
***
Viko duduk menyandarkan tubuhnya di sebuah sofa besar di sebuah ruangan bernuansa modern dengan pandangan mata tertuju ke arah Langit ruangan tersebut “huuuuuuhhhh” viko menghela nafas panjang memejamkan matanya erat
“tuing tuing tuing” terdengar suara notifikasi dari ponselnya
Viko dengan malas mengambil ponselnya dan membuka notifikasi di ponselnya. Melihat apa yang jadi notifikasi tersebut membuat jantung viko rasanya di remas, ia memegang dadanya “kenapa terus mengusikku” gumam Viko terisak membaca sebuah pesan di ponselnya
“Aku mohon kembalilah, aku sangat merindukanmu Viko.
Setidaknya izinkan aku melihatmu, melihatmu saja sudah cukup bagiku.
Aku sangat mencintaimu, dan hanya dirimu orang yang ada di hatiku
Walaupun aku tahu kau merasa aku berbohong padamu, tapi demi tuhan viko, 15 tahun lalu, 10
tahun lalu, 5 tahun lalu, sekarang dan nanti masih kau orang yang aku cintai Viko dan hanya akan dirimu
Revina Adya Malik, orang yang akan selalu mencintaimu”
Viko mengepalkan tangannya membaca setiap pesan yang di kirim revina mantan tunangannya, orang yang ia cintai selama 3 tahun tapi harus kandas karena penghianatan yang dilakukan revina bersama Joff Henderson, teman satu kampus viko dulu menyebabkan Revina hamil anak Joff dan akhirnya Joff harus menikahi revina untuk bertanggung jawab padahal viko dan revina sudah memutuskan menikah setelah 1 tahun berpacaran. Bahkan viko sudah menyiapkan pesta pernikahan yang diimpikan Revina selama 2 tahun berjauhan
ya, 2 tahun waktu yang dibutuhkan viko untuk mempersiapkan rencana pernikahan impian revina kekasihnya, karena viko ingin memberikan pernikahan hasil dari kerjanya tanpa bantuan kedua orang tuanya. Walaupun ia tahu betul kedua orang tuanya sangat mampu memberikan pesta pernikahan yang di impikan revina tapi lagi-lagi ego viko tak mengizinkan orangtuanya ikut campur urusan pernikahannya
Dulu sat viko masih menjalani pendidikan S1 nya memang viko tak menggubris revina sama sekali karena di hatinya masih terpatri sebuah nama yaitu zaskia. tapi semenjak zaskia memutuskan menikah dengan orang lain, lama kelamaan viko mengikis nama itu dan saat ia sudah bisa menghapus nama itu Revina menyusul Viko untuk menempuh pendidikan di Inggris agar bisa dekat dengan Viko dan mencoba mengejar cinta viko
Perjuangan demi perjuangan revina dedikasikan untuk mendekati viko. Dan akibat kesungguhan usaha revina mendekati viko. Viko pun luluh akibat usaha revina. Kala itu cinta mereka begitu indah, viko sangat menyayangi revina dan begitupun revina yang sangat menyayangi viko, mereka sampai tak memperdulikan kondisi sekitar mereka yang merasa iri karena revina dan viko selalu pamer kemesraan di depan umum maupun sosial media
Sampai hal yang tak pernah viko duga akan terjadi padanya, kala itu Viko datang ke rumah revina karena sangat merindukan revina yang tak memberikan kabar padanya selama 3 bulan sehingga viko memutuskan pulang ke Indonesia di tengah kesibukannya sebagai dosen
viko melangkah ke arah rumah revina dengan dahi mengernyit karena kondisi rumah revina yang cukup ramai dan ada papan bunga bertuliskan happy wedding
berulang kali viko menampik apa yang terlintas di benaknya tapi lagi-lagi akal sehatnya menggagalkan pikiran baiknya. bagaimana mungkin ada ucapan happy wedding padahal revina anak tunggal, apa ayahnya atau ibunya menikah lagi? pikiran buruk terus menari-nari di dalam otaknya
