
aira langsung dibawa ke rumah sakit dan sang ayah pun ikut mendampingi aira
kak rino menatap tajam razi dan kilatan amarah pada pria yang masih berstatus suami adiknya
"maaf, apa anda keluarga korban? " tanya petugas polisi pada kak rino
kak rino menoleh ke arah polisi "iya pak, saya kakaknya pak" balas Kak rino
" bisa tolong ceritakan kejadian yang menimpa adik anda? " tanya pak polisi sedang menginterogasi para saksi di tempat kejadian
" maaf Pak saya kurang jelas tentang kejadiannya karena tadi saya dihubungi tetangga aira, yang saya tahu razi memukul adik saya karena adik saya minta cerai tapi razi tak mau, dan mencoba membunuh adik saya dengan linggis" balas Kak rino
pihak kepolisian bertanya pada tetangga sekitar, razi pun di bawa ke kantor kepolisian untuk dimintai keterangan dan di berikan hukuman atas perbuatannya
3 hari razi diperiksa ia dinyatakan punya gangguan mental psikotik sehingga di rujuk ke RSJ dan dan tidak bisa di tahan karena kondisi kejiwaannya
pihak keluarga aira sangat kesal tapi tak ada waktu untuk mengurusinya, yang mereka pikirkan adalah bagaimana aira cepat sembuh karena sudah 7 hari aira koma dan belum ada tanda-tanda ia akan sadar
Flash back end
aira masih memandangi hamparan bunga di taman sambil menceritakan keluh kesalnya karena kegagalan pernikahan yang ia coba pertahankan sekuat tenaga
lama aira berdiam diri, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5.30 sore, aira pun bergegas pulang ke rumahnya untuk beristirahat
saat aira menuju mobilnya ia melihat seorang pria yang kesal sambil menendang ban mobilnya yang kempes
" ih gak bisa ya nunggu sampai rumah apa kantor dulu gitu, ngapain malah bocor disini, dasar mobil kurang ajar" bentak pria tersebut menendangi ban mobilnya
melihat pria tersebut aira membelalakkan matanya lebar " kau masih seperti dulu suka kesal sendiri" batin aira tersenyum tipis
aira memencet kunci mobilnya lalu berniat masuk dalam mobil tapi ada yang menarik tangannya membuat aira menoleh ke belakang
"maaf nona, apa bisa menolongku untuk memberi tumpangan? ban mobilku bocor tapi aku lupa bawa ban serep" ucap pria tersebut
aira menatap tangannya yang dipegang pria tersebut, melihat arah tatapan aira, pria tersebut langsung melepaskan pegangannya dan mengangkat kedua tangannya
" maaf nona, saya orang baik kok, nama saya dylan mahardika dan saya seorang polisi jadi tak mungkin saya jahat" ucap dylan menunjukkan tanda pengenal nya pada aira
aira tersenyum dan mengangguk dan mempersilahkan dylan masuk dengan kode tangannya "Terima kasih nona" dylan langsung berlari masuk lewat pintu sebelah
saat mobil sudah berjalan cukup jauh aira mulai bertanya " kemana aku harus mengantar anda? " tanya aira
deg jantung dylan berdegup kencang mendengar suara yang sudah lama tak ia dengar. dylan merindukan suara itu tapi orang itu bukan dia bagaimana orang asing di hadapannya memiliki suara orang yang paling ia rindukan
"maaf nona apa kita saling mengenal? Suara anda begitu akrab ditelinga saya. boleh tau nama anda siapa? " tanya dylan
"aira mailans" ucap aila membuat dylan diam mematung
"aira mailans itu namaku" ulang aira dengan tersenyum
dylan begitu terkejut dengan nama yang ia dengar, nama yang selalu ia ingat dalam hatinya selama bertahun-tahun, saking terkejutnya ponsel dylan yang berada di tangannya pun sampai terjatuh
melihat itu aira sedikit tertawa " sudah lama ya kita tak bertemu bang, berapa tahun ya? " ucap aira
" 12 tahun" sahut dylan
" ah ternyata 12 tahun ya, aku kira abang sudah lupa sama aira" ucap aira terkekeh
"gak mungkin abang lupain kamu ra" balas dylan menatap sendu aira
"lupa lah buktinya abang dulu pergi gitu aja, pernah tanya kabar aira saja enggak" balas aira merasa sedih mengingat masa lalunya bersama dylan
" maafin abang ra" ucap dylan dari dalam lubuk hatinya "ngomong-ngomong kamu sekarang berubah banget ya ra padahal terakhir abang lihat kamu, 6 tahun lalu kamu gak kaya gini? " tanya dylan
6 tahun lalu, berarti itu saat pernikahan aira dan razi tapi kenapa aira tak bertemu dengan dylan " abang datang di pernikahanku? " tanya aira
" ia abang hadir" balas dylan
