Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Saya memang cinta kamu ara (season 2)



***


Ara mulai mendapatkan beberapa pekerjaan paruh waktu, salah satunya ia bekerja sebagai pelayan hotel di salah satu hotel bintang lima di London


“ara, kamu bersihkan kamar 423 ya” pinta seorang wanita berpakaian rapih dengan tanda pengenal manager


“tapi itu kan bukan lantai yang di tugaskan untuk saya “ sahut ara yang di tugaskan membersihkan lantai dengan angka kamar 100 ke bawah


“semua sedang sibuk ara, kamu kan anak baru jadi jangan banyak membantah ya” ucap manager hotel itu menatap tajam ara


ara menghela nafas, benar jika dia adalah anak baru dan tidak diperkenankan banyak protes “baiklah” ara terpaksa membawa peralatan bersih-bersihnya menuju kamar 423 yang berada di lantai 26


Ara membuka pintu kamar dan mulai membersihkan kamar suite room tersebut mulai dari mengganti seprei dan merapihkan setiap sudut ruangan agar terlihat bersih rapih. tak lupa ia menata ruangan agar lebih fresh


“ah selesai juga” gumam ara melihat kamar suite room tersebut sudah bersih dan rapih


“waktunya keluar” ara berjalan melangkah pergi menuju peralatan kebersihan yang ia letakan dekat pintu masuk


“brugh” tiba-tiba ada yang memeluk ara dari belakang membuat ara ketakutan


terasa di tubuh ara bahwa orang yang memeluknya adalah seorang laki-laki karena dada bidangnya bersentuhan dengan tubuh bagian belakang ara “anda siapa, jangan macam-macam ya, atau saya pukul pakai sapu” ancam ara yang memang masih menggenggam sapu di tangannya


Pria itu tak menyahut malah makin mempererat Pelukannya pada ara


“jangan macam-macam ya atau saya akan nekat dengan anda" ara ingin memukul pria yang memeluknya tapi ara tak bisa bergerak sedikitpun, pria itu punya tenaga yang jauh lebih besar dari ara, bahkan tak terusik sama sekali dengan tenaga ara yang kecil


ara mulai kehabisan akal melepas cengkeraman pria tersebut “hiks hiks hiks” ara mulai terisak lirih meratapi dirinya yang tak bisa mengelak “tolong jangan apa-apakan saya tuan, saya itu anak orang tua saya satu-satunya kalau ada apa-apa


dengan saya, gimana nasib orang tua saya tuan” ara makin terisak karena pria itu tak melonggarkan sedikitpun pelukannya malah terkesan makin mempererat dan menghirup aroma ara


“saya mohon tuan” pinta ara lirih


“saya gak ingin melepaskan kamu, kalau saya melepaskan kamu pasti kamu akan coba kabur lagi dari saya dan saya gak mau itu terjadi ” balas pria tersebut dengan suara lirih, pria tersebut yang tak lain adalah viko mahardika, orang yang sangat ingin ara hindari


Ara menghentikan tangisnya mendongak ke atas, matanya membelalak lebar saat bertemu netra cokelat di hadapannya “bagaimana anda tahu keberadaan saya” Tanya ara dengan suara


yang masih sesenggukan, matanya tak percaya pada pria dihadapannya. bagaimana busa pria itu menemukannya, bukankan ia sudah menyembunyikan keberadaannya sebaik mungkin


“kau tak perlu tahu dari mana saya tahu Keberadaan kamu” viko membalik posisi ara agar menghadapnya, tak lupa viko mencengkeram lengan ara, agar ara tak mencoba kabur darinya “yang perlu kamu tahu saya pasti akan menemukanmu dimanapun kamu mencoba sembunyi dari saya” ucap viko


Ara menunduk kembali, tak mampu menatap viko “tolong maafin saya pak kalau saya kabur dari bapak padahal anda sudah mengeluarkan


Viko merasa sakit di dadanya melihat ara yang terlihat sedih dan berusaha keras untuk menghindarinya “kenapa kamu kabur? Pasti bukan hanya karena merindukan ayahmu kan” Tanya viko ingin tahu alasan ara pergi


Air mata ara turun dengan bebasnya membasahi pipi mulus ara “saya hanya gak tahan tinggal di keluarga anda” balas ara


viko mengernyitkan dahinya “apa keluargaku ada menyinggung mu?” Tanya viko memastikan


Ara menggelengkan kepalanya “mereka terlalu baik pak, saking baiknya malah" ara menghela nafas panjang "Dan membuat saya makin merasa bersalah sangat merasa bersalah karena


membohongi mereka yang terlalu baik sama saya, padahal mereka menganggap saya yang hanya orang miskin dan tak punya apa-apa ini sebagai bagian keluarga mereka” balas ara


Viko menghela nafas “jangan khawatir mereka tidak akan marah ataupun membencimu, mereka sudah tahu tentang kita dan mereka tak marah malah mereka minta kau kembali datang ke rumah” balas viko menenangkan ara


Ara menghempas tangan viko kasar saat merasa genggaman tangan viko mulai mengendur “tetap saja ara gak bisa balik kesana” ucap ara makin terisak


“kenapa?” Tanya viko menautkan kedua alisnya


ara memegang tangannya di dada dan mencengkeram nya “hati saya terlalu sakit di sana pak, saya gak sanggup berdiri di sana, kaki saya serasa mati rasa di sana” balas ara


viko menatap bingung ara “saat mereka sudah tahu kalau saya hanya kekasih bohongan anda saya makin tak sanggup di sana” ungkap ara


“ara…” lirih viko ingin meraih tangan ara tapi ara mundur perlahan menghindari viko


“saya gak mau jadi kedok anda untuk menutupi rasa cinta anda yang masih sangat besar pada wanita itu. Saya gak sanggup!”teriak ara meluapkan apa yang di pendam nya


Ara melorot kan tubuhnya, berjongkok dan menutup wajahnya dengan kedua tangan “saya gak sanggup pak” tangis ara yang makin kencang


“saat anda berbuat manis sama saya setiap hari di sana itu membuat saya menaruh harap pada anda tapi seketika itu anda hempaskan saat saya melihat anda menikmati ungkapan cinta dari wanita itu. saya merasa seperti debu yang bisa tertiup angin kapan saja. anda pasti bisa membuang saya kapan saja anda ingin” ara menangis sesenggukan


Viko ikut berjongkok di hadapan ara mensejajarkan tubuhnya dengan ara. hati viko begitu sakit melihat wanitanya menangis


"hiks hiks hiks" ara terus menangis menyalurkan rasa sesak dan sakit yang ia rasa “saya gak sanggup pak, saya gak kuat”


ara melepas tangannya dan mendongak, matanya menatap manik mata cokelat milik viko yang ada di depannya “jika anda terus berbuat baik pada saya itu hanya membuat saya merasa kalau bapak itu cinta sama sa…” belum sempat


ara menyelesaikan ucapannya mata ara langsung membelalak lebar kala sebuah benda kenyal berwarna merah muda itu menabrak bibirnya dengan gerakan cepat membuat ara tak bisa mengelak


Viko melepas kecupan singkat itu “saya memang cinta sama kamu ara” ucap viko lirih menatap netra hitam milik ara