sampai langkah viko terhenti saat mendengar suara “aku bersedia” seru revina dengan suara lirih
“dengan ini saya nyatakan kalian berdua sah sebagai pasangan suami istri” ucap seorang pria berpakaian pendeta
“silahkan cium istri anda” ucap pendeta itu lagi
Revina dan seorang pria yang tak lain adalah Joff Henderson sahabat satu kampus mereka mencium bibir revina dengan cukup lama
“bagaimana bisa kau lakukan ini padaku” gumam viko memegang dadanya yang serasa sesak
Viko mundur perlahan tak memperdulikan ia yang terus bertabrakan dengan orang, karena ia tak melihat orang dibelakang hanya kakinya saja yang mundur perlahan karena tak sanggup menerima kenyataan yang ada di hadapannya
“prank” viko tak sengaja menabrak pelayan yang membawa nampan besi berisi minuman, membuat minuman tersebut jatuh berhamburan menimbulkan suara berisik
Semua mata menatap arah sumber suara
mata revina langsung membelalak lebar kala melihat siap yang membuat suara gaduh “viko” tangan revina bergetar melihat kekasihnya melihat dirinya menikah dengan pria lain, apalagi kondisinya perut revina sudah mulai membuncit walaupun belum terlihat jelas tapi bentuk gaun revina tentu dapat memperlihatkan kekuk perut revina yang sudah membuncit yang itu artinya revina sudah hamil lebih dari tiga bulan bahkan mungkin sudah empat bulan
Joff yang tahu kondisi ini berlari menghampiri viko dengan cepat “aku bisa jelasin ini viko” ucap Joff meraih tangan viko
Viko menampik tangan joff kasar “jelasin apa?” mata viko menatap manik mata joff dan juga revina yang berdiri mematung di sebuah altar sederhana yang disiapkan keluarga revina di rumahnya
“mau bilang kalian menikah tapi lupa mengabari ku?” Tanya viko dengan kekehan
Joff tertunduk lesu “maafkan aku viko, aku memang bersalah padamu” ucap joff
“memang kau bersalah!” teriak viko menatap tajam joff dan revina bergantian “kalian berdua bersalah padaku!” teriak viko menunjuk revina dan joff
Viko menatap revina dengan tatapan sendu “kalau hanya ingin menyakitiku, kenapa dulu kau bilang mencintaiku dan hanya diriku. Kenapa kau mengejar ku sampai 7 tahun. Dan setelah aku menerimamu, mencintaimu dan
sangat mencintaimu kau menghempaskan aku begitu saja seperti debu” keluh viko menepuk dadanya yang serasa sakit
“maaf” lirih revina dengan isak tangis wajahnya menunduk tak mampu menatap viko
revina benar-benar tak siap mendapati viko mengetahui pernikahannya dengan joff
"maaf? maaf karena kau memiliki anak dengannya” tunjuk viko pada perut revina yang sudah mulai membuncit
“aku menjagamu dengan berhati-hati agar pernikahan kita bisa lebih indah, tapi nyatanya aku menunggu luka dengan ribuan mata pedang untukku” kekeh viko berjalan meninggalkan rumah revina langkah gontai dan isak tangis
Kembali ke masa kini
“bohong sekali kau mencintaiku” gumam viko menyeruput minuman beralkohol dari gelasnya
Viko menikmati minuman beralkohol itu untuk sedikit melupakan sakit hatinya, dan itulah salah satu alasan kenapa dirinya tak ingin kembali ke Indonesia, karena saat orangtuanya melihat kondisi viko yang seperti ini hanya akan melukai hati kedua orang tuanya dan viko tak ingin itu terjadi
“tuing tuing tuing” terdengar sebuah notifikasi lagi tapi viko mengabaikannya dan tetap memandang langit dari kaca jendela apartemen mewahnya