
***
Eila dan daren berjalan dengan berpegangan tangan masuk ke dalam rumah keluarga Mahardika
“gimana nih sayang, kok horror gini ya” bisik eila saat memasuki rumah keluarganya, rumah yang sudah ia tinggali sejak di lahirkan
Daren menggenggam kuat tangan eila “jangan khawatir ada suamimu di sini” balas daren menguatkan eila walaupun sebenarnya hatinya juga ketar ketir
Eila dan daren masuk ke dalam ruang keluarga langsung mendapat tatapan horor dari anggota keluarga
“enak ya, yang pengantin baru. Sore…. Baru ke sini” ledek viko
dengan tatapan tajam dan memanjangkan kata sore padahal mereka berdua di minta datang pagi hari
“viko” ujar mami aira mengingatkan
Viko mengangkat tangannya ke arah mami aira “mami dan papi di
larang bicara. ingat kan ucapan aku semalam” ucap viko dengan tegas
“berlutut kalian” viko menunjuk lantai yang ada di hadapannya
“aku sih gak papa berlutut, tapi eila kasihan viko, dia kan sedang
hamil” ucap daren memelas pada kakak iparnya
“ya sudah kasih bantal” viko melirik askar mengambilkan bantal
untuk alas eila berlutut
Askar mengambil bantal dan memberikannya pada eila “ nih eila” ucap askar menyodorkan bantal sofa pada eila
“terima kasih askar” balas eila
eila duduk dengan beralaskan bantal
Viko menatap semua anggota keluarganya “gak ada yang bela eila ya” ucap viko memperingati keluarganya
viko melirik eila tajam “sejak kapan kamu tahu lagi
hamil?” Tanya viko
“sejak pesta perayaan kelahiran gilang kak dan eila mastiin ke dokternya malam ” balas eila
“kenapa kamu gak cerita sama kita? Kan kita bisa percepat
pernikahan kamu, gak nunggu perut kamu sudah agak kelihatan gitu” tunjuk viko pada perut eila yang memang sudah mulai terlihat membuncit
“maaf kak” ucap eila menunduk
“aku kira perutmu gendut karena terlalu banyak makan gara-gara
terlalu bahagia mau nikah sama daren ” sahut syakia dengan polosnya
Eila terkekeh “aku hamilnya gak mual dan doyan makan” kekeh eila
“diam! Siapa yang minta kamu ketawa” ucap viko
Eila langsung mengusir senyumnya dan kembali berwajah serius “kamu pacaranya kebanyakan ngelakuin yang enak-enak ya?” Tanya viko lagi
Eila menatap kakaknya dengan mengangkat jarinya membuat huruf v
“sumpah kak, aku Cuma kaya gitu sekali waktu daren mau ke berlin abis itu kemaren sore setelah kita sudah sah suami istri” eila menunjuk daren “dia aja yang tokcer banget sekali tembak langsung jadi” ucap eila
menyalahkan daren
Daren menatap tak percaya ke arah eila “bisa ya kamu ngomong gitu”
ucap daren setengah berbisik
Daren tersenyum ke arah viko “maaf viko kalau aku khilaf, abisnya susah tahan godaan” balas daren terkekeh
Viko menatap tajam eila dengan berkacak pinggang “kamu kira kakak gak tahu pasti kamu
yang goda daren. Pria penakut kaya dia mana berani nyentuh kamu kalau gak kamu persilahkan” ucap viko
“hehehehe” eila menggaruk tengkuknya yang tak gatal” tahu aja kakak” balas eila
“uuuuuh dasar kamu ya” viko melempar bantal sofa ke arah eila saking kesalnya dengan kelakuan adik perempuannya itu
dengan sigap daren menghalangi bantal yang akan mengenai tubuh eila dengan tubuhnya
Viko jadi tak enak dengan daren “maaf daren aku gak niat lempar
kamu, tadi niatnya kenain dia” ucap viko menunjuk pada adiknya
“gak papa, saya kan suaminya jadi wajib melindunginya” balas daren
Viko menghela nafas panjang “ya sudah lah, kalian duduk saja” ucap
viko mempersilahkan eila dan daren duduk
mau marah gimana pun juga buat apa, semua sudah kejadian dan sekarang mereka juga sudah menikah secara resmi
“yeeeeyyy” ara, syakia dan mami aira langsung mengahmbur ke arah
eila dan membantu eila berdiri
“sini eila” ajak ara untuk duduk di sofa panjang dengan di apit
ketiga wanita yang berceloteh terus seputar kehamilan eila
Daren yang duduk bersama viko, askar, papi dylan dan oma Diana
hanya melirik eila yang sedang bersemangat untuk bercerita tentang kehamilannya karena dari kemarin eila begitu berusaha keras menyembunyikannya
“sekali lagi maaf ya pi kalau daren hamilin eila sebelum menikah”
ucap daren menunduk
“sudah lah gak usah di bahas, toh sudah kejadian dan kalian juga
sudah menikah jadi sebaiknya lupakan saja” balas papi dylan dengan berbesar hati
“oh ya daren kata eila rumah kamu tak ada pembantu, jangan lupa
kamu pekerjakan pembantu untuk eila ya, aku gak rela ya adikku kerja ngurus rumahmu sendiri” ucap viko
“katanya eila yang mau pilih sendiri jadi aku serahin dia saja
untuk milih orang yang kerja di rumah” balas daren
“oh ya dar, aku boleh kepo gak?” Tanya askar
Daren mengerutkan keningnya “apa emangnya?” Tanya balik daren
“kemarin kamu bisa bikin saham perusahaan Brandon jatuh itu gimana caranya? Kayanya waktunya mepet banget deh dan perusahaan Brandon bukan
perusahaan kecil loh” sahut askar
“ah itu" daren membetulkan posisi duduknya dan menatap ke tiga pria di hadapannya
"kebetulan om aku punya saham cukup besar di perusahaan
Brandon, dan saat aku ke berlin urus perusahaan om saat pernikahannya aku punya
kenalan beberapa perusahaan yang memiliki kerjasama dengan perusahaan ayah Brandon jadi aku dengan mudah membeli saham perusahaannya dan membuat ayahnya serta Brandon keluar dari hak manajemen, dan itu membuat aset-asetnya terkunci karena kebanyakan asetnya di beli atas
nama perusahaan” balas daren
“wah hebat juga kamu” balas askar
“bukan apa-apa kok” balas daren bangga karena kecakapannya membuat pria yang mengusiknya bangkrut
"oh ya, kamu masih konsul sama dokter ken? " tanya papi dylan dengan nada pelan agar tak menyinggung perasaan daren
"masih pih, tapi gak rutin minum obat seperti dulu, semenjak sudah mau berhubungan sama eila gangguan kecemasan daren sudah jauh lebih berkurang" balas daren
"kalau ada masalah ceritakan saja pada eila ataupun kami agar gangguanmu itu tak muncul lagi" nasehat papi dylan
"iya pih. kadang daren sama askar bisa aku ajak berbagi cerita" balas daren
"bukan cerita tapi curcol. galau dia pih mantan pacar eila banyak banget kalau di suruh barus sini sampai jogja kali" kekeh askar
"ya kan pasti ada rasa takut lah, secara mantan-mantan eila kebanyakan tampan-tampan semua" balas daren
viko menepuk pundak daren " sifat di keluarga kami tuh hampir sama sekalinya kita sama satu orang ya sama satu itu saja selagi gak ada penghianatan pasti eila hanya akan menatapmu seorang saja" ucap viko
"iya viko" balas daren