
***
terdengar suara hembusan angin kencang, suara gemericik aira dengan nuansa langit berwarna jingga
Eila mengamati pemandangan itu dan meletakan nuansa tersebut pada sebuah kanvas berukuran 60x80 cm
Eila begitu fokus dengan kegiatannya sampai tak menyadari ada yang mengamati dirinya dari jarak dekat
“selesai” gumam eila melirik kanvas yang sudah ada gambar pemandangan air terjun di sore hari itu
“kau sedang bingung” suara seorang pria menilai lukisannya dan mengagetkan eila
eila mengelus dadanya akibat terkejut dengan suara yang begitu tiba-tiba terdengar di indera pendengaran eila “astaga” aira menoleh ke belakang
“ngapain anda di sini?’ Tanya eila memicingkan matanya ke arah pria yang tak lain adalah daren
“hanya sedang mengamati sekitar saja” balas daren datar
“oh” eila kembali menoleh ke arah lukisannya menunggu kering
Eila mengambil ponselnya, melirik keadaan sekitar yang sudah menunjukkan keadaan sudah makin petang
“mih” panggil eila di seberang telpon
“iy, ada apa eila” balas mami aira dari balik seberang telpon
“eila baru selesai melukis dan ini sedang menunggu lukisan eila cukup kering, jadi sepertinya eila tengah malam sampai rumah” ucap eila memberitahukan kegiatannya sekarang
“ih, jangan berkendara di tengah malam di situ kan jalannya cukup rawan apalagi saat malam. kamu menginap di salah satu vila kita yang dekat situ saja” balas mami aira
eila mengangguk membenarkan bahwa keadaan jalanan cukup berbahaya apalagi saat malam hari “iya mih, nanti eila nginep di vila kita saja, kalau eila bangun cepet eila pulang cepat kalau siang ya makin siang, kalau
sore ya makin malam”kekeh eila memberitahukan kegiatannya pada mami aira
“iya, mami tahu kamu suka bangun siang ” mami aira menutup telponnya
daren melirik eila “kau menelpon bu guru” Tanya daren
“kan kamu denger sendiri aku panggil mami, ya bicara dengan siapa lagi” balas eila
“apa kamu tak ingin memberikan lukisan itu padaku?” Tanya daren
“kalau kau menjelaskan alasan sebenarnya kau menginginkannya, mungkin aku akan memberikannya padamu” balas eila
Daren menatap lekat manik mata eila “ada hal yang sebaiknya tak perlu kamu tahu” ucap daren
"Dan ada hal yang seharusnya tak kau dapatkan walaupun kau sangat menginginkannya” balas eila
Eila melirik kembali lukisannya sembari menunggu lukisannya kering
“saat kau tahu, mungkin aku tak akan sanggup berdiri di hadapanmu” batin daren
“kenapa kau masih di sini?” Tanya eila menyadarkan daren dari lamunannya
“ah” daren tersadar dari lamunannya
“aku lagi nunggu sekertarisku yang cari penginapan di dekat sini” balas daren
“oh” balas eila
“drrrrrtttt” ponsel daren bergetar
daren mengambil ponselnya dan mengusapnya menjawab panggilan seseorang di balik telpon “ada apa ditto? Kamu sudah dapat penginapan?” Tanya daren
“maaf tuan, orang yang saya kenal di sana bilang penginapannya sudah penuh, gimana tuan?” Tanya ditto
“ya sudah, biar saya pulang ke Jakarta saja” balas daren
“tapi berbahaya tuan, apa saya jemput saja” tawar ditto
“tidak perlu, kau pasti lelah” daren mengakhiri panggilannya
Eila mendengar obrolan daren “kau sedang cari penginapan?” tanya eila
“iya, tapi sepertinya tak dapat, biar aku berkendara ke jakarta saja” balas daren
“kebetulan aku akan menginap di vila, vilaku tidak jauh dari sini, kau bisa menginap di sana kalau tak keberatan” tawar eila