" kok kita gak ketemu? " tanya aira
" karena abang hanya sampai depan saja, gak berani masuk untuk ketemu kamu" balas dylan
aira mengerutkan keningnya "kenapa? " tanya aira
" takut gak kuat lihat kamu nikah sama orang lain" balas dylan
"ekkhhhem" aira berdehem karena gugup mendengar jawaban dylan
dylan memicingkan matanya melihat begitu banyak perubahan di tubuh aira terutama di bagian wajahnya "kamu belum jawab ra kenapa wajahmu berubah ? " tanya dylan
aira mengernyitkan dahinya "abang gak tahu aku kenapa? " tanya aira berpikir harusnya dylan tahu karena perihal dirinya yang masuk rumah sakit masuk dalam berita dan beberapa surat kabar
" enggak ra makanya abang nanya" balas dylan
"oplas itu apa ra? " tanya dylan
" operasi plastik bang" balas aira
"oooooh" dylan pikir aira ingin merubah wajahnya menjadi lebih cantik dengan operasi plastik jadi Dylan tak berani bertanya alasan aira memilih operasi plastik "apa kabar suami dan anakmu? " tanya dylan lagi
"anakku baik bang kalau suami?? aira sekarang gak punya suami jadi siapa yang di tanya kabarnya? " balas aira tersenyum ke arah dylan
" kamu sudah bercerai ra? " tanya dylan
"iya" jawab aira mengangguk mengiyakan
"hatiku masih berdebar untukmu ra, dan maaf aku bahagia saat dengar kamu bercerai" batin dylan
"dimana abang mau diturunin nya" tanya aira
" bisa antar abang pulang ke rumah saja? " tanya dylan
"tentu. apa rumah abang masih di rumah lama? " tanya aira
"iya masih ra" balas dylan
"ibu sehat? " tanya aira
"dia sakit cukup parah? " balas dylan sendu
"sakit apa bang? " tanya aira
dylan tak ingin menjawab perihal penyakit ibunya "maafin abang ya ra, dulu ninggalin kamu" ucap dylan
"sudah bang, ini sudah lewat jangan dibahas lagi" pinta aira tak melanjutkan pertanyaan perihal ibu dylan
tak berapa lama aira dan dylan Sampai di halaman rumah dylan " sudah sampai bang, aira langsung pulang ya" ucap aira
" kamu gak mampir dulu? mami pasti seneng ketemu kamu kan sudah lama banget mami gak ketemu kamu" ucap dylan
"ahhhhhh mami" teriak seorang dari dalam rumah
aira dan dylan bergegas melepas sabuk pengaman dan menuju rumah dylan dengan berlari
"mami! " teriak dylan yang khawatir saat melihat ibunya dipapah oleh pembantu di rumah dylan
" ibu kok bisa jatuh? " tanya aira ikut membantu
"ah namanya sudah tua" balas mami diana dengan suara lirih
saat mami diana audah duduk di sofa, ia mengamati lekat aira " kamu siapa nak? suaranya kaya kenal tapi wajahnya gak ingat siapa? " ucap mami diana
"ini aira bu, aira mailans adiknya rino teman bang dylan" balas aira
"ya ampun aira, anak ibu" ucap mami diana memeluk aira erat
"ibu dengar kejadian yang menimpamu tapi ibu belum sempat jenguk karena kurang sehat, syukur sekarang kamu sudah sehat nak" ucap mami diana
" iya bu, syukur sekarang aira sudah sehat" balas aira tersenyum
"ibu tahu kalau aira kecelakaan kok gak kasih tau dylan sih bu" ucap dylan
" kecelakaan apa? orang aira bisa kaya gitu gara-gara suaminya yang mukulin aira pake linggis kok" ucap mami diana kesal
mami diana sadar ucapannya yang terlalu terbuka dan melirik aira dengan wajah merasa bersalah "ya ampun ra maafin ibu, sudah keceplosan ngomong gitu" ucap mami diana memukul mulutnya
" gak papa bu, sekarang aira sudah baik-baik saja dan aira juga sudah pisah sama mas razi" balas aira tersenyum
"aku gak tahu kamu mengalami kejadian seperti ini ra, abang janji akan menjaga kamu sebaik mungkin" batin dylan
" ibu gimana kabarnya? " tanya aira
" ya gini lah nak, namanya sudah tua jadi banyak keluhannya" balas mami diana
" kalau abang dylan sibuk dan ibu butuh teman, telfon aira saja, aira akan nemenin ibu kalau aira sedang senggang, aira juga bisa minta viko ikut datang untuk nemenin ibu " tawar aira
"beneran ra, makasih ya ibu senang sekali kalau ada yang menemani ibu ngobrol" ucap mami diana
" tentu saja, tapi mungkin aira hanya bisa nemenin ibu kalau sore karena aira ngajar sampai sore" jelas aira
" kamu sekarang sudah ngajar lagi? " tanya mami diana
" iya bu" balas aira
mereka mengobrol cukup banyak karena sudah lama tak jumpa bahkan aira dan mami diana mengabaikan dylan karena asyik mengobrol