
askar tersenyum miring melirik layar laptopnya "hahahaha" askar tertawa miris melihat layar laptopnya
di sana begitu banyak video dan foto-foto yang begitu menusuk hatinya, jantungnya serasa di remas-remas melihat itu semua
"ceklek" jeni masuk dari sela pintu tapi hanya kepalanya sajan
"kak" panggil jenny
askar langsung menutup laptopnya dengan gerakan cepat
"kakak ngapain sih mukanya ngeri gitu? " tanya jenny yang sempat melihat askar dengan raut wajah tak mengenakan
askar langsung merubah raut wajahnya menjadi tersenyum "gak papa, tadi barusan nonton film penghianatan" kekeh askar
"oh, ya sudah yuk berangkat, katanya mau antar jenny ke rumah mommy" ucap jenny masih diam di balik pintu
"ya sudah yuk" balas askar menghampiri jenny dan melingkarkan tangannya di pinggang jenny menuju ruang keluarga menghampiri keluarganya yang sedang berkumpul
askar membawa jenny menghampiri papi dylan dan oma diana "pi, mami mana? " tanya askar
"lagi bungkus kue buat di bawa ke rumah mertua kamu" balas papi dylan
"kamu beneran mau pulang ke rumah mommy kamu? " tanya oma diana
"iya oma, kan lusa kak syakia mau pulang" balas jenny dengan senyuman
"harusnya syakia saja yang tinggal di rumah orang tuanya, kamu kan lebih butuh suami kamu karena lagi hamil" sahut oma diana kesal
"aku kan masih tetap menginap di sana sesekali oma untuk nemenin jenny" sahut askar
"tapi oma jadi gak ada teman ngobrol" ucap oma diana
"kan kak syakia ada oma" balas jenny
"kamu lupa, kalau syakia kerja" balas oma diana
" nanti pas kak syakia kerja, jenny kesini deh" sahut jenny memeluk oma diana manja
"jangan nanti kamu kecapean kalau bolak balik, kamu juga kan masih kuliah, mana kamu makan sukanya masak sendiri" tolak mami aira menghampiri askar dan jenny lalu menyerahkan kotak kue pada askar
"terus gimana dong? " tanya jenny
"nanti kalau kangen biar mami bawa oma kamu ke sana saja" balas mami aira
"ya sudah, kami pamit ya mi, keburu malam, kasian jenny kalau sampai sana malam. sekalian nanti malam aku nginep sana" ucap askar
"iya" balas oma diana, papi dylan dan mami aira serempak
*
jenny senang sekali pulang ke rumah keluarganya setelah sekian lama "mommy" panggil jenny memeluk mommy nya
"eh, kamu sudah datang sayang" balas aunty Riska memeluk putri kesayangannya
"daddy mana mom? " tanya askar
"lagi duduk di taman belakang" tunjuk aunty Riska pada halaman belakang rumahnya
"aku samperin dulu ya" pamit askar menghampiri ayah mertuanya
"sore dad" sapa askar mencium punggung tangan dokter ken
"kau datang" ucap dokter ken tersenyum ramah
"mau nitip jenny di sini dad, selama beberapa waktu" ucap askar
"ini juga rumahnya, jadi jangan pakai kata nitip, kamu kira anakku barang" kesal dokter ken
"maaf" kekeh askar
dokter ken membenarkan posisi duduknya "jangan berlagak kuat askar" ucap dokter ken dengan tatapan sendu
askar merubah raut wajahnya menjadi serius "daddy tahu? " tanya askar dengan senyuman tipisnya
"sebelum kamu tahu, tentu aku lebih dulu tahu kamu lupa siapa aku" ucap dokter ken pongah
"tentu saja tahu" askar menatap dokter ken dengan mode serius
"untuk itu aku minta jenny di sini, aku gak ingin dia merasa bersalah atas hal yang tidak dia lakukan" ucap askar
"Terima kasih dad" ucap askar
"hmmmm" balas dokter ken
"kak yok makan buah" teriak jenny dari dalam rumah
"ayo masuk, nanti istrimu ngambek kalau gak di elus perutnya" ucap dokter ken yang tahu kebiasaan baru putrinya yang sedang mode manja karena kehamilannya
"iya dad" balas askar
askar dan dokter ken berjalan masuk ke arah ruang keluarga
"sini kak" jenny menepuk sofa di sebelahnya
askar duduk di samping jenny dan langsung di hadiahi suapan oleh jenny "makan kak" pinta jenny dengan senyuman
"iya" askar menerima suapan dari tangan jenny
"gak nyangka anak kita bisa seperhatian ini dad" ucap aunty Riska melirik jenny yang sedang menyuapi askar buah
"iya, sama suaminya gitu tapi sama daddy nya gak" ucap dokter ken sedikit mengeraskan volume suaranya
jenny melirik daddy nya "kalau mau di suapin tinggal minta sama mommy kan mommy ada" sahut jenny
"punya suami melupakan daddy nya mom" adu dokter ken dengan nada merajuk pada aunty riska
"sudah dad, malu sudah tua" kekeh aunty riska memukul paha dokter ken
"wah wah wah makan gak ngajak-ngajak" cicit raga menyambar buah di meja
"gak di ajak aja langsung nyerobot gitu" kesal jenny
"wah bumil satu ini, gak ada sopannya sama kakak satu-satunya " kesal Rafa
"sekarang kakakku ada dua kali, kan ada kak viko juga" jenny menjulurkan lidahnya ke arah Rafa
"dasar adik satu ini" kesal Rafa
"sudah Rafa, jangan selalu ajak ribut adik kamu" ucap aunty Riska tersenyum melihat pertengkaran kedua anaknya
*
jenny sudah berganti pakaian tidur dan rebahan di atas ranjang sambil menarik tangan askar agar mengusap perutnya " kamar kamu nuansanya kok biru laut gini? " tanya askar yang baru pertama kali memasuki kamar jenny
askar langsung mengusap perut jenny "emangnya kenapa kalau biru? " tanya jenny
"kirain kamu sukanya pink" askar terus mengusap perut jenny yang sudah mulai membuncit
"cewek itu gak harus suka pink kak, aku sukanya warna biru jadi warna kamarku biru dong" balas jenny
"kenapa gak minta kamar yang di sana di cat warna biru? " tanya askar
"gak lah, kan jenny tinggal di sana buat sementara saja" balas jenny
askar mengerutkan keningnya "kenapa kamu bilang sementara? " tanya askar
"setelah jenny lahiran, kakak kan akan menceraikan jenny jadi jenny pasti balik ke sini dong" balas jenny
"kamu mau minta cerai dari kakak setelah melahirkan? " tanya askar
"lah itu bukannya niat awal kita menikah, kakak menceraikan jenny setelah lahiran? " tanya jenny
"siapa yang bilang gitu? perasaan kakak gak pernah bilang gitu deh" balas askar
"terus, gimana sama kak syakia? tanya jenny
" ah sudah lah, sudah malam tidur saja" askar membalikan badannya memunggungi jenny
"kak, kok berhenti mengelusnya, nanti jenny gak bisa tidur" tangis jenny langsung pecah karena askar tak mengelus perutnya lagi
askar langsung berbalik "iya maaf jen" askar kembali mengusap perut jenny sampai jenny tertidur pulas
*
"kamu yakin mau pulang syakia? " suara seorang pria dari balik telpon
"tentu saja, suamiku di sana maka aku harus ke sana" syakia mengakhiri panggilannya dan menyimpan ponselnya ke dalam tas selempang miliknya