
***
“levi semua sudah siap kan?” Tanya askar pada asisten pribadinya
“kalau ruangan tuan sudah beres tuan, sedangkan untuk ruangan tuan viko kak arka yang urus, kata kak arka dia lebih tahu selera tuan viko” balas levi
“ya sudah tak masalah” askar membenarkan beberapa map di atas meja
“kamu bawa tumpukan yang ini ke meja saya dan yang itu ke meja kakak saya. Saya mau pulang ke rumah buat nyambut kepulangan kakak saya dan kakak ipar” ucap askar dengan senyum bahagia
“iya tuan” balas levi menganggukan kepala
“oh ya tuan tadi syakia telpon saya, katanya kenapa gak bisa telpon tuan dari tadi” ucap levi
askar menautkan alisnya pada levi “buat apa coba dia nelpon kamu?” kesal askar
“katanya kangen tuan” balas levi jujur
“iiiihhhhh”askar bergidik ngeri mendengar kata kangen “makin malas saya ngadepin tuh kunti satu” askar memilih pergi agar bisa cepat pulang dari pada mendengar perihal syakia
levi hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan bosnya "cantik gitu kok gak mau tuan, kalau saya setara sama dia, saya juga mau" gumam levi melanjutkan pekerjaannya
Syakia adalah teman askar dari masa askar SMA, wanita itu jatuh hati pada askar sejak mereka duduk di bangku kelas 2 SMA. Tapi askar merasa risih dengan syakia yang selalu mengejarnya dan dengan mudahnya mengatakan cinta dan selalu berisik di telinga Askar. Di tempat kuliah pun tak berubah Syakia selalu mengejarnya tapi karena mereka yang beda jurusan membuat askar setidaknya punya berbagai cara untuk kabur dari syakia.
Hal inilah yang menyebabkan askar lebih suka liburan di luar negeri dia bisa lepas dari gangguan syakia karena syakia tak mungkin bisa ke luar negeri karena dia phobia naik pesawat, jika dipaksakan pun syakia harus naik pesawat, dia harus minum obat tidur dari dokter agar tak harus melihat kondisi pesawat saat landing . Kalau berada di Indonesia walaupun berbeda daerah setidaknya syakia punya banyak akses mencari kabar askar karena hampir semua yang di kenal askar, syakia kenal. Seorang ara yang hanya tinggal 1 bulan di rumah viko saja bisa ia dapatkan nomor ponselnya dan sampai sekarang masih bertukar sapa
***
Askar memarkirkan mobilnya di garasi mobil rumah keluarga Mahardika yang terbilang luas, bagaimana tidak, mobil di sana ada sekitar 30 mobil dan beragam-ragam pemilik, semua anggota keluarga punya mobil
masing-masing bahkan ada yang memiliki lebih dari satu, untuk pembantu ada 2. Untuk ara pun sudah ada yang terparkir di sana
Askar berjalan memasuki rumah dengan langkah santai “mami” askar mengecup pipi mami aira yang sedang sibuk menata meja
“sudah pulang sayang? Sudah makan belum?” Tanya mami aira pada askar
“sudah mi tadi makan di kantor, askar mandi dulu ya nanti turun buat bantu mami” balas askar
“iya, nanti waktu naik sekalian panggilin eila turun ya, dari tadi dia gak turun-turun “ pinta mami aira
“kenapa lagi dia emangnya?” Tanya askar seolah tahu saudarinya pasti ada sesuatu jika tak ingin turun
“itu mantannya ada yang kesini buat cari dia, putus lagi kayanya dia” balas mami aira yang tahu putrinya sering gonta ganti pacar
“gak capek apa ya dia, bikin patah hati orang-orang. Bucin sama orang terus di tolak baru tahu rasa dia” umpat askar
askar nyengir kuda ke arah mami aira “ya sudah deh mi, askar naik buat bebersih dan sekalian panggil eila” askar naik ke lantai atas di mana kamarnya berada
Askar berjalan pelan ke arah kamar saudari kembarnya “eila” panggil askar langsung membuka pintu yang tak di kunci oleh eila
Askar memasukkan kepalanya di balik pintu dengan tetap memegang kenop pintu “di cari mami tuh” ucap askar
Eila menoleh sekilas ke arah askar “lagi males turun” balas eila sibuk memainkan ponselnya
“tu laki sudah pergi, cepet sana bantuin mami, gak lihat mami lagi repot apa” askar masuk ke dalam kamar dan mengambil ponsel eila yang sejak tadi jadi fokus eila padahal ia sedang bicara
“ih kok di ambil sih” kesal eila mengambil kembali ponselnya dari tangan askar dengan gerakan cepat
“kamu tuh jangan kebiasaan bikin patah hati orang eila” ucap askar menasehati saudarinya
Eila tetap konsen dengan ponselnya “yang bikin patah hati orang itu siapa?” Tanya eila
“ya itu kamu eila , kalau gak suka jangan di pacarin lah, jangan suka PHP ke laki-laki ” nasehat askar untuk saudarinya
Eila mendongak “aku tuh gak pernah minta pacaran dengan mereka askar, mereka aja yang maksa aku nerima cinta mereka. Dan karena aku merasa percuma saja menjalin hubungan karena aku yang gak bisa cinta mereka ya sudah aku minta putus dong “balas eila kembali konsen pada ponselnya
“terserah kamu saja eila, percuma aku bilangin juga. Tapi ingat eila karma itu ada. Kamu mutusin banyak orang dan bikin sakit hati mereka, ada saatnya kamu mungkin di tolak seseorang” ucap askar memperingatkan
“kamu doain aku?” Tanya eila mengerutkan keningnya ke arah askar
“enggak eila, aku cuma ingetin kamu aja” askar memilih keluar dari kamar eila menuju kamarnya untuk bebersih
“masa sih gitu” gumam eila melihat pesan yang ia kirimkan masih berwarna abu-abu belum hijau padahal biasanya saat mengirim pesan pada seorang pria langsung centang biru dan biasanya tak pernah sampai lebih dari satu menit
“ting” terdengar suara pesan masuk eila buru-buru membukanya dengan semangat
“maaf saya sedang sibuk, kalau mau bikin janji tentang lukisan saya bisa hubungi asisten saya saja” pesan seorang pria yang di tunggu balasan pesannya oleh eila sedari tadi
saat membaca pesan tersebut eila mengumpat kasar “kalau dengan menghubungi asisten mu bisa langsung beres, sudah aku lakuin dari kemarin. kamu lukis aja kapan mood nya gak ada yang tahu” gumam eila kesal pada pelukis dengan nama panggung Dare itu
Dare seorang pelukis misterius yang jarang muncul di depan publik tapi semua karyanya adalah karya yang bernilai fantastis dan sangat sulit di dapat dan kebetulan eila sedang ada projek mendapatkan pelukis tersebut untuk galeri seninya. tetapi sesuai dengan karyanya yang cukup bernilai fantastis tentu untuk mendapatkannya juga sangat sulit
“ah sudah lah mending bantu mami” eila turun ke bawah untuk membantu maminya mempersiapkan rumah untuk menyambut kedatangan saudara dan iparnya
````
````