
***
zaskia dan Yama sedang menikmati makan siangnya di salah satu restoran terkenal di jakarta. Saat sedang makan dengan yama ponsel zaskia berdering, zaskia pun mengangkat panggilan tersebut yang tertera nama reivan di sana
“ada apa rei?” Tanya zaskia pada reivad pengawal pribadinya
“itu nona, tuan sama nyonya sudah pulang” ucap reivan
“mereka nanyain saya?” Tanya zaskia balik
“tidak nona, saya Cuma kasih kabar saja” balas reivan
“ya sudah” zaskia mengakhiri panggilannya dan meletakkan ponselnya di pinggiran meja
“kenapa reivan nelpon?” Tanya yama yang mendengar nama reivan disebut saat zaskia berbicara di telpon
“kabarin mama sama ayah sudah pulang” balas zaskia
“apa kita cepet-cepet pulang saja?” Tanya yama tak enak pada zaskia mengajaknya keluar padahal orang tua zaskia baru pulang
“tidak usah, kita selesaikan makan kita saja dulu, toh mereka gak cari aku” balas zaskia datar
“ya sudah” balas yama
***
Sepulang mengantar zaskia, yama termenung di balkon kamarnya dengan menatap langit malam “ kenapa nak?” Tanya nyonya kalila yang mengantarkan jus buah untuk Yama, minuman yang biasa di minum yama sebelum tidur
Yama tersadar dari lamunanya “enggak kenapa-napa kok mah” balas yama
Nyonya kalila menghampiri yama “ada apa? Mama tahu kamu lagi galau” ucap nyonya kalila menepuk bahu yama
“enggak kok mah” sahut yama lirih
“pasti kamu galau karena zaskia” tebak nyonya kalila dan tepat mengenai sasaran
Yama membelalakan matanya lebar “ kok mama tahu kalau aku lagi mikirin dia?” Tanya yama tak menyangka mamanya mengetahui isi pikirannya
“ya mama tahu lah, lagian siapa lagi yang kamu pikirin selain dia, 2 tahun kamu dekat sama dia kan yang ada di pikiran kamu Cuma dia” balas nyonya kalila yang sudah hafal isi otak anaknya itu
Yama menghela nafas panjang “tembokku dan dia terlalu tinggi mah” ucap yama
“ya tinggal jebol aja lah, kok pusing” balas nyonya kalila
yama menatap tak percaya ke arah mamanya “gak semudah itu kali mah, aku sih sempet sesekali cari tahu tentang kepercayaannya tapi seperti ada sesuatu yang mengganjal mah” balas yama menunduk lesu
“apa yang janggal?” Tanya nyonya kalila yang tak mendapat jawaban dari yama
“contohnya?” Tambah nyonya kalila
“mama misalnya” balas yama lirih
“kenapa jadi mama?” Tanya nyonya kalila menunjuk dirinya
“ya kalau misalnya yama pindah agama, kan kita jadi beda agamanya” balas yama lirih dengan wajah menunduk
Nyonya kalila mengajak yama duduk di tepi ranjang yama
“kamu sudah tahu tentang seperti apa agama zaskia?” Tanya yama
“sudah mah, bahkan yama sudah mulai belajar mengaji dan menghafal bacaan sholat tapi yama belum mengikrarkan dua kalimat syahadat sebagai tanda yama masuk agama zaskia karena tak ingin melangkahi mama dan papah sebagai orang tua yama , rasanya yama gak sanggup mengambil keputusan sendiri tanpa meminta pendapat mama dan papah” balas Yama
nyonya kalila menggenggam tangan Yama “denger sayang, mau kamu kaya gimana pun dan jalan apapun yang kamu ambil, tetap saja kamu anak mama dan papa. Papa dan mama sudah pernah membahas hal ini sayang”
nyonya kalila mengusap lembut punggung tangan Yama “apapun keputusan kamu kami akan tetap mendukung keputusan kamu. Lagian mama sudah siap lahir batin zaskia jadi mantu mama dan mama tahu gak mungkin zahid kasih anak gadisnya ke kamu kalau kamu gak seiman dengannya” jelas nyonya kalila
Yama tak kuasa membendung air matanya “terima kasih mah” yama memeluk mamanya erat
“yama sayang mama” ucap yama
“mama juga sayang bujang tua ini” balas nyonya kalila mengusap punggung yama
“mama!” teriak yama tak terima saat mamanya menyebut dirinya bujang tua
***
“hoek hoek hoek” sita berlari ke arah kamar mandi mengeluarkan semua isi perutnya
prastyo memijit tengkuk sita yang sedang mengeluarkan isi perutnya
