
zifana hanya berdiri sepanjang hari di pinggir jendela kaca besar vila miliknya "non, saya sudah selesai beres-beres dan sudah masukin belanjaan tadi pagi di kulkas" ucap seorang wanita paruh baya yang bekerja di villa zifana untuk bersih-bersih dan memasak
zifana menoleh "Terima kasih ya bi, bibi boleh pulang sekarang" ucap zifana
"Terima kasih non" wanita paruh baya tersebut berjalan keluar vila milik zifana
zifana kembali melihat jendela, terlihat hujan yang mulai turun membuat jendela kaca tersebut menguap
"hujan" gumam zifana melirik tanah yang sudah mulai basah akibat hujan yang turun
zifana menarik sudut bibirnya ke atas, mengusap kaca tersebut dan menuliskan sesuatu di sana
"aku merindukan mu kak" air mata zifa kembali berjatuhan setelah membaca apa yang ia tulis
"hiks hiks hiks" zifana menyembunyikan kepalanya di antara kedua lututnya untuk terisak di sana
"ceklek" pintu di buka dengan pelan "tuk tuk tuk" terdengar suara langkah kaki menghampiri zifana
zifana sama sekali tak mendengar itu karena terlalu sibuk dengan tangisannya dan derasnya hujan membuat pendengarannya pun tak begitu tajam
"tes tes tes" tetesan air jatuh di lengan zifana membuat ia mendongak
mata zifana membelalak lebar seakan ingin melompat dari tempatnya
"bagaimana kakak bisa tahu tempat ini? " tanya zifana tak menyangka bertemu pria di hadapannya
orang tersebut tak memperdulikan pertanyaan zifana dan langsung menghambur memeluk zifana erat"kenapa pergi? " tanya Rafa dengan suara lirih
"bukankah kakak bilang akan menikah" balas zifana masih terisak dengan posisi tangan masih memegang kedua lututnya
"kakak gak ada bilang gitu" balas Rafa
"kakak lupa saat akan pergi, kakak bilang, kakak di usia menikah dan ingin bersama pendamping kakak. dan kakak tidur serumah dengannya selama 2 bulan jadi apanya yang bukan calon istri" balas zifana mengingat Rafa tinggal serumah dengan seorang wanita
"maaf zifa, maafin kelakuan kakak dulu. jangan menjauhi kakak" Rafa makin mempererat pelukannya dan zifana yang masih diam saja
zifa tentu tahu arah maksud pembicaraan rafa, zifa mendorong tubuh Rafa menjauh "sudah lah kak, zifa sudah berkali-kali bilang, itu kesalahan kita berdua bukan hanya kakak jadi jangan salahkan diri kakak lagi. menikah saja dan aku akan di sini" ucap zifana membuang mukanya kasar
"ayo menikah" ajak Rafa pada zifana
zifana tersenyum kecut "bukankah kakak bilang, mana bisa menikahi bocah sepertiku" balas zifana tak percaya ajakan Rafa, padahal dulu sempat zifana mengajak rafa untuk menikah tapi rafa bilang zifana masih kecil
"kau kan sudah menyelesaikan SMA mu dan sekarang kau sudah 17 tahun" balas Rafa
zifana menatap tak percaya ke arah pria di depannya "ibuku masih hidup kakak, mana mungkin dia rela anaknya menikah dengan pria beda agama" ucap zifana
"kakak sekarang mualaf" balas Rafa
zifana membelalakkan matanya lebar "kakak! " teriak zifana
Rafa tersenyum pada zifana "kakak sudah bisa jadi imam kamu sholat, jadi ayok sholat" ajak Rafa
zifana melirik jam dinding yang sudah pukul 3 menandakan sebentar lagi waktu ashar. dengan terpaksa zifa mengikuti langkah Rafa berjalan ke arah kamar mandi untuk berwudhu dengan sebelumnya sudah berganti pakaian yang sempat ia bawa dalam tas jinjingnya saat masuk ke dalam vila
