
dylan bergegas menuju kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya agar bisa cepat pulang untuk menemani aira
kakak aira mulai berdatangan karena mendengar kabar razi datang menemui aira " bu gimana keadaan aira? " tanya kak dino pada ibunya yang baru saja datang dengan anak dan istrinya
" dia masih tidur sampai sekarang, ibu gak berani membangunkannya" balas ibu mardiana menggeleng tanda tak tahu bagaimana keadaan aira
sore hari semua keluarga aira berkumpul di ruang keluarga sambil menunggu kepulangan dylan "ceklek" viko keluar kamar dengan wajah tertunduk lesu
"mami mu masih tidur? " tanya ayah subrata
"masih kek tapi anehnya pipi mami basah melulu padahal viko lap terus pakai tisu" balas viko dengan polosnya
"viko tadi sama mami waktu ayahmu datang? " tanya ayah subrata
" iya kek, ayah tiba-tiba muncul waktu kita mau ke depan untuk nunggu papi jemput. viko sudah suruh ayah pergi tapi malah ayah marah dan dorong viko untung saja ada papi yang tolong viko" balas viko
mendengar itu semua orang melihat viko dengan tatapan sedih
ibu mardiana langsung menghambur dan memeluk viko " ya ampun cucu nenek, pasti kamu juga sangat sedih ya sayang" ucap ibu mardiana mengelus kepala viko
"viko sedih tapi cuma dikit kok nek, viko lebih sedih kalau lihat mami sedih" balas viko berusaha tetap kuat
semua orang ikut memeluk viko karena sedih untuknya, anak seusia viko sudah mendapatkan cobaan yang cukup menyakitkan untuknya. bagaimana tidak? ayah kandungnya tak pernah menganggapnya ada semenjak ia masih dalam kandungan ibunya
viko menatap keluarganya " jangan sedih semuanya, ayah emang gak sayang viko tapi kan sekarang viko sudah ada papi yang sayang viko dan juga ada kalian yang sayang viko" balas viko tersenyum
" benar ada kami semua yang sayang viko sudah cukup" Ibu mardiana menghapus air matanya yang sudah tumpah sedari tadi
tepat jam 8 malam dylan pulang dari tempat kerjanya " malam semuanya" sapa dylan, langsung duduk di samping viko memeluknya sayang
"malam juga nak, kamu sudah pulang kerja? pasti lelah" balas ayah subrata
" maaf ya semuanya, ditengah kondisi aira yang seperti ini, dylan gak bisa berada disampingnya terus karena tanggung jawab pekerjaan dylan yang tak bisa ditinggalkan dan malah merepotkan kalian" ucap dylan sendu
" tak apa nak kami tahu pekerjaanmu, kamu punya tanggung jawab mengutamakan pekerjaanmu dan kamu juga terikat sumpah saat akan bekerja jadi kami paham itu" balas ayah subrata
"dan kami tak pernah merasa direpotkan karena aira adalah bagian keluarga besar kami" tambah ibu mardiana
"Terima kasih atas pengertian ayah, ibu dan semuanya" balas dylan tersenyum
dylan berbalik menghadap viko lalu mengusap kepalanya " apa kau baik sayang? " tanya dylan lembut
"viko gak papa kok pi" jawab viko memaksakan senyumnya
lama berkecimpung di dunia kepolisian membuat dylan bisa membaca raut wajah seseorang. dan tentu saja ia tahu bahwa anaknya tak baik-baik saja dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa
dylan memeluk viko sambil membisikan sesuatu di telinganya " jangan menahannya nak, kalau tak sanggup keluarkan saja, ada papi disini untukmu" bisik dylan mengusap punggung viko perlahan
mendengar itu viko mulai berkaca-kaca seolah dinding pertahanannya mulai retak" viko baik-baik saja kok pi" balas dylan dengan suara mulai bergetar
"papi tahu untuk anak seusia mu hal ini terlalu menyakitkan sayang, jadi jangan menahannya nak ada kami semua di sini yang sayang padamu" ucap dylan mengusap lembut punggung viko
