Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Menghibur suami (season 2)



askar beserta keluarganya sampai rumah utama keluarga mahardika


"brak" askar membuka pintu dengan kasar  dan melangkahkan kakinya lebar untuk masuk kamar. kamarnya yang berada di lantai atas


"kak" jenny berniat mengejar askar tapi di tahan Rafa kakaknya


"kali ini biarin suamimu meluapkan emosinya dulu, kita tunggu saja dia meluapkan emosinya" ucap rafa mengingatkan


"iya jenny, bener yang di ucapkan kakak kamu. Biarkan askar meluapkan emosinya terlebih dahulu" sahut papi dylan


"tapi pih" jenny tetap merasa tak tega membiarkan suaminya sendirian


"percaya sama kita kali ini jen" ucap dokter ken


akhirnya jenny menuruti keinginan keluarganya "ya dad" jenny di gandeng rafa memasuki rumah di ikuti papi dylan, dokter ken dan viko


"prang prang brak brak" terdengar suara bantingan barang dari lantai atas arah kamar askar


mami aira yang melihat suaminya bergegas menghampiri "pih, askar kenapa? " tanya mami aira bingung melihat askar berlari ke kamarnya dan langsung terdengar suara lemparan barang


"iya pih, askar kenapa? " sahut eila yang juga ada di sana karena di minta datang oleh ara


"papi akan jelasin" papi dylan mengajak keluarganya untuk duduk di sofa ruang keluarga


papi dylan menatap mami aira, eila dan ara yang ada di sana "askar akan menceraikan syakia" ucap papi dylan


"loh kenapa? bukannya askar cinta syakia pih? kok bercerai?" tanya mami aira


mami aira merasa salah ucap karena di sana ada jenny " bukan maksud mami nyinggung kamu ya jen" ucap mami aira menggenggam tangan jenny


"gak papa mih, jenny ngerti kebingungan mami" balas jenny mengusap tangan mami aira


"syakia sudah nipu kita semua mih" papi dylan mulai menceritakan kronologi kejadian yang menimpa askar dari cerita viko yang meminta bantuan dokter ken untuk menyelidiki arka dan syakia karena viko mulai curiga dengan tingkah keduanya di tambah di ponsel arka yang notabene adalah sahabat viko hanya terlihat foto syakia dan tak ada yang lainnya bahkan arka rela di pecat saat ingin menemani syakia di Jepang karena terlalu lama pergi


mulut mami aira mengaga lebar "astaga kasihan banget frans pih" ucap mami aira merasa kasihan dengan papi frans


papi dylan memicingkan matanya ke arah istrinya " kok kasihan sama frans sih mih, harusnya kasihan sama anak kita dong" kesal papi dylan pada mami aira yang malah perduli pada orang lain


mami aira memukul lengan papi dylan "hilangin kebiasaan cemburu kamu itu pih" kesal mami aira


papi dylan mengusap lengannya "ya mami peduli sama pria lain" kesal papi dylan


"ya ampun pih" mami aira menggeleng tak percaya


"emang kasihan anak kita di tipu, tapi setidaknya ia masih punya jenny dan anak mereka" mami aira melirik jenny


"jenny dan anaknya itu bisa jadi penguat askar nanti pih, tapi gimana dengan frans pih? anak yang ia sayang selama bertahun-tahun bukanlah anak kandungnya, dia di tipu mentah-mentah sama gisella  dan sekarang keponakannya yang ia sayang seperti anak kandungnya sendiri, menghamili anaknya dengan cara yang salah. bayangkan perasaan frans dengan penghianatan istri dan penipuan keponakan serta anaknya. hubungannya dengan adiknya saja belum membaik sampai sekarang di tambah dengan ini" jelas mami aira


dokter ken membenarkan pernyataan mami aira "bener itu" sahut dokter ken


rafa menyantap keripik yanga da di atas meja "apa kita jodohkan om frans dengan bik jum, pembantu di rumah kita dad kan dia janda" sahut rafa dengan polosnya


"plak" jenny langsung memukul rata kesal " kumat sablengnya" cicit jennya


"iya kak" balas jenny


"titip anak mami ya jen" ucap mami aira


"iya, dampingi kembaranku yang rapuh itu" sahut eila


"iya semuanya" jenny berjalan pelan menaiki anak tangga


jenny berhati-hati untuk menaiki tangga karena kondisinya yang sedang hamil 4 bulan dan sudah mulai terlihat kondisi perutnya


jenny berjalan ke arah kamar askar, terlihat barang-barang yang berhamburan ke mana-mana jenny menghela napas panjang mendorong kamar askar yang tidak tertutup rapat


"kakak" panggil jenny


askar mendongak menatap jenny yang ada di hadapannya "kenapa naik? " askar mengusap pipinya yang basah dan berlari menghampiri jenny


askar menyingkirkan barang-barang yang berserakan "harusnya jangan ke sini" ucap askar menggandeng tangan jenny


"anak kamu kamu pengen di elus" jenny membawa tangan askar ke  perutnya dengan gerakan memutar di perut buncitnya


askar langsung mengecup perut jenny "ah maafin ayah ya, abaikan kamu sama bunda" ucap askar seakan berbisik pada anaknya


jenny melihat kamar askar yang tak berbentuk "pengen duduk, capek" keluh jenny


"ah" askar mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamarnya yang tak berbentuk itu


askar menggeser barang-barang yang sudah tak berbentuk dan menumpuk selimut banyak untuk jenny duduk


"kita turun saja ya disini gak nyaman" askar meraih tangan jenny tapi di tahan jenny


"jenny capek kak, nanti dulu jalannya. sekarang kan jenny mudah capek jadi jalan dari bawah ke sini itu butuh perjuangan" balas jenny


"tapi berantakan" balas askar


jenny meraih tangan askar "kak" jenny mengecup bibir askar sekilas


"jenny tahu pasti hati kakak merasa sakit hati dan hancur tak jauh seperti kamar ini yang sedang berantakan" jenny menyatukan tangan askar dan menggenggamnya erat " tapi jangan lupa masih ada jenny, istri kakak" jenny membawa tangan askar untuk mengusap perutnya "dan masih ada anak kita" jenny menangkup wajah askar dengan kedua tangan mungilnya  "bersedih boleh tapi jangan kelamaan nanti dedenya kasihan gak ada yang elus. kakak kan tahu anak kakak itu manja banget kalau gak di elus cepat merajuk dan bikin bundanya kesusahan" cicit jenny


askar tersenyum ke arah jenny "iya, maaf ya jen" ucap askar


"jangan bilang maaf kak, jenny tahu susahnya kakak dan sakitnya hati kakak jadi wajar sedih asal jangan berlarut-larut" jenny mengecup bibir askar kembali "punya istri muda harusnya bersyukur loh kak" cicit jenny


suasana serasa panas bagi askar karena tindakan kecil istri mungilnya "kamu yang bangunin dia loh" askar melirik pangkal paha nya yang seolah sudah siap tempur


jenny menelan salivanya kasar melihat arah mata askar yang terpampang jelas bhwa rudah itu sudah bangun dan siap meluncur


" kamar kakak kan berantakan gak bisa di pakai" ucap jenny beranjak dari duduknya


askar dengan sigap berdiri dan membopong jenny dalam sekali gerakan "kamar di rumah ini banyak kali" kekeh askar membawa jenny pindah kamar