
Sepulang dari pesta, aira duduk di sofa ruang tamu dan mensejajarkan kakinya
“duh capek” gumam aira memijit kakinya yang bengkak karena kelelahan
kehamilannya kali ini memang membuat aira begitu kelelahan karena dirinya yang hamil anak kembar dan dirinya yang merasakan bengkak di bagia-bagian tubuhnya jika terlalu lelah
Dylan menghampiri aira ikut memijit kaki aira “capek ya sayang?” Tanya dylan merasa kasihan dengan aira yang sering mengeluh lelah
“iya bang” balas aira mengangguk tanpa menghilangkan senyum di wajahnya
“mih, pih, viko naik ke atas ya ngantuk soalnya” ucap viko melihat orang tuanya yang malah memilih duduk di sofa
“ya sayang, jangan lupa cuci muka dan ganti baju dulu sebelum tidur ya” ucap dylan
“iya pih” viko berjalan menaiki tangga menuju kamarnya
“besok jadwal mingguan kita periksa kan?” Tanya dylan masih memijit kaki aira
“iya bang, besok jadwal periksa aira “ balas aira
“ya sudah, besok langsung ketemu di rumah sakit ya ra, soalnya abang harus ke kantor dulu” ucap dylan
“iya bang” balas aira
***
Sekitar pukul 3 sore hari aira tengah bersiap-siap untuk memeriksakan kandungannya
“yuk ferdi, kita berangkat” ucap aira menghampiri ferdy yang sudah menunggu aira di halaman
“iya nona” balas ferdy membukakan pintu mobil untuk aira
Aira masuk ke dalam mobil diikuti ferdy yang ikut masuk ke kursi kemudi”jangan lupa pasang sabuk pengaman nona” ingat ferdy saat melirik aira yang belum memakasi sabuk pengaman
“iya” balas aira segera memasang sabuk pengaman
“hati-hati mengemudinya ya fer, jangan buru-buru toh jadwal periksa masih 2 jam lagi” ucap aira santai sembari memainkan ponselnya
“iya nona” ferdy melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang biasa di datangi aira untuk periksa
“oh ya fer, kayanya kamu sudah lama gak pulang ya?” Tanya aira membuka obrolan
“iya nona, orang tua saya di luar negeri jadi saya jarang bisa bertemu” balas ferdy
“kalau haris orang tuanya di Indonesia ya?” Tanya aira lagi
“iya non, tapi hubungan keluarga haris agar kurang baik makanya dia juga jarang pulang seperti saya ” balas ferdy
Ferdy mengendarai mobil sambil melirik 3 mobil yang cukup mencurigakan “ nona boleh tidak kalau saya agak ngebut?” Tanya ferdy
aira melirik ferdy dari balik cermin yang ada di hadapan ferdy “jangan lah fer ini kan lagi rame kendaraan, bahaya” balas aira tak tau ada mobil yang mengikutinya
Dengan sigap ferdy mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang “terus perhatikan lokasiku dengan baik” pinta ferdy lirih
Aira sayup-sayup mendengar apa yang di ucapkan ferdy “apa ada masalah fer?” Tanya aira
Ferdy menggelengkan kepalanya “tidak nona” balas ferdy tak ingin membuat aira khawatir
Ferdy menjalankan mobilnya dengan biasa saja sepanjang perjalanan tapi saat ia akan berbelok ada 3 mobil yang menghadangnya membuat ia tak bisa berbelok. Ferdy awalnya lanjut melajukan mobilnya agar bisa
berbelok di jalan depan tapi mobil tersebut terus menghimpitnya, bahkan ada tambahan 2 mobil dibelakangnya membuat gerakannya makin terbatas
“sial” ferdy mengumpat kesal memukul setir mobilnya karena meobil-mobil tersebut seakan mengarahkan ke suatu tempat
Aira yang mulai merasa ada yang tak beres pun ikut gelisah “kenapa mobil-mobil itu mengganggu jalan kita?” Tanya aira cemas
“tenang nona, saya akan melindungin nona dengan taruhan hidup saya” ucap ferdy yakin
Mobil-mobil terus menghimpit mobil aira membuat ferdy terpaksa menghentikan mobilnya di jalanan yang terbilang cukup sepi
Ferdy menoleh kebelakang menatap manik mata aira lekat “tetap kunci pintu nona, kaca mobil ini cukup kuat setidaknya bisa menahan mereka cukup lama, jangan keluar apapun yang terjadi” pinta ferdy
Aira mengangguk “iya fer” balas aira dengan rasa takut yang membuncah
“serahkan perempuan itu pada kami dan kau selamat” ucap salah satu pria berbadan tinggi dengan pongah ke arah ferdy
“cih” ferdy membuang ludahnya ke sembarang arah “mimpi kau!” bentak ferdy
“berarti kau siap mati” umpat pria tersebut mulai maju melawan ferdy
