
***
Ara sudah berganti pakaian dengan gaun mini
di atas lutut berwarna biru laut, rambut panjang tergerai dengan indahnya, menambah nilai kecantikan di diri ara apa lagi di mata viko
ara sedang duduk di tepi ranjang, menjulurkan kakinya, tangannya memegang sebuah buku berwarna merah. rambutnya yang tergerai tertiup angin dari arah jendela yang terbuka
viko menatap ara yang begitu cantik di matanya saat wajah ara terkena pantulan cahaya dan rambut ara tertiup angin sepoi-sepoi
“kamu sudah mandangin itu sejak 30 menit lalu ara” ucap viko membawa nampan berisi makanan ke atas meja tak jauh dari ranjang
“gak nyangka saja, ara bisa dapat buku nikah secepat ini” ara mendongak, tersenyum menatap viko yang sekarang sudah jadi suaminya “aku kira
semua itu hanya ada di novel-novel ataupun di drama saja” ucap ara masih tak percaya sekarang statusnya sebagai seorang istri
“itu kau lihat sendiri, saya bisa membuat hal
yang ada dalam novel masuk ke dunia nyata” viko meletakan makanan di atas meja untuk ara makan
Ara turun dari ranjang menghampiri viko dan
bergelayut manja di lengan viko “jadi beneran ini, kalau kita sudah jadi suami istri?” Tanya ara lagi
“itu kan buku nikah kita kamu pegang” ucap viko
mengusap kepala ara gemas “ya sudah makan dulu, kau belum makan kan?” viko menyodorkan makanan untuk ara
ara menyiapkan makanan ke mulutnya “anda gak makan?” Tanya ara yang melihat hanya dirinya saja yang makan tapi viko hanya memandanginya
“tidak, saya masih kenyang” balas viko
“bisa gak sih panggilan kita dirubah dulu, rasanya aneh kita masih manggil dengan anda, saya, kaya gini” ucap ara merasa panggilan mereka aneh seperti, orang asing saja
“kau mau panggilan apa?” Tanya viko
ara tersenyum "seperti kemarin waktu kita pacaran bohongan itu sepertinya nyaman, mas dan sayang” usul ara
“oke, sayang” balas viko tersenyum
“iiiiiiihhh” ara bergidik, merasa geli dengan sebutan itu dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya
“kenapa?” Tanya viko dengan kekehan melihat ara yang malu-malu
“rasanya lucu, walaupun kemarin kita memanggil
seperti itu tapi kan dulu bohongan sekarang beneran”kekeh ara
“oh ya, mas sudah siapkan rumah untuk ayahmu di Jakarta setelah acara wisuda kamu selesai kita kembali ke Indonesia “ ucap viko
“loh, mas gak jadi dosen lagi?” Tanya ara mencoba memastikan viko yang masih menjadi dosen atau tidak jika kembali ke Indonesia
Viko mencubit pipi ara gemas “itu makanya
gara-gara kamu mas harus bikin perjanjian sama papi. Dan janji mas sama papi
untuk bantu nemuin kamu adalah mengambil alih perusahaan” balas viko
Ara menunduk “maaf ya mas, gara-gara ara mas
terpaksa berhenti dari pekerjaan yang mas suka” ucap ara yang tahu cerita cita-cita menjadi dosen semenjak dulu dari keluarga viko
Viko memeluk ara “jangan merasa bersalah, itu
adalah pilihan mas bukan kamu yang paksa mas, dan papi dah janji ngebolehin mas masih jadi dosen di kampus tante sita, walaupun hanya mengambil sedikit waktu mas saja karena mas kan harus fokus ke perusahaan sekarang” balas viko
“ara boleh ikut kerja gak mas?” Tanya ara semangat
Viko melonggarkan pelukannya “kerja apa?” Tanya viko
“jadi sekertaris mas, lumayan buat belajar” balas
ara
“asyik” ara tertawa girang
“sudah makan dulu” viko mengajak ara untuk kembali melanjutkan makan
***
Kabar pernikahan ara dan viko sudah sampai di telinga keluarga besar viko di Indonesia dan itu membuat mereka semua senang karena mereka sudah mengenal ara dengan baik dan cukup cocok dengan karakter ara
“eila kamu sudah boking temen-temen kamu untuk
pesen gaun pengantin belum?” Tanya mami aira semangat
“sudah mih” balas eila yang masih serius menonton acara telivisi di ruang keluarga
Mami aira menoleh ke arah askar “sudah juga mih” askar sudah tahu apa yang akan di tanyakan maminya perihal urusan gedung dan
segala pernak-pernik untuk menggelar pesta pernikahan
“mami seneng deh pih” ucap mami aira begitu
bahagia viko memilih menikah dengan ara
“jangan buru-buru mih buat gelar acara pernikahannya, sesuaiin sama apa yang ara pengen dulu, jangan karena kamu yang heboh ara
terima-terima aja padahal hatinya ingin yang lain” ucap papi dylan mengingatkan
Mami aira memukul lengan papi dylan gemas “mami lagi seneng kok ya di bikin kesal” kesal mami aira pada suaminya yang mengganggu kegembiraannya
Papi dylan mulai gelagapan “ih jangan ngambek
cantik” papi dylan mencium gemas istrinya itu
“ih, kalau mau mesra-mesraan di kamar saja sana
jangan mengotori mata perawan kita” kesal askar yang selalu mendapati orang tuanya yang selalu melempar kemesraan tak perduli tempat
“makanya cari pacar sana” papi dylan menarik mami aira untuk masuk ke dalam kamar mereka
“kebiasaan” umpat askar melirik punggung kedua orang tuanya yang makin menjauh
Eila menatap malas askar “bener tuh kata papi,
cari pacar sana” ucap eila
“malas, emang aku kaya kamu yang kebanyakan ganti pacar sudah kaya ganti baju” balas askar kembali menyantap camilannya sembari menonton acara yang sama dengan eila
“aku bukan pengen gonta-ganti askar tapi belum
nemu yang cocok ya sudah aku cari sampai dapat saja” balas eila sekenanya
“dasar kamu nya saja yang player” umpat askar
“haahahahaha, ia ya” kekeh eila merasa dirinya yang masuk kategori player karena terlalu sering membuat patah hati orang lain
"ih player kok bangga" ledek askar
"terus kamu gitu yang bangga diri karena hampir 10 tahun dikejar wanita" tanya eila dengan nada mencibir
"siapa juga yang bangga di kejer tuh cewek, dia aja yang ngeyel kejer-kejer aku, padahal aku tertarik aja enggak sama dia " balas askar kesal
eila menoleh ke arah askar " lagian kenapa emang kamu gak tertarik sama dia?" eila menghitung dengan jari tangannya " cantik iya, baik iya, pinter iya, kaya juga iya" eila menatap lekat saudara kembarnya " yang paling penting dia paling sabar denger ocehan kamu yang bikin sakit hati dan sakit kepala, dan dia juga cinta banget sama kamu askar, dia bahkan menyesuaikan dirinya untuk bisa ada di dekat kamu" jelas eila
"kalau gak suka, ya gak suka aja jangan di paksa" kesal askar
"kalau sampai kamu kedahuluan orang gara-gara sombong, aku sorakin dan akan langsung nyanyi 30 lagu di jalan" ucap eila
"mimpi saja sana untuk gelar konser dadakan" balas askar
"aku siap-siap aja lah, takut benar" eila bergegas meninggalkan aakar