
***
viko tengah mengajar mahasiswa semester 5 “bagaimana progress kerja kelompok kalian?” Tanya
viko pada para mahasiswanya
“lancar pak” balas para mahasiswa
“pak”ada sebuah tangan terangkat ke atas tanda Instruksi
Mata viko menatap tangan tersebut “ya kamu, ada apa?” Tanya Viko
“maaf pak, di tugas ini kan harus kerja kelompok, bisa tidak kalau saya mengerjakan seorang diri?” Tanya seorang wanita yang tadi
mengangkat tangan
Viko memicingkan matanya “kenapa kau meminta untuk kerja sendiri?” Tanya viko
Perempuan tadi menggelengkan kepalanya “tidak apa-apa pak, hanya ingin mengerjakan sendiri” balas wanita tersebut
“itu karena dianya saja yang sok sibuk, selalu bilang sibuk dan harus kita yang menyesuaikan jadwalnya, kita emang gak sibuk”
celetuk salah satu mahasiswa yang satu kelompok dengan wanita tersebut
Viko menatap lekat-lekat wanita yang berprofesi sebagai mahasiswinya itu “siapa namamu?” Tanya viko
“Neysha lara Pallavi pak” balas ara
Viko mengingat nama yang cukup akrab di telinganya “bukankah kau anak yang dapat beasiswa itu?” Tanya Viko
“iya pak, itu saya” balas ara
“kau tahu kan, jika kau tak lulus mata kuliah saya beasiswa kamu akan terancam di cabut?” Tanya viko dengan nada lirih namun terkesan tegas
“tahu pak” balas ara mengangguk
“saya gak peduli gimana caranya kamu bekerja, saya ingin tugas ini dalam bentuk kelompok, dan jika sampai kau mengerjakan
mandiri walaupun tugasmu bagus aku tetap akan memberikanmu nilai E” ucap viko dengan nada tegas dan tak ingin di bantah
Ara mendongak ke arah viko dengan mata membelalak
lebar “jangan seperti itu pak” ucap ara dengan nada memohon
“baik kelas hari ini sudah selesai, kita lanjutkan minggu depan” ucap viko pamit keluar kelas
Viko bergegas berjalan menuju ruangannya “pak viko”panggil mahasiswinya tadi
Viko menghentikan langkahnya dan menoleh “ada apa?” Tanya viko memicingkan matanya
Ara berusaha mengatur nafasnya yang terengah karena berlari mengejar viko “apa tidak ada keringanan untuk saya pak?” Tanya
Eila
“tidak” sahut viko kembali melanjutkan langkahnya
Ara hanya menghela nafas panjang ke arah viko “dasar dosen killer dan sedingin mesin pendingin"gumam ara kesal melirik punggung viko yang makin menjauh
***
Eila sudah sampai di bandara Soekarno hatta dengan
tersenyum lebar “akhirnya aku kembali” gumam Eila merentangkan tangannya
merasakan terpaan angin yang tak seberapa menerpa tubuhnya
“plak”eila terhuyung karena ada yang memukul bahunya membuat ia hampir saja terjatuh karena tak siap
Eila membenarkan posisinya, berdiri tegap dan menatap
tajam orang yang menepuk bahunya “bisa gak sih kamu kalau ketemu kakak kamu itu manis dikit hah!” umpat Eila pada adik kembarnya askar
“gak bisa, lagian kamu ngapain juga kaya orang gila ngerentangin tangan di bandara kaya gini” balas askar " kakak beda lama di perut mami beberapa menit aja bangga" tambah askar mendengus sebal
Eila mengedarkan pandangannya “mami sama papi gak ikut?” Tanya Eila yang mendapati askar hanya seorang diri
“gak, mereka lagi siapin pesta penyambutan kamu” balas askar mengambil koper eila dan menariknya
Eila mengalungkan tangannya di lengan Askar “mami pasti sedih ya, karena kakak gak ikut pulang lagi?” Tanya Eila
