
Ibu mardiana pergi menemani zeta untuk belanja furniture rumah yang ia butuhkan untuk rumahnya karena banyak barang yang sudah tak layak pakai di rumahnya yang sudah lama tidak di tempati
“sudah yakin kebeli semua?” tanya ibu mardiana
“kalau yang penting-penting sudah bu, palingan kalau masih ada yang kurang tinggal beli nanti lagi saja. Lagian hari ini zeta sudah nguras uang mas rino banyak” ucap zeta tak enak hati karena zeta yang membeli begitu banyak barang
ibu mardiana tersenyum ke arah zeta “gak masalah nak, rino kan suamimu jadi dia berkewajiban menafkahimu lagian kamu beli barang yang memang kalian butuhkan bukan untuk beli barang yang gak penting” balas ibu mardiana
“tapi zeta sudah ngabisin uang mas rino sampai 300 juta loh bu, cuma sehari lagi” ucap zeta
“kalau segitu doang gak masalah. Lagian uang kerjanya selama ini kan gak pernah ia pakai sama sekali. Karena biasanya dia pakai kartu dari ayahnya. Cuma saat dia mulai ngurus perusahaan Dylan saja, dia gak pakai uang ayah lagi karena gajinya yang sudah jauh lebih besar dari tempat kerjanya dulu” balas ibu mardiana
“emang jauh banget ya gaji mas rino di tempat kerjanya dulu dengan yang sekarang?” tanya zeta
“kalau itu lebih baik kamu tanya sama rino ya, soalnya ibu gak tahu pasti jumlahnya” balas ibu mardiana
“iya bu” balas zeta mengangguk
“ya sudah kita beli pakaian buat kamu, abis itu ibu antar kamu pulang, takut suamimu marah kalau kamu pulang kesorean” ajak ibu mardiana mempercepat acara belanjanya
***
Rino pulang ke rumah setelah bekerja sekitar jam 9 malam, ia masuk gerbang dan memarkirkan mobilnya lalu masuk ke dalam rumah
saat memasuki rumahnya Rino menyipitkan matanya. melihat Zeta sedang mengangkut beberapa barangnya ke lantai atas tempat kamarnya berada “kamu sedang apa?” tanya rino
“masukin barang-barang zeta “ balas zeta sibuk mengankut kardus miliknya
“kenapa gak kamu suruh kakakkmu bantu kamu masukin kedalam waktu dia antar barang?” tanya rino
“kita kan gak sekamar mas, aku gak enak sama kakakku kalau sampai dia tahu kalau kita gak sekamar” balas zeta
“ ya sudah, aku bantu bawa” ucap rino membantu zeta memasukkan barang-barang zeta ke kamar zeta
“sudah gak usah mas, mas kan capek baru pulang. Lagian tinggal 1 kardus dan beberapa paper bag itu saja” balas zeta melarang rino membawa barangnya
“sudah gak papa, biar cepat selesai” balas rino tetap membawa barang zeta ke lantai atas
Rino meletakkan barang zeta kekamar zeta “kamu ngangkut barang sebanyak ini sendiri?” tanya rino melihat banyak kardus berserakan di kamar zeta
“iya, soalnya semua barang zeta di kirim kesini, kata ayah suruh dibawa semua saja” balas zeta
Rino menautkan kedua alisnya “ayahmu aneh ya, lagian kenapa juga barang kamu harus dipindahin semua. Rumah itu kan atas namaku, dan itu berarti milik suami kamu. Kenapa jadi kesannya kamu menumpang di rumah itu dan di usir dari sana” balas rino tak mengerti cara berpikir ayah zeta
“ayah zeta emang gak suka zeta dari kecil mas, karena kata ayah zeta, zeta yang sudah bikin ibu zeta sakit-sakitan dan emninggal” balas zeta
"waktu itu kan kamu masih kecil, kenapa di bilang sebagai penyebab kematian ibumu?" tanya Rino
zeta mengangkat kedua bahunya "entahlah" balas zeta
Rino memindai kamar zeta yang begitu banyak barang “kamar kamu penuh gini, lebih baik tidur di kamarku saja” usul rino
“gak usah mas. zeta bisa beresin dulu kok” balas zeta
“sudah ayok” ajak rino menggandeng tangan zeta agar ke kamarnya
