahagia melihatnya “apaan tuh dokter, ada biji kacang di perut istri saya apa?” tanya Dylan membuat semua orang yang ada dalam ruangan tertawa
“itu bukan biji kacang pak, walaupun bentuknya seperti biji kacang” ralat dokter rania ramah
“terus apa?” tanya Dylan
“itu bayi anda” balas dokter rania
“masa bayi bulatan kecil kaya gitu” balas Dylan tak paham bahwa kandungan yang baru berusia beberapa minggu hanya seperti bulatan kecil
Dokter rania terkekeh “ itu karena dia masih sangat kecil, nanti lama kelamaan dia akan berkembang dan berbentuk bayi pada umumnya. untuk sekarang dia masih berukuran biji kacang " balas dokter
“oh” Dylan menggaruk tengkuknya yang tak gatal
“ tapi anak saya sehat di sana kan?” tanya Dylan
dokter riana mengangguk mengiyakan “ibu dan bayinya sehat” balas dokter riana
“terima kasih” balas dylan
Dylan dan aira kembali ke kursi yang tadi ia tempati “ini saya buatkan resep, nanti bisa di tebus di apotik” ucap dokter riana memberikan resep vitamin pada dylan
“terima kasih dokter” ucap Dylan menerima resep dokter riana dan menggandeng aira ke luar ruangan periksa
“syukur ya ra, anak kita sehat-sehat saja” ucap Dylan mengelus perut aira
“iya bang” balas aira
“kamu pengen langsung pulang atau jadi mau beli jajan dulu?” tanya aira
“nanti kita kemalaman bang, kasian viko kalau nunggu kita kemalaman” balas aira
“tadi ayah WA abang, bilang viko sudah tidur jadi tak usah di jemput, besok ayah yang akan antar viko sekolah katanya” balas Dylan
“ya sudah jajan dulu yuk bang” ajak aira dengan semangat
“tadi aja lesu banget, dah tahu kalau bisa jajan langsung semangat gitu” ucap Dylan terkekeh
“hehehehe, kan pengen tapi ketahan tadi bang” balas aira
Aira menunggu Dylan yang sedang menebus obat di kursi tunggu
Dylan terlihat sudah selesai mengantri obat dan kembali ke samping aira “ yuk ra” ajak Dylan
“yuk bang” balas aira menggandeng tangan Dylan dengan mesra
Dylan bergegas menuju mobilnya yang terparkir di halaman depan rumah sakit
“selamat malam tuan muda” sapa seseorang berbadan tegak memakai kaos hitam dan terlihat kekar itu, memberi hormat pada Dylan
Dylan menatap datar ke arah pria tersebut “ untuk apa kalian kesini?” tanya Dylan dengan nada tak suka
“tuan besar menyuruh kami menjemput tuan muda , beliau ingin bertemu” ucap pria tersebut yang tak lain bernama kenzi pengawal pribadi papi gunawan ayah kandung Dylan
“aku tak mau” Dylan berniat melanjutkan langkahnya
“maaf tuan” ucap kenzi menghalangi langkah Dylan membuat Dylan menatap tajam ke arah kenzi