
dylan menemani viko sampai tertidur sedangkan aira memilih untuk berendam di bath up dengan air hangat
setelah viko tertidur dylan naik ke lantai atas menuju kamarnya dengan aira
melihat aira tak berada di kamar dylan pun menebak aira di kamar mandi dan dylan bergegas menyusulnya
"ceklek" dylan membuka pintu menghampiri aira membuat aira menoleh ke arah dylan karena suara langkah kaki dylan "viko udah tidur bang? " tanya aira saat melihat kedatangan dylan
dylan ikut masuk dalam bath up " sudah tadi dia langsung tidur mungkin kecapean" balas dylan
dylan memeluk aira dari belakang" ra" panggil dylan
" I Love you" ucap dylan
" love you too" balas aira
setelah selesai membersihkan diri mereka memakai pakaian tidur senada
aira sedang berada di depan cermin berniat mengeringkan rambutnya lalu dylan menghampirinya " sini biar abang saja yang ngeringin" dylan mengambil pengering rambut aira untuk mengeringkan rambutnya
"sudah kering" ucap dylan menyimpan alat pengering ke dalam laci
"makasih ya bang" balas aira tersenyum pada dylan
"begitu doang? " tanya dylan
aira mengerutkan keningnya " emangnya harus gimana? " tanya aira bingung
" kan abang sudah bantuin aira jadi ada bayarannya dong" ucap dylan menunjuk pipinya
aira tentu mengerti makasud suaminya, aira berniat mengecup pipi dylan tapi dengan buru-buru dylan berbalik sehingga, bukan pipi yang bertemu tapi yang lain
"plak" aira menepuk bahu dylan karena terkejut dengan tingkah dylan yang membuat benda kenyal itu saling bertemu
"sakit tau ra" ucap dylan tersenyum sambil mengelus bahunya
" ya abang ngerjain aira" balas aira mengerucutkan bibirnya
dylan memeluk aira erat "maaf ya ra, abang cuma pengen bercanda denganmu" ucap dylan dengan wajah memelas
aira mengalungkan tangannya ke leher dylan " kalau abang pengen lebih tinggal bilang saja, aira kan istri abang jadi apapun yang abang mau dari aira, aira akan kasih" ucap aira dengan nada manja nya
dylan langsung membopong aira ke ranjang " kalau gitu ayo kita buatkan adik untuk viko" ajak dylan menutupi tubuh mereka dengan selimut
mereka pun melanjutkan malam panjang mereka dengan penuh peluh keringat dan suara merdu yang menyeruak ke penjuru ruangan bernuansa putih itu
***
keesokan harinya aira bangun terlebih dulu karena memang ia yang biasa bangun pagi. aira langsung bergegas menuju dapur untuk memasak.
setelah selesai memasak, ia bergegas mandi karena waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. setelah ia selesai dan berniat berdandan aira tak mendapati dylan di ranjang
"abang kemana? " gumam aira sambil memoles kan bedak tipis dan lipstick
aira sudah selesai berdandan dan menuju pintu "ceklek" dylan membuka pintu menggunakan handuk yang dililitkan di pinggang
"abang dari mana? " tanya aira
"dari kamar viko, tadi abang bantuin viko mandi biar cepat sekalian abang juga mandi" balas dylan lalu menuju lemari pakaian untuk mengambil pakaian kerjanya
aira menghampiri dylan untuk membantunya " abang tumben pakai seragam biasanya pakai baju kaos gitu? " tanya aira melirik pakaian yang di pilih dylan untuk bekerja hari ini
"hari ini ada upacara penyambutan kepala divisi abang yang baru jadi, harus tampil rapih" balas dylan
" oh gitu" aira membantu dylan berpakaian " sudah rapih bang" ucap aira lalu menggandeng tangan dylan menuju meja makan
aira dan dylan berjalan menuju meja makan yang sudah ada viko duduk di meja makan "sudah siap anak mami? " tanya aira pada viko yang sudah mulai makan
"sudah dong, tadi papi bantuin viko" balas viko
" oh ya hari ini viko berangkat sama siapa? mami atau papi? " tanya viko sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya
" sama papi saja ya soalnya mami mau ke supermarket dulu untuk belanja bulanan" sahut aira
