Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Obrolan yang membuat nyaman



***


“drrrrrrrt” ponsel prastyo berdering tapi ia abaikan karena sedang memeriksa berkas kerjasama yang harus ia periksa dengan teliti


Cukup lama prastyo fokus dengan pekerjaannya “selesai juga” gumam prastyo merenggangkan ototnya yang terasa kaku karena berjam-jam duduk di depan komputer di meja kerjanya


Prastyo melirik ponselnya yang sempat bergetar “siapa yang tadi menghubungiku” gumam prastyo melirik ponselnya


“ting” belum sempat prastyo membuka ponselnya terdengar suara pesan masuk di ponsel miliknya


Prastyo membuka ponselnya untuk memeriksa siapa yang mengiriminya pesan


“om, ini sita apa kabar?” pesan pertama sita


Prastyo menggeser layar untuk melihat pesan sita yang lain “apa om ada waktu hari ini? karena aku sudah menyelesaikan pendaftaran kuliahku,  aku ingin mentraktir om makan sebagai ucapan terima kasih” prastyo kembali menggeser kebawah untuk melihat pesan sita yang lain


“apa om marah? Kenapa tak membalas pesanku” pesan ketiga sita


“apa om sibuk?”


“om”


“om”


"om"


“apa om membenciku?” pesan terakhir sita diakhiri dengan emoticon wajah menunduk sedih


Prastyo terkekeh dengan pesan sita “ dasar anak kecil” gumam prastyo mulai mengetikkan pesan di ponselnya


“aku baru selesai kerja, tak sempat melihat pesanmu tadi, untuk hari ini aku ada waktu sebentar saja karena besok aku harus ke jepang untuk urusan bisnis” pesan prastyo


Ponsel prastyo langsung berbunyi pertanda pesan masuk “ cepet juga nih anak balasnya, dasar anak muda” gumam prastyo membuka pesan dari sita


“ya sudah ayo makan malam sekarang” balas sita


Prastyo melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 malam “tapi ini sudah jam 8 malam kalau kita pergi sekarang pasti akan terlalu malam, apa tidak apa-apa kau keluar malam-malam?” Tanya prastyo


Lama prastyo menunggu balasan sita yang tak kunjung masuk di ponselnya membuat prastyo terkekeh


“ting” bunyi pesan masuk lagi “maaf om, ternyata daddy tak mengizinkanku keluar jam segini” pesan sita diakhiri emoticon dengan wajah menunduk sedih


Prastyo merasa lucu dengan pesan sita, ia memutuskan untuk melakukan panggilan telpon pada sita


“tut tut tut” bunyi panggiilan yang menunggu di angkat


“halo om” ucap sita saat telpon prastyo di angkat


“aku hanya 1 minggu di jepang, kau bisa mengajakku makan setelah aku pulang dari sana” ucap prastyo langsung pada intinya


sita langsung tersenyum lebar mendengar penuturan prastyo “oke om, sita akan ngajak om makan setelah om


pulang dari jepang” balas sita


“ya sudah kau tidur sana, aku mau pulang” ucap prastyo


“iya om” balas sita mengakhiri panggilan singkat itu


***


Eila sedang memainkan lagu klasik yang di ajarkan sang guru les dengan fokus


“prok prok prok” terdengar suara tepuk tangan setelah permainan piano eila berakhir


Eila mendongak melihat siapa yang memberinya tepuk tangan “uncle” gumam eila menghampiri Yama dan lansung menghambur memeluk Yama


“kok om disini?” Tanya eila


“besok om harus ke luar negeri untuk urusan pekerjaan jadi uncle sempatkan menemuimu disini, kalau di rumah pasti papi kamu mengusir om” balas Yama


“apa latihanmu sudah selesai?” Tanya Yama


“sudah kok” eila menoleh ke arah guru lesnya“ apa boleh saya mengobrol dengan uncle saya?” Tanya eila pada gurunya