Terjadilah baku hantam antara ferdi dan sekumpulan orang yang berjumlah lebih dari 18 orang karena tadi ada 6 mobil yang menghimpitnya. Dengan keahlian ferdy yang mumpuni ferdy tetap bisa mengimbangi orang-orang tersebut walaupun ia sendirian
Aira hanya menutup mulutnya merasa ngilu saat ferdy melawan segerombolan pria seorang diri “ah, abang” gumam aira langsung menghubungi Dylan karena ketakutan
“tut tut tut” panggilan tak kunjung di angkat dylan
“ih kok gak angkat sih” gumam aira yang berkali-kali melakukan panggilan tapi tak kunjung mendapat jawaban
Aira memutuskan mengirimkan pesan “bang, ada yang cegat aira, ferdy kasihan harus ngehadepin banyak orang sendirian” pesan aira
Baku hantam terjadi hampir setengah jam, cukup banyak lawan yang sudah tumbang di tangan ferdy tapi tetap itu membuat ferdy cukup kelelahan dan juga sudah banyak luka di tubuhnya tapi tak membuat ia menyerah sama sekali
“ceklek” terdengar suara pelatuk senjata api
“diam, atau kepalamu meledak”ancam seseorang mengarahkan sebuah senjata api ke kepala ferdy
Ferdy mengangkat tangannya “aku sama sekali tak takut ancamanmu, tembak saja jika kau berani” ucap ferdy dengan tersenyum smirk
“siapa juga yang akan membunuhmu” elak seorang pria dengan tersenyum devil
Pria itu tersenyum penuh arti kearah mobil yang ada aira di dalamnya “keluar, atau aku ledakan kepalanya” ancam pria tersebut pada aira
Aira yang memang berhati baik, dan tak ingin ada orang terluka karena dirinya, akhirnya ke luar dari dalam mobil “jangan lukai dia kak, dia gak salah apapun, aku akan ikut kak Kendra” seru aira
yang melakukan tidakan gila ini adalah kendra Abraham anak dari selingkuhan papi dylan yang kesal karena perbuatan dylan yang menghancurkan rencana yang ia susun sekian lama untuk menguasai harta papi gunawan
“good girl” balas Kendra tersenyum puas
“jangan nona” teriak ferdy melarang aira ikut dengan kendra
Kendra langsung memukul tengkuk ferdy dan berjalan kearah aira dengan langkah cepat
Ferdy yang tadinya sempat limbung, kembali berdiri dan berlari kearah aira untuk menyelamatkannya “diam! Atau aku bunuh dia sekarang”ancam Kendra meletakkan pistol di kepala aira
“jangan main-main kau! Kau akan habis di tangan suaminya kalau sampai menyentuh seujung kukunya”bentak ferdy mengingatkan kendra akan semarah apa dylan nanti jika ada yang mengusik istri yang sangat di cintainya
“uuuuughhhh takut” ucap Kendra mengepalkan tangannya kearah mukanya bernada seolah takut
“aku sudah mempersiapkan segalanya untuk menantangnya, setidaknya mati bersamanya aku tak takut. Tapi aku akan buat dia menyesal karena menggangguku, toh tanpa aku menyakiti keluarga kecilnya aku
akan tetap dipenjara jadi sekalian saja aku buat dia ikut merasakan sakit, danjika dia berani membunuhku maka dia yang akan masuk penjara “kekeh Kendra seolah kehilangan kewarasannya
“apa kau menyepelekanku!” teriak ferdy
kendra terkekeh menatap penuh ejekan pada ferdy “tentu tidak, maka dari itu mengirim lebih banyak
orang untuk menghadapimu ketimbang mengurus anak kecil itu” ucap Kendra
aira yang mendengar kata anak kecil seolah tahu anaknya ada dalam bahaya “apa yang kau lakukan pada viko?” Tanya aira memikirkan anaknya
kendra tersenyum tetap fokus pada ferdy tak menoleh mengindah ucapan aira “hemmm, kita lihat saja nanti” ucap Kendra dengan senyum liciknya
“aku tak akan biarkan kau menyakiti nonaku” ucap ferdy lantang
“kita lihat saja nanti” Kendra menyarungkan pistolnya
dan mengganti dengan sebuah pisau kecil dan mengarahkan keleher aira yang putih bersih itu
kendra mengarahkan pisau kecil itu ke leher aira memberikan goresan kecil disana “kira-kira kalau ini menancap dilehernya akan seperti apa?” Tanya Kendra tersenyum melihat aira yang merintih sakit karena perih di lehernya
“stop!” teriak ferdy berniat menuju kearah aira
“kembali melangkah, akan semakin dalam sayatan yang aku berikan “Kendra menggores kulit aira sampai mengeluarkan darah segar yang cukup banyak “kira-kira waktumuuntuk sampai kesini, lebih cepat mana untuk aku menebas lehernya” ancam Kendra dengan seringai liciknya melihat jaak antara dirinya dan ferdy yang cukup jauh sekitar 10 meter
“sial!” umpat ferdy kesal