
***
Eila terbang ke Kalimantan menggunakan pesawat
komersil. Walaupun maminya punya jet pribadi, ia paling malas menggunakan fasilitas mewah orang tuanya, karena menurut eila milik orang tua bukanlah milik pribadi makanya semua milik eila adalah hasil kerjanya sebagai
pelukis
“franda selamat ya” ucap eila memeluk sahabatnya
“terima kasih sudah menyempatkan datang ke
pernikahanku ya eila” franda balas memeluk eila
“it’s oke, kita kan teman” balas eila mengurai pelukannya
“oh ya, teman-teman kita yang lain akan datang tiga hari lagi, gak papa kan kalau kamu sendiri?” Tanya franda
“gak papa, aku kan memang rencana datang lebih dulu karena ingin lebih banyak menghabiskan waktu untuk jalan-jalan” balas eila
“oh ya" franda mengajak eila duduk di sofa "kamu tahu kan calon suamiku kuliah di berlin?” Tanya franda
eila mengernyitkan keningnya "iya tahu, kenapa memangnya?” Tanya eila
“ ingatan kamu waktu di berlin kan ada beberapa yang hilang, ingat kan aku pernah cerita ke kamu kalau aku pernah ikut kamu ke berlin dan ketemu teman kamu itu?” ucap franda
“iya aku ingat kamu pernah cerita itu, tapi aku tetap gak bisa ingat tentang dia” balas eila
“nah, ternyata calon suamiku kenal baik sama teman kamu itu. Aku sempat kaget loh saat calon suamiku kasih foto salah satu pengiring pengantin pria, dan ternyata itu teman kamu eila” ucap franda
“masa?” Tanya eila
“iya, aku sempet agak lupa, tapi ada dari dirinya yang cukup teringat olehku, tangannya sebelah kiri yang ada inisial nama kamu dan dia yang dulu pernah dia buat di berlin, kamu pernah nunjukin fotonya ke aku dulu jadi aku
ingat itu” balas franda
“jadi dia jadi pengiring pengantin pria?” Tanya eila
“iya, tapi jangan khawatir eila aku minta calon suamiku gak kasih tahu dia tentang kamu, jadi dia pasti datang” ucap franda
“oke, aku jadi ingin lihat siapa temanku itu, kali aja aku ingat apa yang aku lupakan di berlin” ucap eila
“ya sudah, aku tinggal dulu ya, kamu nyamanin aja tinggal disini, kalau mau makan bilang saja, aku sudah pesan ke pegawai hotel untuk melayani kamu dengan baik kok” ucap franda
“iya fran, aku mau jalan-jalan dulu” ucap eila
Eila memilih berjalan-jalan di sekitaran hotel “emangnya apa yang aku lupain ya” gumam eila memikirkan ucapan sahabatnya barusan
“apa aku harus ingat atau tidak” eila seakan ragu bertemu dengan orang yang dibilang franda punya inisial namanya dan orang itu
Eila mengambil ponselnya dan melihat foto lukisan miliknya. Eila memperbesar foto di ujung kanan yang terdapat inisial namanya
dan nama tempat ia melukis “apa aku menghapusnya”eila mengusap bagian sebelah inisial namanya yang terdapat goresan lebih tebal
“ah, bingung” eila kembali melangkah menuju sebuah taman dan duduk di sana
***
Eila memakai gaun bridesmaids sama dengan ke tiga temannya, berwarna pink salem dan memakai mahkota bunga di atas kepala.
rambut eila tergerai dengan di kepang ke samping, terlihat begitu cantiknya
“wah eila, kenapa kamu jadi cantik banget, ngalahin aku yang mempelai wanita” gumam franda mengerucutkan bibirnya
“maaf bukan maksudku menyaingi kamu, tapi ini sudah takdir” kekeh
eila yang di ikuti ke dua teman lain
“oh ya fran, kata kamu teman eila yang di berlin jadi bridesmaids suami kamu?” Tanya rima teman satu asrama franda dan eila
“iya, aku juga pengen lihat dia sekarang gimana, dulu dia ganteng banget pasti sekarang jauh lebih tampan ” lisa melirik eila “makanya eila jatuh cinta dengan
pria itu” tambah lisa
“masa sih? Aku jatuh cinta sama dia” eila jadi makin penasaran dengan wajah pria yang temannya maksud
“iya eila, sekarang aja kamu ganti pacar terus tapi gak ada yang kamu suka, tapi kami tahu betul dulu kamu suka banget sama dia sampai bela-belain bolak balik London berlin loh” timpal franda
“ya sudah, kamu perhatikan saja, tadi aku sudah bilang sama calon suamiku untuk suruh dia di barisan paling belakang sama denganmu” tambah franda
“oke” balas eila
Acar pernikahan pun di mulai, para Bridesmaids ikut berada di belakang mempelai, ada rasa takut di hati eila mengetahui siapa pria yang di maksud teman-temannya
Eila benar-benar fokus mengikuti acar tanpa menoleh, hatinya seakan tak sanggup untuk mengetahui orang yang di ceritakan para sahabatnya, eila begitu khidmat mengikuti prosesi pernikahan. Sampai tiba saat ia menoleh dan bertatapan mata dengan Bridesmaids pria
Mata eila membelalak lebar begitupun pria di hadapannya “apa maksudnya ini” batin eila tak percaya pria yang ada di depannya adalah orang yama dibicarakan oleh teman-teman nya
Eila mengalihkan tanda Tanya di kepalanya dan kembali fokus dengan pesta pernikahan sahabatnya
Tiba pada saat sesi foto, eila dan daren berdiri berdampingan sebagi bridesmaids pria dan wanita sesuai urutan mereka
