Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Kenapa dengan lukisan itu? (season 2)



***


Eila memandangi lukisan yang sudah rampung itu dengan tatapan malas


“ngapain ngelihatnya gitu nona?” Tanya janet


eila mengerucutkan bibirnya “kesel saja sama lukisannya” balas eila yang merasa tak puas dengan hasil lukisannya


Janet mengernyitkan dahinya “kalau kesel kenapa malah di rampungkan?” Tanya janet


“saya saja gak tahu, tapi setiap lihat nih lukisan jadi inget tuh laki yang ngeselin itu” balas eila


“ngapain juga di pikirin nona, toh ancaman dia gak ada yang bisa di lakuin karena pengaruh keluarga anda” balas janet


“tapi tetep aja kesel” balas eila


eila melirik janet "Janet kamu tunggu di galeri ya, saya mau coba ke tempat yang biasa orang itu datangi untuk melukis mungkin kali ini saya bisa ketemu dengannya ” ucap eila


“emang nona gak capek kesana?” Tanya janet pada kebiasaan eila yang baru, menunggu seseorang yang jelas-jelas sudah menolaknya


“gak capek” balas eila datar


“nona kesambet ya” janet memegang kening eila dengan punggung tangannya


Eila menggeser tangan janet kasar “kurang ajar ni asisten, ngelunjak nya keliwat” kesal eila pada janet sekretarisnya


sebenarnya eila tak benar-benar serius berkata seperti itu. hubungan janet dan eila lebih ke arah pertemanan, mereka sudah mengenal semenjak sama-sama kuliah di Inggris, bedanya eila yang terlahir dari keluarga berada sedangkan janet berasal dari kalangan bawah dan bisa kuliah di kuar negeri karena beasiswa


Janet terkekeh “ ya abis nona sekarang gak pacaran sudah cukup lama, dan malah nunggu orang yang jelas-jelas selalu nolak anda kan berasa dunia kebalik. biasanya kan nona yang buat orang lain menunggu” ledek janet


“ah biarin” eila bergegas pergi meninggalkan janet


***


Eila berjalan ke arah taman di salah satu pinggiran kota yang masih terkesan asri dan sejuk itu


“apa iya dia  di sini” gumam eila mengamati keadaan sekitar


Eila mengecek pesan dari sekertaris pelukis incarannya “ benar kok” gumam eila melihat lokasi yang di kirim sekertaris


pelukis tersebut


Eila memilih duduk di bangku taman “huh gini nih kalau nyari pelukis misterius, sekertaris saja gak mau angkat telpon hanya mau


balas WA, pelukisnya ngeselin gak banyak bicara, untung saja lukisannya bagus” gumam eila


Eila mengambil sketchbook miliknya dan mengambil


potret pemandangan di sana menggunakan goresan pensil miliknya, eila begitu menikmati kegiatannya dengan terpaan angin yang mengenai wajahnya membuat rambut eila terus tersibak karena angin yang sepoi-sepoi itu


“ih, ganggu aja nih rambut” gumam eila berkali-kali menyelipkan rambutnya di belakang telinga


“makanya, di ikat tuh rambut atau di pangkas sampai botak biar gak ganggu” ucap seorang pria mengagetkan eila


Eila memicingkan matanya, memundurkan sedikit


tubuhnya ke arah samping, memandang sesosok pria yang ia kenal duduk di sebelahnya di kursi panjang yang sama walaupun duduk sama-sama di ujung bangku


“sudah kaya hantu saja, muncul di mana-mana” gumam eila kembali melanjutkan kegiatannya


“yang ada kamu yang hantu, selalu muncul dimana-mana” balas daren datar


Eila mendongak menatap tajam daren  “suka-suka saya dong dimana, ini kan tempat umum bukan milik pribadi anda" balas eila


“saya sih rutin kesini, kalau kamu kan enggak, selama saya kesini belum pernah saya lihat kamu” balas daren


Eila kembali menggores pensil di sketchbook miliknya tanpa memperdulikan daren


“emangnya saya kesini harus laporan sama anda, saya kesini sudah beberapa kali dan belum pernah bertemu anda berarti kita ke sini di waktu yang berbeda” balas eila terus menggores pensil di sketchbook nya


“oh” daren ber oh ria menanggapi eila


Eila yang sibuk mewarnai gambarnya makin kesulitan dengan rambutnya yang terus maju ke depan dan mengganggu penglihatannya