“aku tuh sudah rayu kakak terus tau, tapi dia tetap bilang gak mau pulang jadi aku harus apa coba” balas Eila
“dunia ini begitu sempit sih, membuat kita hidup tinggal dekat dengan wanita gila itu” ucap Askar
“ya gimana gak dekat, wanita itu milih teman kakak, dan kolega bisnis kita ” balas Eila
“andai aku gak di tuntut professional sama om Rino, malas aku ngeladenin suami wanita gila itu” sahut Askar
“sudah lah, ngapain juga bahas perempuan gila itu saat ketemu, kita harus bahas keluarga bahagia kita” ucap eila
Menempuh perjalanan satu setengah jam askar dan
eila sampai di kediamannya dengan sambutan kerabat serta keluarga dekatnya
“mami” teriak eila saat masuk ke rumah besar milik keluarganya
Mami aira yang mendengar suara putri tercintanya bergegas menghampiri sumber suara “eila sayang” panggil mami aira bergegas memeluk putrinya
“kangen mih”eila memeluk erat mami aira
“mami juga kangen kamu sayang” balas mami aira
“kamu gak kangen papi” ucap papi dylan
“kangen dong” eila langsung memeluk erat papi
dylan
Eila melonggarkan pelukannya “papi sudah pensiun ya?” Tanya eila
“sudah, baru beberapa bulan lalu papi ambil pensiun, pengen berduaan terus sama mami kamu" balas dylan
“bukannya papi masih muda?” Tanya eila
“usia papi emang masih muda dan masih bisa tetap bekerja, tapi
papi ambil pension lebih cepat karena pengen nemenin mami, sekarang kan mami sudah gak pegang perusahaan om tyo lagi” jelas papi dylan tentang prastyo yang sudah sadar dari komanya dan mengambil alih perusahaannya kembali
“oh ya eila sudah denger kabarnya, om tyo sudah bangun dari komanya ya mih?” Tanya eila
“sudah sayang, mami sekarang Cuma bantu om tyo saja kalau sedang kewalahan karena kesehatannya kan belum pulih betul” balas aira
“walaupun papi dan mami gak kerja, tenang saja masih ada sih askar yang bisa di mintain uang jajan” ucap eila merangkul
pundak askar dan mengedipkan sebelah matanya ke arah saudara kembarnya
“iiiiihhhh” askar menggeser lengan eila “gak pakai diminta, aku isi rekening mami dan papi setiap bulan ya” kesal Askar
Eila meragakan gerakan hormat ke arah askar “saya tahu pak” ucap eila agak lantang
“ya sudah makan dulu sayang, mami sudah masakin special buat kamu” ucap mami aira menggandeng tangan eila
Mami aira mengambilkan lauk serta pauknya untuk dimakan eila “kakak kamu masih belum mau pulang?” Tanya oma diana
Eila menggeleng “ belum oma, tahu sendiri seberapa besar lukanya” balas eila yang tahu luka yang pernah di alami viko kakaknya
keluarga besar viko paham betul kondisi viko yang masih
menyimpan luka besar yang sampai detik ini belum juga kering padahal sudah lima tahun berlalu
“ya sudah makan dulu sayang” pinta mami aira
“oh ya sayang, papi sama mami sudah siapin pesta menyambut kepulanganmu” ucap papi dylan
“ih mami sama papi kok repot-repot siapin pesta
untuk eila” balas eila merasa tak perlu di adakan pesta
“tidak repot dong sayang, kamu kan 12 tahun di Inggris dan kali ini kamu akan lama tinggal di Indonesia jadi tentu saja papi
Dan mami siapin pesta untuk menyambut kepulangan kamu" balas papi dylan tersenyum
"sekalian buat ajang kumpul bareng sama keluarga serta kerabat kita" tambah mami aira
"iya nih" balas eila