
***
“pagi bu, yah” sapa Rino memeluk ayah dan ibunya yang sedang duduk di meja makan untuk menikmati sarapan
“pagi” balas ibu mardiana memeluk Rino
“seger bener, hari ini?” ledek ayah subrata melihat raut wajah Rino yang begitu cerah dan senyum mengembang di wajahnya yang terpampang jelas
Rino menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena tau arah pembicaraan ayahnya “hehehe, iya yah” balas rino tersenyum malu
Ibu mardiana menggelengkan kepalanya ke arah rino “ibu tahu kamu mungkin lama gak bareng tinggal sama
istrimu, tapi ingat rinokalau istrimu sedang hamil jadi harus tahan dan jangan main kasar” ucap ibu mardiana dengan suara lirih di dekat telinga rino tapi masih bisa di dengar ayah subrata dan zata
rino menautkan alisnya “rino gak main kasar kok bu, rino main lembut sama istri rino”elak rino tak terima dengan ucapan ibunya kalau dirinya main kasar
“lembut kok, leher zeta sampai gitu?” Tanya ibu mardiana melirik leher zeta yang tertutup slayer tapi masih
Nampak jelas ada tanda kepemilikan disana, dan terlihat cukup banyak. mana mungkin kan main lembut kalau sebanyak itu
“oooops” rino menutup mulutnya menyadari perlakuannya semalam pada zeta yang sudah lama ia tahan karena berjauhan dengan istri
“sorry, lepas control gara-gara kelewat kangen sama istri rino bu” balas rino terkekeh
zeta yang duduk di sebelah rino melirik suaminya dan mencubit pinggang rino karena kesal, dan Rino hanya tersenyum melihat istrinya sedang menahan malu pada kedua orang tuanya
“iya ibu tahu, tapi jangan lupa kalau istrimu sedang hamil, jadi jangan main ganas” ucap ibu mardiana mengingatkan
“iya bu, lain kali rino akan jauh lebih main lembut sama zeta” balas rino mengangguk
“oh ya no, nanti kamu sibuk gak?” Tanya ibu mardiana
“kayanya lumayan deh bu soalnya ada klien dari belanda yang datang, emang kenapa?” Tanya rino
“mau ambil baju buat nikahan riska dan dokter ken di butik. Tapi kalau kamu sibuk biar aira suruh kesini
jemput zeta saja” balas ibu mardiana
“emang harus ya mereka ambil sendiri bajunya?” Tanya rino yang tak ingin zeta sering keluar rumah saat
kehamilannya yang sudah makin membesar
“iya dong no, aira dan zeta kan sedang hamil besar, jadi mereka kesana sekalian pasin lagi ukuan baju mereka”
balas ibu mardiana
“kalau mas sibuk gak papa kok mas, nanti kan zeta sama mba aira, mba aira kan selalu di temenin bodyguardnya jadi mas gak perlu khawatirin zeta ” ucap zeta menenangkan rino
“ya sudah kalau gitu, jangan terlalu capek ya” pinta rino mengusap kepala zeta
"iya mas" balas zeta mengangguk
***
“mba, berat banget ya hamilnya?” Tanya zeta melihat aira yang sering menghela nafas dan kesulitan bernafas
“lumayan sih, kan aku hamil anak kembar mana usia kandunganku kan sudah masuk bulan ke 9, tinggal berapa minggu lagi aku lahiran jadi lumayan begah rasanya” balas aira mengusap perut besarnya
“kalau terlalu mba merasa terlalu berat mendingan mba gak datang ke acara nikahan kak riska, kak riska pasti ngerti kok dengan keadaan mba yang sedang hamil besar seperti ini” balas zeta
“kak riska memang gak akan marah kalau aku gak datang ta, tapi aku disana setidaknya menjaga kak tyo agar tak berulah di sana” ucap aira menceritakan kenapa aira harus datang ke acara pernikahan Riska dan dokter ken
