
***
anggota keluarga mahardika tengah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi bersama seperti hari-hari biasanya “mih nanti askar sama syakia nginep di rumah orang tua syakia ya” pamit askar pada orang tuanya
mami aira mendongak ke arah askar “iya, boleh saja kalian mau nginap di rumah orang tua syakia, mereka kan juga orang tua kalian. Salam buat orang tua kamu ya syakia” ucap mami aira
“iya mih” balas syakia
viko menghentikan kegiatan makannya menatap mami aira “oh ya mih boleh minta tolong temenin ara periksa kandungan gak?” Tanya viko
“tentu saja boleh sayang, mami malah seneng banget nemenin ara jadi sekalian bisa lihat perkembangan cucu mami" mami aira menatap viko dengan mengerutkan keningngya " kamu emang mau kemana? kok gak bisa nemenin ara periksa kandungan?” Tanya mami aira
“ viko ada janji ketemu klien bisnis dari Jerman, si askar gak bisa di mintain tolong buat bantu handel jadi terpaksa viko yang berangkat” balas viko melirik tajam adiknya
askar memicingkan matanya ke arah viko “orangnya ketus gitu, serem ah kak. yang ada nanti aku kesal sama dia terus kerjasama kita jadi batal” sahut askar
papi dylan mengerutkan keningnya menatap viko dan askar secara bergantian “emang siapa sih orangnya?” Tanya papi dylan penasaran
“siapa ya namanya” viko Nampak berpikir, mengingat nama orang yang jadi klien nya
“ah Brandon calvin namanya” balas viko mengingat nama orang yang akan ia temui nanti
eila menajamkan pendengarannya mendengar nama yang tak asing buatnya “siapa kak?” Tanya eila memastikan pendengarannya
“Brandon calvin” ulang viko menatap heran adiknya
Mami aira memicingkan matanya ke arah eila yang terkejut mendengar nama brandon di sebut “jangan bilang, dia itu salah satu mantan kamu?” Tanya mami aira dengan tatapan tajam
Eila mengangguk mengiyakan “iya mi dia salah satu mantan pacar eila" balas eila dengan suara pelan
"kamu nih kebiasaan punya pacar di mana-mana, ampe orang jerman aja ada mantan kamu" sahut askar tak habis pikir dengan kembarannya yang begitu banyak punya mantan kekasih sampai orang jernab juga ada mantan kekasih eila
"dia tuh orangnya posesif banget mih, makanya kita putus dulu karena eila ngeri sama dia. gak tahan lah eila sama dia walaupun sebenernya dia orang yang sangat perhatian ” balas eila
“sebaiknya untuk sementara waktu ini kamu jangan ke kantor deh, soalnya aku sempet denger dia juga seorang mafia” sahut askar
papi dylan mengerutkan keningnya ke arah viko “kalau dia anggota mafia, kok kita bisa ada kerjasama bisnis dengannya?” Tanya papi dylan
“kita sudah ada kerjasama dengan perusahaan itu semenjak perusahaan itu masih di pegang ayahnya Brandon pih jadi kalau mau mutus kerjasama karena pindah pengurusan itu kayanya kurang etis deh pi” sahut mami eila
“emang siapa ayahnya?” Tanya papi dylan
“Ansel calvin, inget gak pih “ balas mami aira mengingatkan papi dylan siapa ayah kandung brandon
“ansel..." papi dylan nampak berpikir dimana ia pernah mendengar nama itu "berarti dia anak angel dong?” Tanya papi dylan
Mami aira mengangguk “iya dia anak angel, anak yang di tinggalkan angel begitu saja setelah di lahirkan” jelas mami aira mengingat cerita angel yang pergi keluar negeri dan menjalin hubungan tanpa status dengan orang jerman yaitu ansel calvin dan sampai hamil brandon tapi karena angel tak ingin terikat status sehingga memutuskan untuk meninggalkan brandon sesat setelah ia di lahirkan dan langsung menyerahkannya pada ansel
“wah, gak nyangka papi ternyata dia anak angel” sahut papi dylan tak menyangka brandon adalah anak salah satu kenalan di masa lalunya
Mami aira melirik eila “berdoa saja dia sudah melupakanmu eila, mami pernah lihat dia saat kecil dulu. dia itu orang yang begitu posesif akan miliknya bahkan mami pernah lihat betapa posesifnya dia sewaktu marah dan menghancurkan mainanya sampai membakarnya hanya karena ada teman satu lingkungannya yang memegang mainannya. dan mami juga pernah dengar dia orang yang akan selalu berusaha mendapatkan sesuatu yang di inginkannya dengan cara apapun. Jadi berhati-hatilah” ucap mami aira memperingatkan
pembicaraan pun di akhiri, mereka melanjutkan kegiatan sarapan mereka dengan tenang dengan hanya suara sendok saling bersautan yang terdengar
“eila” panggil daren berjalan menghampiri eila mengecup kening eila
daren menoleh ke arah anggota keluarga eila "pagi semua" sapa daren
“wah, nak daren datang. Ayok makan” ajak mami aira mempersilahkan daren untuk duduk
“iya mih” daren ikut duduk di meja makan untuk ikut sarapan
“biar aku ambilin”eila melayani makan daren dengan telaten mengambilkan lauk pauk beserta sayurnya untuk daren
“terima kasih” ucap daren menerima makanan yang di siapkan eila
“kalian ada acara apa hari ini?” Tanya mami aira
“kita mau lukis di puncak mih, eila sudah bilang kan?” Tanya daren memastikan apakah eila sudah meminta izin pada orang tuanya
“sudah kok” balas mami aira
papi dylan menatap tajam daren “inget ya daren, kalian di sana cuma ngelukis jadi jangan macam-macamin anak om ya” peringat papi dylan
“harusnya yang di kasih peringatan tuh anak gadis papi, yang mepet terus sama daren kan eila jadi yang bikin bahasya sebenarnya eila, nanti perjaka daren di ambil paksa eila” sahut askar meragukan saudari kembarnya tidak menggoda daren
“enak saja” eila mengangkat sendoknya berniat memukul askar kesar karena di ledek saudara kembarnya
maami aira melirik eila “yang penting jaga diri ya sayang. ingat kalian belum menikah”pinta mami aira
“iya mih, eila akan jaga diri dengan baik”sahut eila
"jangan khawatir pi, mi, daren akan jaga eila dengan baik" balas daren
"iya, kami percaya kok" balas mami aira
"terus kalian nanti nginep apa langsung pulang?" tanya papi dylan
"lihat nanti lukisanya lama, atau enggak. kalau lama ya menginap lah tapi kalau enggak ya langsung pulang" balas eila
"kalian enak banget ya punya hobi yang sama" ucap ara
viko melirik istrinya "mas juga suka hobi kamu" sahut viko
"yang mas suka itu bukan hobi ara mas, belajar mana ada jadi hobi ara. ara hanya jadiin belajar kewajiban saja, mas kan tahu ara sukanya bikin cerita" sahut ara
"ya sama saja sayang, belajar dan menulis kan tidak jauh beda berarti kesukaan kita juga sama" balas viko tersenyum simpul
"ah kesel deh sama mas" sahut ara