Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
pulang ke rumah



setelah diperbolehkan pulang oleh dokter, dylan membawa pulang aira ke rumah keluarga besar mailans dimana sudah banyak yang menanti kepulangan aira dan dylan


setelah sampai rumah keluarga aira, dylan lebih dulu keluar membuka pintu aira dan membopong aira tanpa meminta persetujuan aira


"apaan sih bang? aira kan bisa jalan sendiri malu tahu" ucap aira melihat ke sekeliling


dylan tak mengindahkan ucapan aira


" kan kamu habis terluka jadi biar abang gendong saja biar gak kenapa-napa" balas dylan cuek


" ih abang yang luka leher aira bukan kaki aira" balas aira sambil memukul pelan dada bidang dylan


" sama saja" dylan tak memperdulikan ucapan aira dan terus membawanya masuk dalam rumah


dylan mendudukkan aira di sofa di mana semua keluarga aira menunggu


"mami" teriak viko saat melihat kedatangan aira yang sudah duduk di sofa


"hay sayang" balas aira merentangkan kedua tangannya agar viko bisa memeluknya


" viko kangen" ucap viko memeluk aira erat


"mami juga" balas aira memeluk viko


viko terheran melihat ada perban di leher aira dan bertanya-tanya dalam hatinya


"mami kenapa kok lehernya diperban katanya mami bikin adik sama papi tapi kok malah lehernya diperban? " tanya viko bingung


"apa? " balas aira bingung dengan pertanyaan viko


dylan mencoba menengahi " main sama papi yuk papi kangen anak papi" ajak dylan menggendong viko


"jangan di gendong pi viko sudah besar" rengek viko


"iya anak papi sudah besar tapi kan papi kuat" balas dylan tersenyum


dylan membawa viko bermain di halaman agar keluarga aira bisa bicara dengan bebas


" maaf ya nak kalau kami membohongi viko, kami takut dia trauma kalau sampai dengar ayahnya menculik kamu" ucap ayah subrata


"tak apa yah, malahan aira berterima kasih karena tidak menceritakan kejadian sebenarnya pada viko" balas aira


" apa kamu baik-baik saja nak? " tanya ayah subrata


"seperti yang ayah lihat aira baik" balas aira tersenyum


"tubuhmu banyak luka nak, pasti kamu takut sekali ya" ucap Ibu mardiana dengan mata berkaca-kaca


"awalnya aira sangat takut bu, takut sekali tapi aira teringat dengan kalian semua jadi aira berjuang melawan ketakutan aira sebisa mungkin" balas aira


"maafkan kami ya ra gak menjagamu dengan baik" ucap kak fahri sedih


aira menggenggam tangan kakaknya, jangan salahkan diri kalian tidak ada yang salah disini, hanya keadaan saja yang membuat aira harus mengalami ini. toh kali ini aira baik-baik saja karena Tuhan masih sayang aira" balas aira tersenyum


"dan kalau ada yang perlu disalahkan itu adalah aira, karena aira menganggap cintanya yang utama sampai mengabaikan nasehat kalian dulu dan tetap kekeh bersamanya" tambah aira dengan mata berkaca-kaca


keempat kakak aira memeluk aira bersamaan dengan haru


" adikku sudah dewasa ternyata" ucap kak rino dengan nada bercanda tapi air matanya sudah meluncur bebas sedari tadi


mendengar itu aira jadi kesal dan mendorong kakaknya menjauh "apaan sih kakak ngomong gitu" ucap aira dengan mengerucutkan bibirnya karena kesal


"jangan ngambek adikku, kakakmu hanya bercanda" balas Kak fahri menenangkan


"ih rino gak bercanda kak, coba geh perhatikan cara bicara aira makin terlihat dewasa, kalian kan tahu sendiri bagaimana manjanya dia dengan kita dulu, dan saat dia tak setuju dengan sesuatu pasti dia menangis membuat kita menyerah karena kita yang terlalu sayang padanya" ucap kak rino mengingat masa lalu


kaka dino mengangguk


"iya benar juga dek, kamu memang sedikit berbeda" tambah kak dino


semua orang pun mengangguk, dan kaila melihatnya "begitu kah? " ucap aira menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan tersenyum malu


"iya adikku" balas Kak wanda istri kak fahri


"maaf ya semuanya membuat kalian sering berkumpul disini padahal kalian kan punya kesibukan sendiri" ucap aira merasa merasa bersalah


