
***
Di dalam kendaraan askar dan eila terus berdebat tiada henti, membuat ara hanya bengong melihat perdebatan tak masuk akal dari dua saudara kembar itu
“jangan kau lihat mereka yang selalu bertengkar, hubungan mereka sangat dekat karena mereka adalah saudara kembar” ucap viko
Ara menoleh “pantesan mereka begitu mirip, ternyata saudara kembar” gumam ara yang baru tahu eila dan askar kembar karen memang viko belum cerita punya adik kembar, viko hanya bilang punya dua adik
“nanti apa yang harus aku ucapkan pada orang tuamu?” Tanya viko
“jawab apa adanya saja" balas viko
“memangnya mereka tak masalah punya menantu orang tak punya sepertiku?” Tanya ara
Viko menatap lekat ara “orang tuaku bukan orang yang memandang dari segi harta, mereka adalah orang yang sangat menghargai orang lain walaupun hanya seorang pengemis di jalan” balas viko
Ara mengangguk paham penjelasan viko
“kakak ikut ke acara ulang tahun perusahaan kan ?” Tanya askar
“malas” balas viko memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi
“papi bisa marah loh kak” ucap eila
“marah, biarkan saja nanti kakak dengerin” balas viko
“kakak ini, nanti kita juga kena kak, kakak kan tahu sendiri satu di antara kita kena marah pasti yang lain kena juga” kesal askar mengingat setiap ada anak yang kena omel berakhir semuanya kena omel
“ya sudah, nikmati saja" balas viko datar
“kakak” teriak eila dan askar serempak
***
Mami aira dan papi dylan berdiri di teras rumah menunggu kedatangan putranya yang sudah lima tahun ini tak pernah menginjakkan kaki di rumah kedua orang tuanya
“pih, itu mereka” gumam mami aira saat melihat mobil putra keduanya memasuki halaman rumah
Ketiga anak kesayangan aira dan papi dylan pun turun dari mobil
“viko” gumam mami aira menghambur memeluk erat
putra sulungnya itu “mami merindukanmu” ucap mami aira
“viko juga kangen” viko membalas pelukan mami
aira
Viko mengurai pelukannya dan memeluk papi dylan “
papi” ucap viko
“akhirnya kamu pulang nak” ucap papi dylan
Papi dylan mengurai pelukannya “papi senang
banget kamu pulang nak” ucap dylan
Mami aira melirik seorang wanita yang berada di
sebelah eila “kamu siapa?” Tanya mami aira
Ara mencium punggung tangan mami aira “saya ara
tante, pacar mas viko” balas ara
“hah?” mami aira dan papi dylan melongo sama
seperti eila dan askar tadi
“sudah mih, mereka capek, kita suruh istirahat
dulu” ucap eila
Eila mengajak ara ke kamar tamu rumahnya “kamu tidur di sini saja, kamar kakak ada di sana” tunjuk eila pada kamar di sebelah kamarnya” dan itu kamarku dan askar” tunjuk eila pada dua kamar di sebelah kamar ara
“iya” balas ara mengangguk
“kau bebersih dulu saja, nanti turun untuk makan ya” ucap eila
“terima kasih” balas ara
Ara berjalan mengitari kamar yang akan ia tinggali selama ada di rumah viko “wah kamar yang cukup besar, hampir sama
dengan rumahku di sana” gumam ara mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamarnya
***
Viko baru selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya
“astaga mami”seru viko yang terkejut karena mami
aira tiba-tiba ada di hadapannya
“ini gak sebanding dengan keterkejutan mami” ungkap mami aira melirik viko
Viko duduk di tepi ranjang melanjutkan kegiatannya
untuk mengeringkan rambutnya
“belum lama ini” balas viko
“kamu yakin dengannya?” Tanya mami aira
“ayolah mih, bukannya mami yang bilang viko harus melupakan masa lalu” ucap viko
“iya sayang, mami Cuma khawatir saja kalau kamu hanya menipu mami agar mami tidak mengkhawatirkan kamu” ucap mami aira
Viko memeluk maminya “jangan terlalu mengkhawatirkan viko mih, viko sudah besar” ucap viko
“iya sayang kamu sudah besar, tapi biar gimanapun kamu tetap anak mami” balas aira
