
***
Semua orang sedang panik mencari keberadaan eila, sedangkan yang di cari malah sedang duduk melamun di atas gunung, di dalam tenda
“krik krik krik” terdengar suara jangkrik
Eila hanya duduk memeluk kakinya dan menatap langit malam “maaf semuanya, hari ini saja, eila pengen sendiri” gumam eila memejamkan matanya menikmati terpaan
angin malam yang mengenai wajahnya
Askar dan viko mati-matian mencari eila “kemana lagi kak, kita cari dia?” Tanya askar yang sudah mulai lelah karena ini sudah hampir pukul 11 malam, yang artinya mereka sudah mencari selama 4 jam
“coba ke galeri, mungkin dia kesana” balas viko
“tadi kan kita sudah Tanya janet dan kata janet gak ada” balas askar
“ya kita cek sendiri, kali aja dia minta janet bohongin kita" balas viko
Viko dan askar bergegas menuju galeri tempat kerja eila “ini tuh sudah malam kak, mana ada orang” ucap askar melihat keadaan galeri yang gelap dan hanya ada penerangan jalan
Di tengah perjalanannya viko melihat daren yang baru keluar galeri “kau!” teriak viko kesal melihat daren ada di hadapannya
“sabar kak” pinta askar mencoba menahan lengan kakaknya
Viko menggeser tubuh askar dan kembali menonjok muka daren membuat luka daren yang belum sembuh itu mengeluarkan darah kembali “kenapa kau terus
membuatku kesal hari ini hah!” teriak viko
daren mengusap sudut bibirnya yang berdarah “aku hanya ingin menanyakan kabar eila karena aku tak bisa menghubunginya sedari
tadi”
"ah alesan" viko kembali memukul pipi sebelah daren yang belum terluka
"aku hanya khawatir padanya viko" balas daren mengusap sudut bibirnya yang kembali berdarah
viko menunjuk wajah daren “kalau sampai ada apa-apa dengan adiku, aku pastikan kau akan ku buat hancur” ucap viko penuh dengan amarah
Askar mencoba menasehati kakaknya untuk tidak marah “tenang kak” pinta askar
Askar menoleh ke arah daren “maaf daren, kami sedang khawatir karena eila tak ada kabar sama sekali sampai sekarang padahal dia selalu rutin mengabari mami dan itu membuat mami kami sangat khawatir” ucap askar meminta pengertian daren tentang viko yang memukulnya
“kalian juga gak bisa hubungi eila?” Tanya daren yang juga sangat khawatir dengan eila
“iya, dia anak perempuan tapi tidak ada kabar sama sekali walaupun dia punya ilmu bela diri tetap saja kami khawatir” balas askar
“aku juga akan mencarinya” daren langsung berlari menuju mobilnya meninggalkan viko dan askar begitu saja
“mau kemana kau, aku belum selesai bicara”kesal viko
“sudah kak, makin banyak orang yang cari eila kan makin bagus” ucap askar
Semalaman daren mencari eila di tempat-tempat yang biasa eila datangi saat melukis
“kemana kamu eila”daren melirik langit yang sudah terlihat akan terbit matahari
“apa dia kesana” gumam daren beralih pergi menuju suatu tempat
Daren bersusah payah berjalan menyusuri jalan setapak menuju puncak gunung yang sebenarnya tidak terlalu tinggi tapi karena daren yang sudah begitu lelah
membuatnya begitu bersusah payah menaiki puncak gunung
“eugggghhh” eila meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku karena tidur di dalam tenda
“sakit semua deh badanku” gumam eila memijit pundaknya
“eila!” teriak daren berlari menghampiri eila yang sedang berdiri menatapnya bingung
daren langsung memeluk eila erat “dari mana saja kamu, kamu gak tahu aku mencarimu semalaman” ucap daren meluapkan rasa khawatirnya karena semalaman mencari eila kemana-mana