“bodoh banget” gumam daren melepas topinya dan


memasangnya di kepala eila dengan posisi terbalik


Apa yang dilakukan daren membuat eila menoleh


ke arah daren dengan tatapan penuh Tanya tapi tak berucap sepatah katapun


“baiklah” eila kembali melanjutkan kegiatannya


“apa kau tak pernah berucap terima kasih?” Tanya daren


“terima kasih” ucap eila mengikuti permintaan daren


“cih” daren berdecih kesal dengan sikap eila


“aku heran kenapa banyak orang tertarik dengan wanita sepertimu, orang yang cukup menyebalkan” ucap daren


“karena aku cantik” balas eila tanpa menoleh


“hah?” mulut daren langsung menganga tak percaya


"itu yang mereka bilang padaku, selebihnya kau tanyakan sendiri pada mereka saja" eila masih saja konsen dengan kegiatannya


"sejak kapan kau suka melukis?” Tanya daren


“sejak aku usia 1 tahun” balas eila


“masa?” Tanya daren tak percaya


“itu kata mamiku, kalau kau tak percaya tanyakan saja padanya, bukankah kau mengenalnya” balas eila yang tahu kalau mami aira dan daren saling mengenal


“iya aku mengenal ibu aira, karena beliau pernah jadi guruku waktu aku masih SD” balas daren


“aku tahu, mamiku pernah cerita” balas eila


“kau ngobrol tentangku pada mamimu” Tanya daren


“sebenarnya aku tak a da niat ngobrol tentangmu pada mami, tapi saat aku bicara dengan aunty sita tentangmu, mami dengar dan


mami jadi teringat tentang salah satu muridnya yang katanya cukup berkesan untuknya” balas eila


“benarkah?” Tanya daren


"iya katanya kamu adalah orang yang punya jiwa seni bagus tapi


terlalu tertutup dalam dunianya dan menenggelamkan sisi indahnya dan terlalu banyak kabut” balas eila


“penjelasan macam apa itu?” Tanya daren tak mengerti ucapan eila


" kau tidak perlu tahu, yang pasti aku dan mamiku cukup paham dengan pembahasan itu” eila mendongak ke arah daren


“silahkan anda urus, urusan anda jangan urusi urusan saya, saya gak perlu ada anda sama sekali” ucap eila


“kamu yakin mau aku pergi” daren menunjukkan sebuah lukisan pada eila


Mata eila membelalak lebar “dari mana kau dapatkan lukisan itu?’ Tanya eila yang tahu lukisan siapa itu


Daren terkekeh “kan kamu bilang aku harus pergi" ucap daren mencoba beranjak dari duduknya


Tapi dengan sigap eila menghalanginya “ayo kita bicara” pinta eila menarik tubuh daren untuk kembali duduk di sampingnya


“baiklah. Apa yang kau inginkan dariku?” Tanya eila


Daren tersenyum miring “berikan lukisan itu dan kau bisa memajang semua lukisan milikku  yang masih ada padaku di galerimu” tawar daren


Eila memicingkan matanya “kenapa harus lukisan itu? Itu hanya lukisan di saat usiaku 16 tahun dan masih banyak kekurangan” Tanya eila


“aku menginginkannya” ucap daren dengan yakin


Eila melepas genggaman tangannya di lengan daren,


mukanya menunduk nampak berpikir keras


“dan berikan juga lukisan yang baru kau selesaikan itu” tambah daren


“hah?” eila langsung menganga


Daren beranjak dari duduknya “kau bisa menghubungi setelah kau setuju dan kita akan langsung tanda tangan kontrak” ucap daren meninggalkan eila begitu saja


Eila memandang punggung daren dengan alis saling bertautan “perasaan lukisanku biasa saja deh, apalagi itu lukisan saat aku


liburan di berlin” gumam eila Nampak berpikir “kalau lukisan terakhir oke lah emang


gara-gara mikirin dia makanya aku kurang suka tapi tetap saja bagus, kalau dia minta langsung aku kasih, tapi lukisan itu….” Eila menimbang lukisan kesayangannya, yang walaupun terkesan biasa dan hanya


mendapat nilai jual rendah tapi begitu berarti untuk eila, karena ada kenangan saat di berlin saat melukis di sana yang sebenarnya tak eila ingat dengan jelas