rino membawa zeta masuk ke dalam kamarnya “sudah kamu tidur saja, mas mau mandi dulu” ucap
rino mempersilahkan zeta untuk tidur di ranjang
Zeta memindai kamar rino yang terlihat rapih padahal baru dipakai 2 hari dan dirinya yang seharian bekerja
“ternyata mas rino orang yang rapih” gumam zeta membaringkan tubuhnya di ranjang
Tak berselang lama zeta sudah masuk kedunia mimpi meninggalkan rino yang masih terjaga
rino melirik ke arah zeta “ah sudah tidur ternyata, tadi saja bilang mau bersihin kamarnya dulu” gumam rino duduk di sofa
Rino membuka ponselnya mengecek bebrapa email masuk
“ah ada email dari pak joff” gumam rino mengambil laptop yang ada dikamarnya untuk mengecek email masuk dari rekan bisnisnya
Rino membuka laptopnya, dan langsung memeriksa emal
masuk “ah besok ya” gumam rino melihat deadline pembahasan proyeknya dengan
salah klien bisnisnya adalah besok
Rino mengedarkan pandangannya tak ada tempat untuk ia bekerja karena memang banyak barang yang belum tersedia di rumahnya, ia memutuskan untuk bekerja dilantai dengan bersandarkan tepi ranjang
“tek tek tek “ terdengar suara ketikan dari laptop rino membuat zeta terbangun dari tidurnya
“mas gak tidur?’ tanya zeta melirik ponsel yang tak jauh dari tempat ia tidur untuk melihat sudah pukul berapa
rino menoleh kebelakang “ah, aku membangunkanmu ya?” tanya rino membenarkan posisi duduknya
“mas lagi ngerjain apa sih? Sampai pakai 2 lapot di jam 2 dini hari seperti ini?” tanya zeta mengucek matanya karena baru bangun tidur
“aku ada pertemuan bisnis besok, klien perusahaan mempercepat pertemuannya jadi aku harus menyelesaikannya seblum jam 10 pagi besok” balas rino
“mau zeta bantu?” tanya zeta
“ini masih jam 2 dini hari, mendingan kamu tidur saja” balas rino
“gak papa mas, mana yang bisa zeta bantu” tanya zeta menadahkan tangannya
“kau bantu merapihkan file ini saja, tadi aku asal mengetiknya karena di buru waktu” balas rino
“ya sudah” zeta langsung merapihkan proposal yang rino buat dengan gerakan cepat sedangkan rino menyelesaikan perjanjian kerjasama dengan klien yang ia akan temui
“sudah beres mas” ucap zeta merapihkan susunan proposalnya
dalam waktu 30 menit
“cepet amat?” tanya rino yang baru menyelesaikan mengetik perjanjian kerjasama
“ah, aku pernah magang diperusahaan yang akunting jadi zeta biasa kerja dengan cepat kalau urusan begini” balas zeta meminta laptop satunya untuk diperiksa
Zeta langsung merapihkan perjanjian kerjasama yang dibuat oleh rino “ aku sudah memberi tanda di beberapa bagian yang sekiranya salah, nanti mas periksa lagi saja, takut kalau zeta yang ganti nanti bermasalah” ucap zeta merapihkan file Rino
“ah iya” balas rino
zeta mengerjakannya dengan begitu cepat “ini sudah selesai mas” balas zeta membenarkan posisi tanda tangan perwakilan perusahaan
Zeta membelalakkan matanya lebar “CEO Mahardika Group” gumam zeta membaca nama CEO perusahaan tempat yang akan ia datangi untuk wawancara kerja “mas CEO nya?” tanya zeta
“iya” balas rino mengambil laptop miliknya
Rino memeriksanya “iya bener ada yang salah” ucap rino membenarkan semua yang di tandai zeta
“kalau mas CEO di sana, terus zeta gimana? Apa zeta batalin lamar kerja di sana?” tanya zeta
Rino mendongak “kenapa?” tanya rino
“yakan mas pimpinan di sana nanti dikira KKN lagi, gara-gara zeta kerja di sana” balas zeta
“jangan terlalu memikirkan anggapan orang, toh yang ngurus penerimaan pegawai baru itu bukan mas, dan bukan jaminan juga kamu akan diterima bekerja di sana” balas rino
“ ya sudah” balas zeta