Eila berusaha mendorong tubuh daren tapi kalah kuat dengan tenaga daren yang begitu kuat “ngapain juga cari aku, aku kan
bukan siapa-siapa kamu” balas eila
“aku sudah besar daren, bisa jaga diri” balas eila
Daren mengurai pelukannya “kamu gak tahu kalau keluargamu mencari kamu kemana-mana?mereka begitu khawatir denganmu” Tanya daren
Eila langsung berlari memasuki tendanya untuk mengambil ponselnya dan menghidupkan dayanya “habis aku" gumam
eila melihat banyaknya panggilan serta pesan dari keluarganya dari kemarin sore
Eila langsung menghubungi maminya “mih” panggil eila saat telponnya tersambung
"ya ampun eila, dari mana saja kamu eila? mami khawatir banget sama kamu mana ponselmu gak aktif dari kemarin! ” teriak mami aira
eila mengusap telinganya yang berdenging karena teriakan mami aira “maafin eila mih, eila lagi lukis di gunung, ketiduran jadi lupa kasih kabar sama mami, maafin eila ya mih, nanti sore eila pulang kok” balas eila
mami aira menghela nafas “ya sudah, yang penting kamu baik-baik saja, kami khawatir sama kamu karena kakakmu cerita kamu mau ke inggris” balas mami iara
"eila emang mau balik ke inggris mih” balas eila
“kita bicarakan nanti di rumah saja” mami aira langsung mengakhiri panggilannya
Eila menatap ponselnya dengan menghela nafas panjang “untuk apa kamu pergi?” Tanya daren
“bukan urusanmu” balas eila membuang mukanya ke samping
Eila berjalan masuk menuju tendanya dan daren pun mengikutinya “jangan pergi eila” pinta daren
eila menatap tajam daren “ngapain kamu di sini” Tanya eila ketus
Daren langsung memeluk eila erat “jangan pergi, maafin aku” ucap daren terisak
Eila mendengar isakan daren “kau menangis” eila ingin melihat wajah daren tapi daren menahannya “jangan pergi, kau gak tahu seberapa khawatirnya aku mencarimu semalaman, aku sampai bolak balik puncak Jakarta dan balik lagi ke sini untuk
mencarimu” ucap daren menceritakan perjalanannya mencari eila
“kau menyetir sendirian?” Tanya eila
“iya” daren terus terisak dengan memeluk eila erat
Eila hanya menepuk punggung daren menangkan “aku hanya ingin cari udara segar saja, tapi lupa kalau poselku, dimatikan dan tertidur Karen terlalu ngantuk” ucap eila
“jangan pergi eila” pinta daren masih terisak
“aku kan sudah bilang, gak bisa hidup satu udara denganmu” balas eila
“ini kau bisa, dan kau masih hidup” balas daren
“daren! ” teriak eila kesal
daren menyandarkan wajahnya di ceruk leher eila “aku minta maaf eila, aku hanya terlalu takut memulai suatu hubungan, aku takut nanti kamu terluka” ucap daren lirih
Eila melonggarkan pelukannya “bagaimana bisa kau yakin akan menyakitiku padahal kita belum mememulainya?” Tanya eila
“aku hanya takut eila” balas daren
"apa kau mencintaiku? " tanya eila
"kau tentu tahu kalau aku mencintaimu dan hanya mencintai dirimu eila" balas daren
“cup” eila langsung menyambar benda kenyal di hadapannya “sekarang saja kau sudah
menyakitiku, jadi apa yang kau takutkan?” Tanya eila
mata daren membelalak lebar terkejut dengan apa yang dilakukan eila "kau" eila hanya terkekeh karena daren terkejut dengan kelakuannya
Daren langsung menyambar benda kenyal milik eila dengan rakusnya “eitss tunggu dulu” eila mengurai pangutannya
“ada apa?” Tanya daren bingung, matanya sudah diselubungi kabut gairah
Eila langsung menutup tendanya dan "ayo lanjut lagi" eila kembali ******* bibir daren dengan rakusnya