“sana hubby, malu” ucap sita mendorong tubuh prastyo menjauh karena sita merasa malu dilihat saat sedang muntah
“kamu lagi sakit gini” prastyo tetap menemani sita memuntahkan semua isi perutnya
setelah merasa sudah mengeluarkan semua isi perutnnya, Sita mengusap bibirnya dengan air, menghela nafas panjang
“kamu kenapa sayang?” Tanya prastyo menuntun sita masuk ke dalam kamar
“gak tahu, rasanya gak enak banget hubby, dari kemarin muntah terus” balas sita dengan isak tangis
“kok kamu gak bilang kalau muntah terus?” Tanya prastyo yang baru tahu kalau istrinya selalu muntah-muntah
“kamu kan baru pulang dari perjalanan bisnis hubby, jadi sita gak tega kasih tahu kamu” balas sita menundukkan wajahnya
Prastyo mengambil pakaian sita dan dirinya, membantu sita berpakaian lalu membawa sita ke rumah sakit walaupun jam masih menunjukkan pukul 4 dini hari
“hubby, nanti saja ke rumah sakitnya ya, sita masih lemes” ucap sita yang memang merasa cukup lemas karena memuntahkan semua isi perutnya
Prastyo membopong sita “ gak ada kata nanti, dan kamu tahu aku tak suka di bantah” ucap prastyo tegas
Sita hanya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya mengalungkan lengannya di leher suaminya
15 menit perjalanan sita dan prastyo sampai di rumah sakit, sita langsung di bawa ke UGD untuk di periksa
“tuan tunggu sini ya” ucap perawat
“baik” prastyo berdiri di luar melihat istrinya di bawa masuk
“sita” suara baritone seorang pria memanggil sita dan bergegas menghampiri sita di ruang UGD
Prastyo menatapnya tak suka tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena ini bukan rumah sakit kakaknya yang semua orang tahu dirinya dan hormat padanya
Prastyo terus berjalan mondar-mandir menunggu sita “lama amat sih” gumam prastyo
“keluarga nona Arsita” panggil pria berpakaian serba putih
Prastyo bergegas menghampiri dokter IGD “gimana istri saya dok, apa dia baik-baik saja?” Tanya prastyo
Dokter tersebut mengulas senyum “istri anda baik-baik saja, hanya terlalu lelah karena kandungan istri bapak masih masuk trisemester awal” ucap dokter
“istri saya hamil dok?” Tanya prastyo memastikan
Dokter tersebut “ iya, dari hasil pemeriksaan, istri anda hamil 7 minggu, tadi sudah di bawa ke ruang rawat, silahkan kesana saja” ucap dokter menepuk bahu prastyo
Prastyo berlari ke arah kamar istrinya di rawat “sayang” prastyo membuka pintu dengan senyum lebar
Senyum itu perlahan menghilang saat ada seseorang di sebelah ranjang istrinya “kau siapa?” Tanya prastyo dengan nada tak suka melirik seorang pemuda yang memakai baju berwarna serba putih
“dia kak vino hubby, temanku di Australia” jelas sita
Mata prastyo memicing “kok aku gak tahu dia temanmu sayang?” Tanya prastyo yang memang tahu semua teman-teman sita
“ah, aku lupa memberitahumu tentangnya, karena kita jarang ketemu, ketemu saja waktu dia jadi salah satu dokter yang menangani daddy Nicole” balas sita
Vino menengadahkan tangannya untuk menjabat tangan prastyo “saya vino teman sita” ucap vino memperkenalkan diri
Prastyo terpaksa menjabat tangan vino “prastyo, suami sita” balas prastyo
“kalau gitu aku tinggal dulu ya” pamit vino tersenyum manis ke arah sita
“iya kak” balas sita
Prastyo melihat punggung vino makin menjauh, entah kenapa ada rasa tak nyaman saat melihat pria tersebut semenjak vino memanggil nama sita dengan penuh rasa khawatir di ruang IGD
“hubby” pangggil sita menyadarkan lamunan prastyo
Prastyo menoleh ke arah istrinya dan langsung tersenyum “sayang” ucap prastyo memeluk sita erat
“aku bahagia banget saat dengar akan jadi seorang ayah, penantian kita selama 2 tahun akhirnya terjawab sudah” ucap prastyo
“iya hubby, akhirnya aku di beri kepercayaan punya buah hati, buah hati kita” sahut sita ikut senang dengan kabar kehamilannya