Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
kembali ke rumah



melihat raut wajah tak suka pada dylan aira menjadi tak enak hati saat bertanya perihal ayah dylan


"kalau abang gak mau cerita gak masalah kok, aira hanya penasaran saja dengan wajah mami saat membahas papi abang, ada wajah kerinduan tapi seperti menahan rasa sakit di hatinya" jelas aira


dylan menghela nafas panjang memilih menceritakan semua pada aira, toh sekarang aira adalah istrinya jadi wajar jika ia tahu masalah yang menimpa keluarganya "dia meninggalkan kita demi perempuan lain makanya abang gak suka bahas dia" balas dylan


aira memeluk dylan " maafin aira ya bang, harusnya aira gak tanya" ucap aira tak enak hati membahas luka yang pernah di alami dylan


dylan balas memeluk aira " gak masalah ra, kamu istri abang wajar kalau kamu pengen tahu cuma kadang setiap ingat dia, abang jadi kesal" balas dylan memeluk tubuh mungil aira


"tapi bang waktu itu mami cerita kalau papi abang coba nyari abang dan bicara sama abang tapi abang selalu menghindarinya" tanya aira


" iya emang dia nyari abang karena dia butuh penerus untuk perusahaannya , tapi dia tak punya anak dengan wanita itu jadi abang cuma anak kandung satu-satunya. mami sih bilang dia pengen semua perusahaannya jatuh ke tangan abang karena biar gimana pun dia membangun perusahaan itu dengan bantuan kakek dan nenek abang dari pihak mami tapi abang jijik setiap ketemu sama wanita ****** itu dan kedua anaknya" balas dylan dengan kesal karena mengingat orang-orang yang menyakitinya dan membuat keluarganya jadi hancur


"jijik gimana bang? " tanya aira


" ya anak bawaan wanita itu sama persis sifatnya ngeselin dan hanya bisa gerogotin harta papi, kalau ngomong ke abang selalu bilang Abang dan mami gak tahu diri sudah di buang tapi masih nempel saja ke papi dan cuma pengen harta papi saja" balas dylan


"kaya gitu bang mereka ngomongnya? " tanya aira ikut kesal


"iya" balas dylan


aira mendorong tubuh dylan dan duduk sembari berkacak pinggang menatap dylan "kalau aira jadi abang malah sekalian semua harta papi abang, aira yang pegang biar tahu rasa! mereka mah ada hak apa? lebih berhak juga abang soal harta papi gunawan. sekalian bikin mereka kesel sampai mati kalau gak dapat apa-apa" balas aira


dylan terkekeh "kamu pengen jadi nyonya bos? " tanya dylan tersenyum


"hehehe gak gitu juga bang, cuma kesel saja dengernya karena setahu aira dulu om gunawan itu sayang banget sama abang" balas aira terkekeh


"abang akuin abang tahu kalau papi juga masih sayang sama abang sampai detik ini tapi setiap ingat sikapnya sama mami saat selingkuh itu bikin abang kesel sampai ke ubun-ubun . mami juga ya nyebelin, kok ya masih mau-maunya tetap jadi istrinya walaupun dia pulang ke rumah sini aja gak pernah semenjak 15 tahun lalu" ucap dylan


" lah terus mami masih satu KK sama papi gunawan? " tanya aira penasaran


"ya masih, kan mami masih istri sah papi " balas dylan


"lah terus wanita itu gimana? statusnya? " tanya aira tambah penasaran


"setahu abang sih masih istri sirih karena mami gak tandatangan berkas pernikahan mereka, mami sih selalu bilang hanya mau tanda tangan surat perceraian saja tapi papi kekeh gak mau cerai sama mami" balas dylan


" tapi ppai gak mau ninggalin wanita itu juga? " tanya aira


dylan mengangguk "iya" balas dylan


"jangan sampai kamu kaya gitu bang, kalau sampai abang berani aira sunat abang 2 kali"  aira melirik benda keramat dylan dan berucap dengan berapi-api


dylan bergidik ngeri mendengarnya "ya ampun ra, dua kali serem amat, nanti kamu ya ikut rugi dong" balas dylan


" ya makanya jangan main-main ya bang, kalau bukan aira yang sunat abang kan masih ada ke empat abang aira yang akan sunat abang " balas aira tersenyum


"udah ah ra, kita tuh lagi liburan berdua bukan mau ancaman-ancaman gitu" dylan menggelitik tubuh aira lalu melanjutkan malam-malam penuh cinta mereka di balik selimut