"kasian sekali cucuku" ucap Ibu mardiana berniat menghampiri dylan dan viko yang ada di depannya tapi ditahan oleh ayah subrata
"mau kemana? " tanya ayah subrata menatap istrinya
"menenangkan cucuku lah yah" balas ibu mardiana
" kamu gak liat sudah ada dylan di sana? " tanya ayah subrata menunjuk dylan dan viko dihadapannya menggunakan kode mata
" liat yah, tapi kan..." ucap Ibu mardiana dengan menggantungkan kalimatnya
"biarkan dylan yang menghiburnya, selama ini cucu kita selalu berusaha kuat di depan kita karena takut aira bersedih, tapi sekarang dengan adanya dylan, viko bisa menumpahkan semuanya. itu adalah hal yang baik" balas ayah subrata
viko menangis sampai tertidur di pangkuan dylan "sini nak biar ibu yang pangku, pasti kamu masih capek" tawar ibu mardiana
"gak papa bu, viko baru tertidur jadi biarkan saja" balas dylan
" oh ya, kami mau dengar cerita tadi saat disekolah" tanya ibu mardiana antusias
"kalau cerita awalnya dylan gak tau bu, karena aira lah yang lebih tau tapi kalian tahu sendiri kondisinya sekarang. yang dylan tahu razi dorong viko sampai hampir menabrak pembatas jalan, untung saja dylan cepat sampai jadi viko gak terluka. saat itu aira juga sudah berteriak histeris ketakutan karena bertemu razi " balas dylan
" ya ampun anak ibu" gumam ibu mardiana membayangkan kondisi aira
"maaf ya bu, dylan gak bisa jaga aira dengan baik" ucap dylan meminta maaf
" ini bukan salah kamu nak, tapi ini salah pria itu yang terus menyakiti aira" balas ayah subrata dengan wajah menahan amarah
"tapi tenang yah dylan sudah tanya ke kenalan dylan untuk mengatasi razi, kita memang gak bisa memenjarakannya jika dia memakai alasan kejiwaannya tapi kita bisa membuatnya tetap di rumah sakit jiwa karena dia bertindak kriminal bukan hanya sekali, dan dulu dia hampir membunuh aira" ucap dylan
"benarkah nak? " tanya ibu mardiana semangat
"iya bu, tapi kalau ingin benar-benar gugatan kita tak bisa dibantah, mungkin aira harus menghadapi kondisi dimana ia benar-benar akan dilukai untuk bukti" ucap dylan lirih
"ha???! " balas keluarga dylan
dylan menggaruk tengkuknya yang tak gatal " tapi kalau kalian khawatir, dylan akan sediakan bodyguard saja untuk aira dan viko" balas dylan tersenyum
" lebih baik seperti itu saja, kami gak mau aira makin trauma, dulu kami sudah pernah konsultasi ke psikiater untuk aira tak mengingat kejadian yang menimpanya, dan biarkan alam bawah sadarnya membuatnya lupa karena itu adalah pertahanan dirinya, tapi sekarang malah seperti ini" ucap kak fahri sedih
" aku akan mengajaknya konsultasi ke psikiater kenalan dylan kak, dan dylan akan memantau perkembangan nya" balas dylan
"bilang pada kami semua saat kamu butuh bantuan dan jangan pernah sungkan pada kami" ucap ayah subrata
" iya yah, yang penting untuk saat ini kalian sering datang mengobrol dengan aira, adanya kalian keluarga yang menyayanginya itu akan berpengaruh besar bagi keadaan psikologis aira" balas dylan
jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam " ini sudah malam lebih baik kamu istirahat, biarkan viko tidur dikamar ibu dan ayah saja biar kamu dan aira istirahat dengan baik" ucap ayah subrata menghampiri dylan lalu menggendong viko ke kamarnya
semua orang ikut masuk kamar mereka masing-masing, karena memang di keluarga subrata kamar anak-anak nya masih tersedia dan tak dihilangkan untuk memudahkan anak-anak nya saat menginap
dylan masuk kamarnya bergegas mandi lalu menyusul aira ditempat tidur lalu memeluknya erat "abang akan selalu menjagamu" bisik dylan di telinga aira