Rafa melantangkan bacaannya atas permintaan zifana yang ingin melihat apakah benar apa yang di ucapkan Rafa padanya bahwa Rafa sekarang mualaf
dan benar saja rafa mengimami sholat ashar zifana untuk pertama kalinya
seusai mengucap salam tanda selesai sholat, zifana langsung menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya
"hiks hiks hiks" zifa terisak seusai sholat meratapi kejadian demi kejadian yang di alaminya
"zifa" Rafa bingung sendiri mendengar tangisan zifa yang begitu memilukan
"jangan nangis, kakak salah apa lagi? kakak minta maaf" pinta Rafa ikut terisak karen mendengar tangisan zifana
zifana mendongak ke arah Rafa dengan masih terus terisak "kenapa baru sekarang kakak datang, kakak lama sekali datangnya " tangis zifana makin pecah
Rafa langsung memeluk zifana erat "maaf" hanya itu kata yang bisa terlontar dari mulut Rafa
"zifa kangen kakak" ucap zifana mempererat pelukannya
rafa tak sanggup lagi membendung air matanya "kakak juga merindukanmu zifa" rafa mengusap lembut kepala zifa
zifana kembali ke kesadarannya bahwa pria di hadapannya menyakitinya "kakak bohong, bukanya kakak bahagia bisa tidur bareng sama perempuan itu" kesal zifa memukul punggung rafa yang masih memeluknya
rafa membiarkan zifa yang terus memukulnya "maafkan aku zifa, aku salah sudah tinggal bersama wanita itu. tapi sumpah kakak gak ada perasaan apapun dengannya. hanya dirimu yang selal ada di pikiran kakak" jelas rafa
"kakak bohong! kalau kakak kangen aku mana mungkin kakak selalu mengabaikan pesanku" zifana makin keras memukul punggung rafa
"ini memang kesalahanku, aku terlalu sibuk di sana sampai mengabaikan ponselku yang di pegang olehnya" balas rafa
zifana melonggarkan pelukannya "tuh kan, dia bisa bebas pegang ponsel kakak berarti benar dia calon istiri kakak" sahut zifana
"enggak zifa, kakak gak ada niat nikah sama dia" rafa berusaha meyakinkan zifana
"aku gak percaya sama kakak" zifana bangun dari duduknya bergegas masuk kamarnya dan membanting pintu keras
rafa mengejar zifana "tok tok tok " rafa mengetuk pelan pintu kamar zifana
"kita bicara lagi ya zifa" pinta rafa dengan suara lirih mengetuk pelan pintu kamar zifana
"kakak bohong, zifa benci kakak" zifa terisak di balik pintu, ia jatuh duduk memegang pintu
zifana memang merindukan pria itu, tapi kekecewaannya begitu besar pada rafa setiap mengingat pria itu tidur dengan wanita lain, padahal dulu zifana kira rafa berubah dengan tak dekat dengan wanita manapun saat sibuk mengantar jemput zifana kemanapun
tapi karena kesalahan satu malam yang merenggut kegadisan zifana, malah rafa menjalin kedekatan dengan clarissa "maafin kakak zifa, kakak sayang banget sama kamu. gimana caranya kamu percaya kalau kakak sunggung-sungguh ingin menikah denganmu" ucap rafa terisak
"kakak nyakitin zifana, kakak ada main dengan wanita itu setelah ngerusak zifa" tangis zifana makin pecah
"maafin kakak zifa, kakak memang salah. sikap pengecut kakak dan kakak yang memang berengsek ini memang banyak salah kamu. tapi sumpah demi apapun kakak benar-benar menyesali itu semua. kakak terlalu terlena dengan dunia sampai terjerat dengan belenggu dosa. kakak selalu meratapi dan menyesali perbuatan kakak" jelas rafa
"aku gak akan percaya kakak. kakak penipu, kakak jahat, kakak pria brengsek" umpat zifana meluapkan amarahnya
"gimana caranya agar kamu bisa percaya dengan kakak zifana" tanya rafa dengan suara lirih