3 hari menginap di puncak dylan dan aira pulang ke Jakarta menuju rumah orang tua aira untuk menjemput viko


"ibu, ayah" panggil aira saat memasuki rumah orang tuanya


dylan sibuk membawa buah tangan yang ia beli dari puncak lalu meletakkannya di dapur


" eh kalian sudah pulang" ucap ibu mardiana yang baru masuk ke dalam rumah


" iya bu, ayah sama viko dimana? " tanya aira melirik sekeliling


"di kebun belakang nak, metik sayuran buat dimasak" ucap Ibu mardiana


" ibu nanam sayuran? " tanya dylan


" iya, buat kegiatan ibu sama ayah nak, abis pensiunan kaya kita mah ya paling berkebun atau bantu ngurus cucu" balas ibu mardiana tersenyum


"dylan ikutan metik sayuran ya bu" ucap dylan semangat


"emang kamu gak capek? " tanya ibu mardiana


ibu mardiana mengajak aira duduk di sofa


"gimana bulan madunya, senang? " tanya ibu mardiana


" iya bu senang" balas aira tersipu


"nanti kamu menginap atau pulang nak? " tanya ibu mardiana


"kayanya pulang deh bu, rumah udah aira tinggal 3 hari" balas aira


" ya sudah gak papa, kamu juga punya tanggung jawab untuk keluargamu yang penting sering-sering jenguk ibu sama ayah saja" balas ibu mardiana


"iya bu, jugaan aira masih tetap minta bantuan ibu sama ayah jaga viko sampai aira masuk pagi lagi jadi pasti aira sering kesini" balas aira


" sayang, liat deh abang petik ubi gede banget" ucap dylan menunjukkan ubi jalar pada aira dengan bangga


"wah besar ya"  aira tersenyum melirik ubi di tangan dylan


" iya mi, tadi papi sampai jatuh berapa kali karena kesusahan nyabut nya" tambah viko


dylan menggaruk tengkuknya yang tak gatal " maklum gak pernah ngurus tanaman" kekeh dylan


"ya sudah biar sayuran nya di taro dapur saja nanti aira sama ibu yang akan masak" ucap aira


malam harinya, sudah berjejer berbagai macam menu masakan dari hasil kebun dylan, viko dan ayah subrata


" wah banyak amat makannya" ucap kak rino yang baru pulang kerja dan langsung duduk di meja makan


" iya tadi dylan semangat banget panen di kebun belakang, jadi kita masak macam-macam deh" ucap Ibu mardiana


" kamu? berkebun? " tanya kak rino penuh penekanan


"iya" balas dylan


" cinta memang bisa membuat mata buta deh, dulu jaman sekolah saja waktu kita praktek nanam tanaman kamu selalu bilang malas, sekarang ikut berkebun" ejek kak rino


"biarin aja buta karena cinta yang penting mah arahnya positif dan membahagiakan" balas dylan


"hmmm" balas Kak rino meledek dylan


" mending dylan buta karena cinta sama adikmu dari pada kamu sampai detik ini pacar aja gak punya. jomblo terus bertahun-tahun" ucap ayah subrata mengejek rino anaknya


rino jadi kesal kenapa malah dirinya yang kena " rasain tuh" balas dylan senang merasa di bela ayah mertuanya


***


dylan menggandeng tangan aira sembari menggendong tubuh viko memasuki rumah


" viko mau tidur sama kita atau tidur sendiri? " tanya dylan sesampainya mereka di ruang tamu


" tidur sendiri saja pi" balas viko


" kamu berani? " tanya dylan


"berani kok, kemarin viko sudah nyoba waktu tidur tempat kakek dan nenek" balas viko


" ya sudah, nanti kalau kamu takut, ke atas saja ya atau telfon papi nanti biar papi nemenin kamu tidur di bawah" balas dylan


"enggak pi pokoknya viko berani, karena viko mau cepat punya adik" balas viko


"kamu dapat ucapan itu dari mana? " tanya aira


" dari om rino" balas viko


" dasar kak rino, ngajarin yang gak bener" ucap aira kesal


" udah besok saja kita bahas nya, sudah malam pasti viko capek, abang temenin viko dulu sampai tidur ya" ucap dylan membawa viko masuk dalam kamarnya di lantai bawah dekat kamar mami diana