
"jadilah pacarku" pinta viko menata lekat wajah ara
“hah?” ara menganga lebar mendapati permintaan viko yang terasa tak masuk akal bagi ara
"hahahaha" Melihat raut wajah ara, viko pun tertawa lantang, hal yang sudah lama tak ia lakukan.
Menyadari itu viko langsung merubah wajahnya menjadi dingin kembali
“bukan pacar sebenarnya, hanya pacar bohongan saja” jelas viko
ara menautkan alisnya “kenapa?” Tanya ara
“saya hanya tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun, jadi bantu saya memberi alasan untuk orang tua saya agar tidak
meminta saya untuk mencari kekasih” balas viko
“kenapa saya harus mau membantu bapak” Tanya ara
“aku akan membawa ayahmu ke rumah sakit terbaik di negara ini" tawar viko yang sudah tahu kondisi keluarga ara
ara mengernyitkan dahinya "dari mana anda tahu kondisi ayah saya yang tidak baik" tanya ara
"kamu tidak perlu tahu dari mana saya tahu kondisi keluargamu" viko membenarkan posisi duduknya, berhadapan dengan ara dan menatap manik mata ara "jika kau setuju aku akan membiayai pengobatan ayahmu sampai sembuh" ucap viko
Wajah ara langsung tersenyum “benarkah” ara tentu berharap ayahnya akan sembuh jika di bawa ke rumah sakit terbaik dan setidaknya ia tidak perlu bekerja banting tulang lagi untuk pengobatan ayahnya karena untuk pengobatan ayahnya benar-benar menguras tenaga ara yang hanya istirahat selama 2 jam saja dalam sehari-hari jika ingin lebih ia hanya mencuri-curi waktu di sela pekerjaannya atau saat kuliahnya
“bahkan aku bisa mencari tahu keberadaan ibumu” tambah viko
Ara langsung merubah mimik wajahnya “cukup bawa ayah saya ke rumah sakit terbaik untuk pengobatannya.
sedangkan untuk ibuku, jangan pernah anda mengungkitnya di depan saya ” ucap ara dengan nada tegas
“jadi kau setuju untuk jadi kekasih saya ” viko mengangkat tangannya untuk berjabat tangan dengan ara
Ara meraih tangan viko untuk berjabat tangan “saya setuju” balas ara
viko kembali menoleh pada makanan yang sempat ia abaikan untuk bercakap dengan ara “kalau gitu bersiaplah, lusa kita berangkat ke Indonesia” ucap viko melanjutkan acara makannya
“hah?” mulut ara menganga lebar mendengar permintaan viko
“cepat amat?” Tanya ara tak percaya
“ada urusan penting di sana, jadi aku harus cepat pulang, lagian kau sedang liburan kan jadi ini waktu yang pas untuk bertemu keluargaku" balas viko
"tapi aku tak pernah meninggalkan ayahku begitu lama apalagi tempat yang jauh" ucap ara ingin meminta pengertian viko perihal ayahnya yang sedang sakit dan tak mungkin ia abaikan begitu saja untuk pergi ke luar negeri
viko paham ketakutan ara perihal ayahnya “jangan khawatir orangku akan mengurus ayahmu dengan baik” ucap viko
***
Viko menggandeng tangan ara menyusuri jalanan bandara
"apa harus seperti ini? " tanya ara melirik tangan viko yang menggenggam erat tangannya
"tentu saja, keluarga adalah orang yang sangat peka jadi kita harus senatural mungkin di hadapan mereka" viko mengangkat tangannya yang bertautan dengan tangan ara ke atas " dan ini adalah salah satu cara membuat keluargaku percaya bahwa kau kekasihku" ucap viko
"baiklah" ara mengangguk paham
“baik pak aku akan bercerita menyesuaikan kehidupan kita agar tak membuat curiga keluarga bapak” balas ara yang mendapat tatapan tajam dari viko
Ara tersenyum kikuk “sorry, mas viko sayang” ucap ara yang di haruskan memanggil mas ataupun sayang pada viko
Viko melingkarkan tangannya di pinggang ara, dan ara hanya diam saja dengan perlakuan viko karena ini sudah masuk kesepakatannya
sebagai pacar bohongan viko
“kakak!” teriak eila saat melihat kedatangan viko dari pintu kedatangan luar negeri
Viko mengurai melepas tangannya dari pinggang ara dan memeluk adik perempuannya yang sangat di sayanginya “eila” viko mengusap punggung eila lembut
"akhirnya kakak mau pulang" eila membalas pelukan viko dengan tak kalah erat, ia merasa bahagia kakaknya pulang setelah lima tahun
Ara begitu terpana dengan kecantikan eila “wah cantik banget” gumam ara yang takjub akan kecantikan eila, kecantikan yang di turunkan oleh mami aira pada eila putri satu-satunya keluarga Mahardika
Eila mengurai pelukannya menatap eila dengan alis saling bertaut, begitupun askar melirik ke arah ara dari atas sampai bawah “kau siapa?” Tanya eila dan askar bersamaan
Ara menjabat tangan eila ramah “aku Nesha lara pallavi, bisa kamu panggil ara” ucap ara menjabat tangan eila semangat
ara melirik askar dengan masih menjabat tangan eila "aku ara" ucap ara dengan senyum ramahnya
“eila” sahut eila yang masih kebingungan
Askar menatap sang kakak “dia siapa kakak?” tanya askar
Viko menarik pinggang ara mendekat padanya “kenalin dia ara kekasih kakak” ucap viko datar
“hah?!” askar dan eila langsung menganga ketika mendengar kakaknya punya pacar
Askar melirik ara “beneran kakakku ini kekasihmu?” Tanya askar pada ara sambil menunjuk viko
“iya, dia kekasihku. Memangnya ada yang salah?” Tanya ara bingung
“manusia kulkas ini?” ulang askar tak percaya jika viko kakaknya punya kekasih apalagi ara yang cantik, walaupun ara berpenampilan sederhana tak menutupi kecantikan alami seorang Nesha Lara Pallavi
Viko langsung memukul tangan askar “jangan tidak sopan kamu” bentak viko
Askar langsung terdiam “maaf kak” askar langsung menunduk karena memang dirinya yang selalu di ajarkan menghormati orang yang lebih tua oleh kedua orang tuanya apalagi itu adalah kakaknya yang selalu jadi panutannya sejak kecil
ketakutan askar pada kakaknya membuat ara tersenyum kecil
Viko melirik ke arah ara “ayo” ajak viko
“iya sayang” balas ara tersenyum pada viko
Eila dan askar hanya merinding saat mendengar ara memanggil kakaknya dengan sebutan sayang
"kok merinding aku denger ada yang panggil kakak sayang" bisik eila di telinga askar
askar ikut berbisik di telinga eila " kau pikir cuma kamu doang" askar memegang tengkuknya yang memang terasa dingin " aku juga merinding tahu" balas askar
viko menatap interaksi kedua adiknya yang saling berbisik membuat matanya merasa risih dengan kelakuan kedua adik kembarnya "jangan berbisik untuk orang yang jelas ada di dekat kalian. kalau mau bicara, bicaralah langsung. pasti akan kakak dengarkan" ucap viko menginterupsi kegiatan kedua adiknya
eila dan askar menoleh kebelakang dan hanya bisa nyengir kuda " kita gak ngomongin kakak kok beneran deh" eila menoleh ke arah askar " benarkan askar kita gak bicarain kakak" ucap eila dengan lirikan mata yang seolah meminta pembelaan " iya kak, kita gak bicarain kakak kok, itu tuh cuma perasaan kakak doang" sahut askar dengan di akhiri kekehan