“kau kenal dengan pengantin wanita?” Tanya daren di sela sesi foto
“kau lupa, aku, franda, lisa juga rima satu asrama” ucap eila
“deg” jantung daren makin berpacu dengan cepatnya mendengar ucapan eila
“setelah sesi foto, ayo kita bicara” pinta daren
Eila menoleh ke arah daren “tidak perlu”
Sesi foto selesai, eila langsung berpamitan pada para sahabatnya untuk ke kamar dan beristirahat
“apa eila sudah ingat?” Tanya rima melempar pandangan pada sahabat lainnya
“apa aku keterlaluan merencanakan ini?" Tanya
franda pada sahabatnya
“entahlah” balas rima dan lisa mengedikkan bahunya
Melihat kepergian eila, daren langsung mengejar eila “eila” tunggu” nafas daren tersengal-sengal karena mengejar eila yang berjalan begitu cepat
“ada apa?” Tanya eila
“aku bilang perlu bicara padamu” ucap daren
“aku bilang tidak perlu” balas eila
Eila berjalan kembali menuju kamarnya, dan membuka kunci kamarnya dengan gerakan cepat
eila masuk ke dalam kamarnya tanpa memastikan pintunya
tertutup
Daren melihat itu dan langsung masuk ke kamar eila “ngapain kamu masuk?” Tanya eila menajamkan matanya saat melihat daren masuk kamarnya
“aku bilang perlu bicara denganmu” ucap daren
Eila duduk di tepi ranjang “apa yang mau kamu bicarakan?” Tanya eila
“bagaimana kamu tahu. Kalau aku tahu kamu dan temanmu yang lain satu asrama dengan franda?” Tanya daren
“bukannya suami franda cerita ke kamu kalau yang jadi Bridesmaids franda adalah teman satu asrama?” balas eila
Daren menghela nafas “ah, ternyata kau tak tahu” daren begitu bersyukur
“apa kau takut aku tahu, kalau kita berteman, dan kita pernah bertemu beberapa kali di berlin?” Tanya eila datar
Mata daren membelalak lebar “kau sudah ingat?” Tanya daren yang makin gugup, keringatnya mulai bercucuran
Eila menatap heran daren “apa yang kau sembunyikan dariku?” eila melangkah maju menghampiri daren membuat daren makin mundur perlahan “sebenarnya apa yang terjadi di anatara kita dulu?” eila terus maju mendekati daren “kenapa kau seolah tak mengenaliku saat kita bertemu padahal kata temanku kita begitu akrab, dan sepertinya kau mengingat semua kejadian dulu” ucap eila
“itu....” daren begitu gugup, lidahnya kelu untuk berucap
“apa yang coba kau sembunyikan dariku, coba
jelaskan?” eila menekan daren sampai dinding
“itu…" daren makin gugup
“apa ini ada hubungannya dengan lukisan itu?” Tanya eila
Eila mencoba mengingat sesuatu tapi ia masih tak mengingatnya “ sepertinya memang ada hubungan dengan lukisan itu” gumam eila
Eila menjadi teringat dengan franda yang pernah bercerita tentang inisial namanya dan teman prianya yang ada di tangan sebelah kiri daren
Eila memicingkan tangannya ke arah tangan daren “kemarikan” eila menarik tangan daren paksa, membuka kancing kemeja panjang daren “bukan” eila beralih ke tangan satunya saat tak menemukan apapun
Daren teringat dengan inisial nama dirinya dan eila yang dibuat di berlin dan itu masih ada di sana “tidak eila” daren mencoba menahan tangan eila yang terus memaksa memeriksa tangan daren
"diam” bentak eila membuat daren tak mampu melawan eila
Eila membuka paksa cengkeraman tangan daren, dan membuka kancing lengan baju daren
Eila melihat jelas inisial “Dar. Ei" tertulis di sana
Setelah membaca itu tiba-tiba kepala eila merasa sakit “aghhhh” eila memegang kuat kepalanya
Melihat eila kesakitan daren menjadi khawatir dengan kondisi eila “kau kenapa eila?” Tanya daren
Eila terus memegang kepalanya, kilatan-kilatan ingatan dulu kembali terlintas di kepala eila, membuat eila menangis histeris
“aaaaaakhhhhh” teriak eila memegang kepalanya
“kau kenapa eila?" Tanya daren ikut memegang tangan eila yang memegang kepala eila
Eila mendorong kasar daren “kenapa kau di sini!” teriak eila
“ei” lirih daren
"jangan panggil aku dengan sebutan itu!”teriak eila
“eila kau gak kenapa-napa kan?” tanya daren
Eila mendorong kasar daren “sudah kubilang aku membencimu, aku gak sudih kamu ada di dalam ingatanku, kenapa kau muncul hah!” kesal eila dengan isak tangis
“eila maaf" daren mencoba meraih tangan eila tapi eila langsung menghempasnya
“jangan pernah muncul di kehidupanku, pergi kau! Pergi!” teriak eila
“tapi ei” sanggah daren tak ingin meninggalkan eila
“pergi!" teriak eila
Daren terpaksa pergi meninggalkan eila dengan berat hati
Sepeninggal kepergian daren eila menangis dengan histeris "kenapa! Kenapa aku mengingatnya” eila menjambak rambutnya kasar tak memperdulikan kulit kepalanya yang perih dan memerah
"kenapa?” eila terisak merebahkan tubuhnya dan menyembunyikan kepalanya di antara kedua
lututnya, menangis histeris
Daren yang masih berada di depan pintu, mendengar tangisan eila yang terdengar sayup-sayup merasa begitu sesak, ia mencengkeram dadanya “maafkan aku, aku yang begitu pengecut “ gumam daren memegang pintu kamar eila dan ikut terisak