viko tak ingin terus membahas hubungannya dengan mami aira dan ingin mengalihkan pembicaraan "viko samperin ara dulu ya mih, sekalian ajak
dia makan malam” ucap viko
“iya sayang, makanannya sudah siap semua kok” ucap mami aira bergegas keluar kamar viko
Viko berjalan ke arah kamar ara “tok tok tok”viko mengetuk pintu kamar ara
Ara bergegas membukanya “ayok turun”ajak viko
“iya mas” balas ara mengikuti langkah viko
Saat berada di ujung tangga, viko memperlambat langkahnya dan menggandeng tangan ara untuk turun ke lantai bawah dimana semua keluarga besar mahardika sudah berkumpul
“keluarga anda cukup besar” gumam ara melihat seluruh anggota keluarga viko yang duduk di meja makan
Viko menghentikan langkahnya di dekat meja makan “mereka adalah keluargaku, mereka berdua adalah adikku dan kau sudah bertemu dengannya” ucap viko pada kedua adiknya
"di sebelah sana ada papi dylan dan di sebelahnya adalah mami aira, orang tuaku” viko melirik wanita sepuh di samping kiri papi dylan “dia omaku, oma diana" ucap viko memperkenalkan semua keluarganya pada ara
Ara menunduk hormat “saya Neysha lara Pallavi, biasa dipanggil ara. Salam kenal” ucap ara
"ayo duduk dulu” ajak mami aira
“ayo di makan “ ucap mami aira mempersilahkan ara mencicip hidangan yang di siapkan mami aira
Ara langsung semangat menyantap makanan di
hadapannya ‘hemmm, enak tante” ucap ara senang dengan masakan mami aira
“tante senang jika kamu suka masakan tante” ucap mami aira
“ngomong-ngomong sejak kapan kamu kenal dengan viko?” Tanya mami aira
“kalau tahu mas viko sih sudah sejak 3 tahun lalu tapi kalau mulai bicara dengannya sekitar 1 tahun lalu sedangkan pacaran baru 5 bulan lalu” balas ara
“kamu mahasiswa viko”tebak mami aira mendengar dari balasan ara
" iya tante, saya mahasiswinya” balas ara
“apa dia sedingin kulkas saat dengan para mahasiswanya” Tanya eila semangat
“tentu saja, untuk itu kita tidak pernah bicara di awal padahal dia pernah jadi dosen saya waktu saya masih semester 2” balas
ara
Viko menoleh ke arah ara "apa iya?" Tanya viko tak percaya
“tentu saja, kalau gak percaya mas bisa cek absen mas 2 tahun lalu” balas ara
Askar terkekeh “aku sudah nyangka itu” ucap askar sudah mengira kakaknya orang cuek dan dingin
“terus gimana ceritanya kalian mulai bicara?” Tanya eila mulai kepo
ara nampak berpikir “itu saat aku dapat beasiswa dan mas viko yang
kasih surat beasiswaku” balas ara dengan jujur perihal dirinya mulai bicara dengan viko
“wah kau peraih beasiswa” ucap papi dylan takjub
“iya om saya dapat beasiswa, kalau saya gak dapat beasiswa mana mungkin wanita miskin seperti saya bisa kuliah” ucap ar
tersenyum miris
“jangan bicara seperti itu nak, orang miskin juga punya kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi, dan buktinya kau bisa tetap kuliah walaupun dengan jalan melalui beasiswa” sahut mami aira
“kamu berapa bersaudara?” Tanya oma dinda juga penasaran dengan ara
"saya punya dua saudara tiri” balas ara
“orang tuamu berpisah?” Tanya oma Diana lagi
“iya oma, setelah mereka berpisah ayah menikahlagi jadi aku punya dua saudara tiri” balas ara
“lalu dimana ayahmu?” Tanya papi dylan
“dia sedang menjalani pengobatan om, ayah saya terkena stroke dan jadi lumpuh” ucap ara terlihat sedih
"maaf ya nak, bukan maksud om mengungkit lukamu” ucap papi dylan merasa tak enak hati
“tidak papa om, toh ayah saya sakit sudah lama dan itu juga kan bukan salah om jadi tak perlu takut menyinggung saya” ucap ara
Terlihat sekali keluarga viko menyukai ara, dan viko bersyukur orang tuanya menerima ara dan dengan ini orang tuanya tak akan
mengkhawatirkan dirinya lagi