
***
Askar, levi dan syakia selesai pertemuan dengan klien di salah satu bar besar di Jakarta
levi memapah askar menuju mobilnya yang ada di parkiran “gimana nih, tuan askar mabuk banget” ucap levi melirik askar yang tertidur dengan mulut masih meracau tak jelas
syakia bisa melihat askar yang sudah mabuk berat “ya sudah kakak antar saja pak askar, biar saya naik taksi” balas syakia tak ingin merepotkan levi jika harus bolak-balik mengantar askar, dirinya dan levi yang akan pulang ke rumahnya memiliki rute yang berbeda dengan syakia dan askar
“ih enggak, enggak" levi menggelengkan kepalanya dengan usulan syakia
“kamu tuh wanita masa pulang sendiri, mana abis dari bar lagi, bisa di gantung aku sama papi kamu kalau sampai dia tahu anak satu-satunya di biarin pulang sendiri” ucap levi tak mau di marahi oleh papi syakia
“lah terus gimana?” Tanya syakia bingung sendiri harus bagaimana
"nanti aku akan antar kamu, setelah mengantar tuan askar" balas levi
“biarin saja dia pulang sendiri, biasanya juga dia paling berani pergi sendiri, kan dia selalu ngejar-ngejar aku kemana-mana" racau askar yang sudah mabuk berat itu
Levi hanya mendengus sebal dengan kelakuan bosnya " ya gak gitu juga kali tuan" sahut levi
“biar saya yang antar saja” tawar seorang pria dengan suara baritonnya menginterupsi perdebatan askar dan levi
Syakia dan levi menoleh ke arah sumber suara “ kakak di sini?” Tanya syakia senang melihat keberadaan arka di sana
“iya kakak dari bertemu teman di sini, dia baru pulang dari belanda dan mengajak kakak bertemu di sini” balas arka
“kebetulan kakak disini, kakak yang antar syakia pulang ya, saya mau antar bos ke rumahnya” pinta levi
Arka menoleh ke arah syakia "ya sudah syakia, yuk pulang” ajak arka menarik tangan syakia
“iya kak” balas syariah tersenyum manis pada arka
Samar-samar askar melirik senyum syakia, tapi senyum yang bukan di tujukan untuknya tapi pada pria lain dan itu membuat askar kesal “ngapain kamu senyum pada sembarang orang hah!” teriak askar
Syakia dan arka menoleh ke arah askar “maksud pak askar apa?” Tanya syakia
“sudah jangan di hiraukan orang mabuk ngomongnya emang ngaco” ucap levi segera membawa tubuh askar masuk ke dalam mobil
“ya sudah kak, titip askar ya kak, langsung antar dia pulang" syakia memutuskan masuk ke mobil arka
Askar memicingkan matanya ke a rah mobil arka yang menjauh “dasar wanita ngeselin” umpat askar
levi hanya berdecak ke arah askar “sudah tuan, toh tak sampai 2 minggu lagi dia pergi, tuan gak akan terganggu lagi dengannya” levi kira askar terus mengumpat pada syakia yang terus mengikutinya kemanapun sejak dulu
levi membantu askar masuk
dalam mobil dan mengantarkannya sampai rumah kediaman mahardika
Pagi harinya askar turun untuk sarapan di meja makan bersama keluarga besarnya
“mih, bikinin askar air lemon sama madu sih” pinta askar yang masih merasakan kepalanya pusing karena terlalu banyak minum
“nih” mami aira langsung memberikan apa yang di
minta askar dengan cepat karena kebiasaan askar yang selalu minum air lemon dan madu setelah minum alkohol
“ah dasar kamu ini, kurangin minum kamu kalau ketemu klien askar, lihat deh kakak kamu walaupun dia ketemu klien dan minum tapi dia bisa menyikapi untuk tidak minum lebih dari satu gelas jadi dia bisa pulang dalam keadaan sadar ” ucap mami aira
“kakak kan pinter melobi mih, gak kaya askar" sahut askar yang memang sebenarnya tak terlalu suka terjun di dunia bisnis karena harus pintar bicara
viko melirik ke arah askar “oh ya askar, kakak mau pinjem syakia dua hari ya” pinta viko
askar mengerutkan keningnya “ngapain pinjem syakia kak” balas askar
“kakak kan ada kerjaan di luar kota, tapi kayanya kakak gak bisa pergi jauh karena kakak iparmu gak bisa di tinggal jadi kakak mau minta bantuan syakia” jelas viko
ara menghentikan kegiatan makannya dan menatap tajam viko “kok jadi ara sih mas, kalau mau pergi ya pergi aja, di rumah banyak orang kok” sahut ara tak mau di jadikan alasan untuk viko mangkir dari pekerjaannya
“itu mah suami kamu aja yang gak sanggup jauh-jauh dari kamu, kamu kan sekarang gak bisa di ajak pergi-pergi karena sedang hamil jadi males dia kalau pergi jauh” sahut papi dylan yang tahu isi pikiran viko yang tak ingin jauh dari ara
“papi emang yang paling tahu viko” balas viko mengacungkan kedua jempolnya ke arah papi dylan
askar mengerutkan keningnya “terus apa hubungannya sama syakia? Kakak mau buat syakia gantiin kakak di sana?’ Tanya askar
“ya gak gantiin kakak juga kali, kakak kan ada arka yang bisa gantiin Kakak. Kakak pinjem syakia buat bantu arka, syakia kan cakap orangnya terus kerjanya cepet
jadi cocok nemenin arka” balas viko
“apa?!” teriak askar kaget mendengar syakia yang akan menemani arka selama dua hari pula
Semua orang menatap askar dengan tatapan aneh “kenapa? Bukannya kamu seneng ya kalau syakia jauh dari kamu, lumayan loh
kurang dua hari kamu ketemu syakia yang cerewet itu” ucap viko
Askar terbatuk-batuk “gak masalah kok, bawa aja mau sampai magang dia abis juga gak masalah” balas askar tergagap
“beneran ya, soalnya arka bilang kerja syakia bagus, cocok dia sama kerjaan syakia. Sayang aja syakia harus balik ke amerika
kalau gak kakak rekrut dia jadi sekertaris kakak buat bantu tugas arka" balas viko
“loh katanya ara yang jadi sekertaris mas” rengek ara kesal mendengar viko ingin syakia jadi sekretarisnya
“eh” viko menatap ara istrinya yang sedang dalam mode ngambek “mas itu butuh banyak sekretaris sayang, syakia itu buat bantu arka
saja kalau kamu kan bantu mas” balas viko mengusap kepala ara
“oh” ara paham maksud viko
“ya sudah askar pinjemin” balas askar dengan terpaksa, ada rasa gengsi besar di dadanya walaupun sebenarnya ia tak rela
“ya sudah sekalian izin dari sore nanti ya, soalnya perjalanannya cukup jauh” ucap viko
“jauh? Di mana?” Tanya askar
“di tasikmalaya” balas viko
“what?!” teriak askar lagi saking terkejutnya dengan tempat yang akan di datangi syakia dan arka
“jangan teriak-teriak askar nanti bikin keponakanmu kaget” viko mengusap perut datar ara agar anaknya tak terkejut dengan teriakan om nya yang absurd bin aneh itu