“boleh, kau kan sudah selesai, nanti kamu bisa langsung pulang jika sudah selesai mengobrol dengan uncle mu” balas guru les eila meninggalkan eila dan Yama di ruang latihan piano


eila menoleh ke arah yama “uncle jangan bawakan aku hadiah lagi ya, hadiahku sudah banyak di rumah” ucap eila


“kenapa? Kau tak suka dengan hadiah uncle?” Tanya yama dengan wajah menunduk


“bukan begitu uncle, hadiah eila kan masih banyak. Yang belum sempat eila pakai saja masih ada, lagian uncle gak capek di marahin papi karena selalu bawain eila hadiah” Tanya eila


“enggak, kalau eila senang dengan hadiah uncle, gak masalah kalau dimarahin sedikit sama papimu yang galak itu” balas yama


“sebenarnya papi eila itu orang yang sangat baik dan ramah uncle, tapi gak tahu kenapa kalau sama uncle bisa galak gitu, bahkan kata papi eila harus jaga jarak 5 meter dari uncle” ucap eila mencebikkan bibirnya mengingat pesan yang selalu di lontarkan dylan padanya


"itu hanya karena papimu kesal sama uncle yang selalu bilang akan jadikan kamu istri uncle saat sudah besar" balas yama terkekeh


"uncle juga sih suka ngeledek papi mau nikahin eila, eila kan masih kecil" balas eila


Yama mengusap kepala eila gemas “ya sudah uncle pulang dulu ya,  uncle harus tidur cepat karena penerbangan pagi dan juga  kamu pasti sudah jemput sama sopir kamu” ucap Yama


“iya uncle, hati-hati ya, jangan lupa kabarin eila saat sudah sampai di jepang” balas eila tersenyum ramah pada Yama


Yama mengangguk meninggalkan eila yang masih duduk di ruang latihan


***


Kini Zaskia dan viko selalu makan siang bersama, mereka makan bekal yang selalu viko bawa ke sekolah


“masakan mamimu emang yang paling the best” ucap  zaskia mengacungkan kedua jempol tangannya ke arah viko


“tentu saja” balas viko tersenyum bangga akan pujian untuk maminya yang pintar memasak


“oh ya viko, apa boleh aku minta kamu ajarin aku pelajaran matematika yang barusan bu Rina ajarkan?” Tanya Zaskia


“tentu saja boleh, nanti aku akan ajarkan” balas viko


“terima kasih” balas zaskia


Viko mengajarkan zaskia bagaimana cara mengerjakan tugas matematika yang diberikan guru matematika pada mereka saat pelajaran pertama. Zaskia antusias mendengarkan viko yang mengajarkan zaskia dengan trik


berbeda dari gurunya “apa gak papa kalau caranya berbeda?” Tanya zaskia memastikan


“aku sering pakai cara yang berbeda dengan bu rina dan kata bu rina gak maslah yang penting jalan yang aku gunakan benar dan hasilnya benar” balas viko yang memang sering memakai cara pengerjaan tugas


matematika yang berbeda dari bu rina. Menurut viko cara yang di ajarkan maminya jauh lebih mudah dari pada cara yang di ajarkan gurunya di sekolah


“baiklah kalau bu rina gak keberatan” zaskia kembali mengerjakan soal tersebut dengan cara yang di ajarkan viko kepadanya


Setelah beberapa saat akhirnya zaskia bisa mengerjakan soal tersebut dengan benar “akhirnya bisa juga aku menyelesaikan soal ini” gumam zaskia tersenyum bahagia mendapati soal yang bisa tercapai dengan benar dan lancar


“syukurlah kalau kamu sudah bisa menguasai pengerjaan soal ini” ucap viko senang karena apa yang diajarkannya pada zaskia bisa di serap dengan baik


Zaskia mendongak ke arah viko “ makasih banyak bantuannya ya viko, kamu memang sahabat terbaik aku, kalau tanpa bantuan kamu pasti aku masih kebingungan degan soal-soal ini” balas zaskia


"sama-sama zaskia, aku seneng jika bisa membantumu mengerjakan soal dari bu rina" balas viko