“kak tyo, adik dokter ken?” Tanya zeta memastikan orang yang dibahas aira
“iya kak tyo adik dokter ken, kamu pernah denger ceritanya kan?”balas aira melirik ke arah zeta
"iya sih pernah denger mba, mas Rino pernah cerita ke aku sedikit, tapi mba aira? emangnya mba bisa bikin kak tyo gak berulah di pernikahan kak riska?” Tanya zeta yang belum terlalu paham hubungan airan dan prastyo
“tentu saja bisa, dia itu sangat peduli padaku, mungkin aku satu-satunya orang yang dia anggap keluarga” aira menatap zeta lekat “dia paling menyayangiku dan paling tak sanggup melihat aku kesusahan” aira mengusap perutnya “dengan bantuan anakku akan ku buat kak tyo hanya mengurusku saja” ucap aira yakin dengan prastyo yang sangat menyayangi aira dan perduli padanya
“emang kak dylan gak cemburu kalau mba deket sama pria lain?” Tanya zeta
Aira terkekeh “bang dylan itu berbeda dengan kak Rino yang suka cemburu buta, bang dylan tahu betul bagaimana hubunganku dengan kak tyo dan kak david yang aku anggap sebagai kakak begitupun mereka yang menganggapku adik mereka, jadi tak masalah” balas aira yang sangat bersyukur karena suaminya selalu bisa mengontrol dengan siapa ia bisa cemburu
“iya sih, mas Rino emang beda masih suka cemburuan, sama kak yama saja dia masih saja cemburu padahal kita kan gak ada apa-apa” balas zeta terkekeh
“apa? Nyebut-nyebut namaku?” Tanya yama yang datang entah datang dari mana dan berjalan mendekat ke arah zeta dan aira dengan ketus saat mendengar namanya di sebut-sebut
Aira tersenyum ke arah yama “hai kak yama, apa kabar?” sapa aira memeluk yama
“baik” balas yama ketus dengan tetap membalas pelukan aira
“kok tuan yama ada disini?” Tanya zeta ramah
“ambil baju pesenan mama” balas yama mengangkat bingkisan baju yang baru saja ia ambil
“kakak kenapa mukanya di tekuk gitu?” Tanya aira
“kesel aja, semua sudah pada nikah, Cuma aku saja yang belum padahal aku sudah 32 tahun” balas yama kesal karena di antara banyak kenalan yang seusia dirinya sudah memiliki pasangan hidup berbeda dengan dirinya
"pasti kakak habis diledek tante lagi ya, bujang lapuk karena belum nikah-nikah" tebak aira dan tepat sasaran
yama mencebikkan bibirnya karena ucapan aira yang memang benar "tahu bener kamu ra" yama memilih duduk di sofa dan aira pun duduk di samping yama
"mama bilang aku nih bujang lapuk, percuma jadi CEO tapi nyari istri saja gak bisa. bahkan ya ra dia bandingin kakak sama kamu" yama melirik perut aira "kamu sudah mau punya dua anak, kakak satu saja belum padahal usia kakak di atas kamu. Rino juga diserempet-serempetin sama mama karena zeta sedang hamil anak pertamanya" ucap Yama panjang lebar menceritakan kekesalannya yang terus di ledek mama yama
yama menengadahkan kepalanya ke atas "sekarang di tambah Riska yang nikah dan sedang hamil, kena lagi deh aku sama mama" ucap yama dengan wajah tertunduk lesu
aira tersenyum menanggapi curhatan yama padanya “mungkin kakak belum bertemu jodohnya saja” balas aira menepuk bahu yama dan memberi semangat
"iya tuan, kali aja jodoh tuan masih dalam perjalanan dan sebentar lagi sampai" tambah zeta mengucapkan mungkin tuhan sedang membuatkan jodoh untuknya dan sedang dalam perjalanan menghampiri Yama