“apakah boleh?’ Tanya daren
“terima kasih” balas daren
Setelah lukisan eila kering, eila mengajak daren menginap di vila miliknya
“masuk saja, silahkan pilih kamar yang kamu mau, kamarku di atas” ucap eila berjalan menuju kamar yang ada di lantai atas
Daren berjalan menuju kamar di lantai satu, dan membersihkan diri
Eila mengeringkan rambutnya setelah keramas “aduh laper” gumam eila mengusap perutnya
“oh ya, ada roti tadi di mobil’ gumam eila keluar kamarnya untuk menuju mobilnya
Eila berjalan melewati dapur dan merasa ada yang menusuk indera penciumannya, eila menghampiri dapur untuk melihat apa yang ada di sana
“kamu masak?” Tanya eila tak percaya daren memasak di dapur vilanya
“iya, aku kan terbiasa hidup sendiri sejak kecil jadi tentu aku bisa memasak” balas daren
“hidup sendiri tak mengharuskan bisa memasak, aku saja tinggal di luar negeri bertahun-tahun seorang diri tak bisa memasak” balas eila
“kebetulan aku masak banyak, kamu mau” tawar daren
Eila mengangguk “mau” eila duduk dengan semangat menanti masakan daren yang sepertinya sudah hampir matang
“nih” daren menyodorkan makanan pada eila setelah sudah siap
“ngomong-ngomong dulu kamu tinggal di Negara mana?’ Tanya eila menyuapkan makanan ke mulutnya
“di berlin” balas daren
“aku juga pernah liburan di sana, beberapa kali, tapi ingatan saat di sana aku lupa jadi aku gak bisa ajak kamu ngobrol tentang berlin” balas eila
“deg” jantung daren seakan berhenti, daren menghela nafas “kalau ingatan kamu di sana kamu lupakan, bagaimana bisa kamu tahu kalau kamu pernah liburan di sana?” Tanya daren
“itu guru asramaku yang bilang, terakhir aku sempat sakit dan lupa kejadian di sana, hanya ada lukisan yang kamu mau itu" eila tahu pernah di berlin setelah melihat lukisannya yang tertulis tempat ia melukis " lukisan itu sebagai tanda aku pernah kesana” balas eila
“emang lukisan bisa bicara kalau kamu dari sana” Tanya daren
“di setiap lukisanku kan ada inisal nama dan tempat aku buat lukisan, jadi aku tahu” balas eila
“benarkah” tangan daren mulai sedikit bergetar, ia langsung menyembunyikan tangannya di bawah meja
“kau sudah kenyang?” Tanya eila melihat daren menaruh tangannya di bawah meja
“iya aku kenyang” balas daren
“boleh aku makan juga punyamu?” Tanya eila semangat
“boleh saja” balas daren
Eila langsung mengambil makanan daren dan menyantapnya sampai tak bersisa
daren tersenyum simpul melihat eila yang sedang makan “kau ingat di mana kau melukisanya?” Tanya daren
“tidak, aku juga kadang bingung dengan lukisanku itu” balas eila
“bingung kenapa?” Tanya daren
Eila meicingkan matanya ke arah daren “kenapa aku harus cerita padamu?” eila merasa ada yang salah dengan dirinya, kenapa dia harus menjelaskan pada daren, males lah eila
“kalau tak mau cerita juga tak apa” daren berjalan menuju kamarnya
“mau kemana?” Tanya eila
“tidur” balas daren dengan terus menggenggam erat tangannya agar tak bergetar
“yang cuci piring siapa?” Tanya eila
“tinggalkan saja, besok pagi aku cuci” balas daren
Daren dengan cepat masuk dalam kamarnya, menyandarkan tubuhnya di pintu, menegadahkan tangannya ke atas, terlihat tangannya yang masih bergetar hebat
“maaf, maafin aku” gumam daren menangkupkan tangannya yang bergetar ke wajahnya dan menangis lirih
sekuat tenaga daren manahan suara isak tangisnya agar tak sampai ke luar