"tak apa dek, malahan kita kan jadi sering kumpul bareng" balas Kak elia istri kak dino


"ayah ibu" panggil aira


"boleh aira minta tolong? " tanya aira


"tolong apa nak? " tanya ibu mardiana


"viko tidur sama kalian ya nanti malam, ada hal yang perlu aira bicarakan sama mas dylan, semalam aira gak berani karena lihat abang yang kelihatan lelah sekali" ucap aira dengan malu-malu


semua orang tersenyum geli melihat tingkah aira yang malu-malu


"iya nanti viko tidur sama ayah dan ibu" balas ayah subrata tersenyum


"Terima kasih ayah" balas aira mencium pipi ayahnya


"tapi ingat" ucap ayah subrata menggantung ucapannya dan berbalik sekilas menatap anak-anaknya yang lain


kakak aira yang faham langsung menutup telinga anak-anak mereka


"jangan bermain terlalu ekstrim kan kau masih banyak luka, jugaan dylan tangannya terluka bukan? " ucap ayah subrata terkekeh


muka aira langsung merah padam bagai kepiting rebus karena menahan malu, karena aira faham arah ucapan ayahnya


"apaan sih yah, aira cuma mau bicara kok dan gak ngapa-ngapain" balas aira malu-malu


"lebih juga gak papa ra dia kan suami kamu, biar cepat nurutin viko yang pengen punya adik tuh" tambah ibu mardiana terkekeh


"apaan sih" ucap aira memegang kedua pipinya yang kepanasan karena malu


semua orang tertawa melihat sikap aira dengan cukup lepas


dylan dan viko memutuskan masuk rumah mendengar tawa yang cukup lantang itu


"sedang menertawakan apa sih? " tanya dylan saat memasuki rumah


"iya gak ngajak-ngajak viko ketawanya" tambah viko kesal


"gak papa nak hanya bercanda dengan aira saja" balas ibu mardiana belum bisa menghentikan tawanya


dylan beralih menatap aira " mukamu kenapa ra merah gitu? kamu sakit? " tanya dylan menghampiri aira untuk mengecek suhu tubuhnya


"kamu panas, abang ambil termometer untuk cek suhu tubuh kamu ya" ucap dylan khawatir berniat mengambil kotak P3K


"aira gak papa bang" balas aira menahan dylan pergi


"tapi mukamu merah gitu" ucap dylan dengan nada meninggi karena khawatir


ayah subrata tersenyum melihat kekhawatiran dylan pada aira "istrimu gak papa dia hanya malu saja" ucap ayah subrata


"oh ya dylan, kami semua mau pergi makan diluar tapi kami sudah menyiapkan makanan untukmu dan aira.


awalnya kami juga ingin ngajak kalian tapi melihat kalian yang terlalu lelah jadi lebih baik kalian istirahat saja di rumah ya" ucap kak fahri


"tega banget sih gak ngajak aira kak" rengek aira


"sudah istirahat saja di rumah" balas Kak fahri mengajak semua keluarga pergi tanpa memperdulikan rengekan aira


" apa kamu mau makan di luar juga? " tanya dylan


"gak ah, aira capek" balas aira melihat kepergian semua orang


"ya sudah jangan ngambek lagi, abang ambilkan makanan dulu ya pasti kamu sudah lapar" ucap dylan mengambilkan makanan untuk dirinya dan aira dalam satu piring


dylan menyuapi aira sampai habis tak bersisa


"kenyang? " tanya dylan


"iya" balas aira memegang perutnya yang kekenyangan


"terus mau apa lagi? " tanya dylan membereskan sisa piring mereka


"mau mandi, gerah banget 2 hari gak mandi gara-gara jahitan ini" keluh aira memegang perban di lehernya


" ya sudah biar abang yang mandiin kamu" ucap dylan membawa aira masuk kamar mandi untuk membersihkan diri


"aira bisa bang mandi sendiri, di rumah sakit terlalu sulit karena tangan aira yang di infus tapi kan sekarang tidak" ucap aira


dylan mendekat ke telinga aira untuk berbisik


"kamu gak ingat ya kata dokter? jangan terkena air sampai jahitan nyaman di lepas, dan masih ada 1 minggu lagi untuk melepasnya" ucap dylan di telinga aira