"kamu sama mang paijo ya ra biar bantu kamu bawa barang, kan kamu gak boleh bawa berat-berat" ucap dylan mengingatkan
setelah selesai sarapan mereka menuju mobil masing-masing untuk ke tempat tujuan masing-masing untuk beraktivitas
sesampainya ke supermarket aira menuju tempat barang-barang yang ia butuhkan, ia mulai mengambil barang yang dibutuhkan dengan ditemani mang paijo salah satu pekerja di rumahnya
"sepertinya sudah semua deh mang, yuk bawa ke kasir" ucap aira melihat isi belanjaannya yang sebanyak 2 troli
aira menuju kasir untuk membayar belanjaannya
" berapa mba? " tanya aira saat melihat kasih sudah selesai menghitung
" 2.800.000 bu" balas kasir
aira membayarkan nya lalu bergegas pergi
tak jauh dari situ ada seorang pria begitu tertegun mendengar suara yang sudah lama tak ia dengar dan sangat ia rindukan
"seperti suara aira" gumam razi
razi berlarian ke sana kemari mencari aira tapi tak ketemu. sebenarnya mereka sempat berpapasan tapi aira tak memperhatikan adanya razi sedangkan razi tak mengenali wajah baru aira
setelah hampir 1 tahun razi menjalani pengobatan akhirnya ia mulai diperbolehkan keluar sendiri. ia tak dipenjara karena kondisi mental razi yang membuatnya kebal hukum dan juga keluarga aira yang tak mau berurusan lagi dengan keluarga razi
razi sangat terpukul saat ibunya mengatakan aira meninggal karena dirinya, ia tak pernah berniat menyakiti aira tapi penyakitnya seolah mengendalikan tubuhnya untuk berbuat itu
"apa kau masih hidup ra? mereka pasti membohongiku" gumam razi bergegas menuju mobilnya
"apa aku tanya ibu ya? ah tidak pasti nanti ibu bilang aku berhalusinasi" gumam razi tampak berfikir
" ah ke sekolah viko saja" razi teringat dengan sekolah viko, pasti viko tahu tentang maminya. razi bergegas melajukan mobilnya menuju sekolah viko dan aira
razi menunggu di dekat gerbang karena waktu yang masih pagi
4 jam berlalu, waktu pulang sekolah pun tiba, viko bergegas keluar kelas menuju gerbang menunggu dylan datang menjemput
" viko" panggil aira
"iya mi, ada apa? " tanya viko
" mami mau ikut pulang sama kamu" balas aira
" lah mobil mami mana? terus mami gak ngajar? " tanya viko
" mobil di bawa mang paijo tadi terus kelas mami, mami pulangkan cepat karena bu aireen mau izin, pak arfan bilang kompakan saja, karena kasian kalau mami cuma sendirian di sekolah" balas aira
" ya sudah yuk mi" ajak viko menggandeng tangan aira
razi mulai melihat anak yang mulai keluar gerbang, lalu memutuskan keluar mobil untuk menunggu viko. ia mulai melihat satu persatu anak agar tak terlewat
razi melihat viko keluar gerbang bersama seorang wanita . razi pun berniat menghampirinya
razi berniat memanggilnya tapi ia memperhatikan wanita yang cukup akrab dengan viko anaknya mengurungkan niatnya lalu razi mengikuti langkah aira dan viko dari belakang
"mi boleh gak nanti mampir beli es krim? " tanya viko
" nanti tanya papi ya ? " balas viko
" kalau mami gak ngelarang sama papi pasti boleh" ucap viko senang
aira mengacak rambut viko " dasar kamu ya, senang banget di manjain papi" ucap aira
"mami, papi" gumam razi yang mendengar percakapan aira dan viko dengan jelas karena razi tepat berada di belakang mereka dan hanya berjarak 2 langkah saja
aira dan viko yang mendengarnya berbalik untuk melihat siapa yang berbicara
"ini kamu ra? " tanya razi memastikan wanita yanga da di hadapannya adalah aira. aira yang di kenalnya karena wajhanya yang jauh berbeda dari yang ia ingat
aira tak sanggup menjawab, aira diam mematung melihat wajah yang selalu ia takuti keberadaannya
"kamu masih hidup ra? " tanya razi dengan mata berkaca-kaca mulai mendekati aira dan viko
aira masih tak mampu menjawab hanya mundur perlahan dengan tubuh gemetar ketakutan melihat sosok mantan suaminya itu